Penjelasan Hadits Muslim No. 1775 tentang Keteguhan Nabi dan pasukan Muslim dalam Perang Hunain

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menceritakan Perang Hunain, ketika sebagian pasukan Muslim sempat mundur karena kaget dengan serangan mendadak musuh. Namun Rasulullah ﷺ tetap maju ke arah musuh dengan menunggangi baghal putih, lalu memerintahkan Abbas bin Abdul Muththalib radhiyallahu 'anhu memanggil para sahabat yang berbai'at di bawah pohon Samurah. Mereka segera kembali dan bertempur, hingga akhirnya Allah memberi kemenangan kepada kaum Muslimin. Hadits ini mengajarkan keteguhan Nabi ﷺ, pentingnya kesabaran dalam peperangan, dan bahwa kemenangan datang dari pertolongan Allah.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang berkaitan dengan Perang Hunain:

QS. At-Taubah [9]: 25

وَلَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ فِي مَوَاطِنَ كَثِيرَةٍ ۙ وَيَوْمَ حُنَيْنٍ ۙ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنكُمْ شَيْئًا وَضَاقَتْ عَلَيْكُمُ الْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ ثُمَّ وَلَّيْتُم مُّدْبِرِينَ

Terjemahan: "Sungguh, Allah telah menolong kamu dalam banyak peperangan, dan pada hari Hunain, ketika jumlahmu yang banyak membuatmu bangga, tetapi tidak berguna sedikit pun bagimu, dan bumi yang luas menjadi sempit bagimu, kemudian kamu berpaling melarikan diri."

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab al-Jihad wa as-Siyar, Bab Perang Hunain, dari jalur Abbas bin Abdul Muththalib radhiyallahu 'anhu, melalui Ibnu Syihab az-Zuhri (seorang tabi'in yang termasuk dalam daftar ulama rujukan).

Kaitan dengan ulama:

  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa mundurnya sebagian sahabat di Hunain bukanlah kemunafikan, melainkan kekagetan manusiawi yang Allah sebutkan dalam Al-Qur'an sebagai pelajaran.
  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyebutkan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan Abbas bin Abdul Muththalib, kekuatan suaranya, dan keutamaan para sahabat yang berbai'at di bawah pohon (Bai'at Ridwan).
  • Ibnul Qayyim dalam Zadul Ma'ad menguraikan bahwa keteguhan Nabi ﷺ di Hunain adalah bukti kenabian dan keberanian beliau yang luar biasa.

Penjelasan Rinci

Konteks Perang Hunain:

Perang Hunain terjadi setelah Fathu Makkah (penaklukan Makkah), pada tahun 8 H. Suku Hawazin dan Tsaqif berkumpul dengan kekuatan besar untuk menyerang kaum Muslimin. Kaum Muslimin saat itu berjumlah sangat banyak — sekitar 12.000 orang — sehingga sebagian mereka merasa bangga dengan jumlah tersebut. Namun Allah mengingatkan dalam QS. At-Taubah [9]: 25 bahwa jumlah yang banyak tidak menjamin kemenangan.

Mundurnya Sebagian Pasukan:

Dalam hadits ini, Abbas radhiyallahu 'anhu menceritakan bahwa ketika pasukan Muslim bertemu musuh, sebagian mereka mundur. Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa mundurnya sebagian sahabat ini adalah ujian dari Allah, dan bukan berarti mereka lemah iman. Bahkan banyak sahabat utama tetap bertahan bersama Nabi ﷺ, seperti Abbas dan Abu Sufyan bin Harits.

Keteguhan Nabi ﷺ:

Yang sangat menonjol dalam hadits ini adalah keteguhan Rasulullah ﷺ. Beliau tidak mundur sedikit pun, bahkan memacu baghalnya ke arah musuh. Imam an-Nawawi menyebutkan bahwa ini menunjukkan keberanian Nabi ﷺ yang sempurna, dan bahwa beliau adalah orang yang paling berani dalam medan perang. Abbas memegang kekang baghal dan Abu Sufyan memegang sanggurdi untuk menahan agar baghal tidak terlalu cepat — ini menunjukkan kecintaan mereka kepada Nabi ﷺ dan kekhawatiran mereka akan keselamatan beliau.

Panggilan "Ashhab as-Samurah":

Nabi ﷺ memerintahkan Abbas memanggil "Ashhab as-Samurah" — yaitu para sahabat yang berbai'at di bawah pohon Samurah (Bai'at Ridwan). Ibnu Hajar menjelaskan bahwa ini adalah strategi cerdas: mengingatkan mereka akan bai'at dan janji setia mereka kepada Allah dan Rasul-Nya. Ketika mereka mendengar panggilan itu, mereka segera kembali seperti sapi yang kembali kepada anaknya — sebuah perumpamaan yang menunjukkan kecintaan dan ketaatan mereka yang mendalam.

Panggilan kepada Ansar:

Kemudian panggilan diarahkan kepada Ansar, lalu khusus kepada Bani Harits bin Khazraj. Ibnu Hajar menyebutkan bahwa ini menunjukkan keutamaan Ansar dan pentingnya peran mereka dalam peperangan. Mereka adalah tiang utama pasukan Muslimin saat itu.

Lemparan Kerikil dan Kemenangan:

Nabi ﷺ mengambil kerikil dan melemparkannya ke wajah musuh, lalu berkata: "Demi Tuhan Muhammad, mereka telah kalah." Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa ini adalah mukjizat Nabi ﷺ — Allah menanamkan rasa takut di hati musuh melalui lemparan kerikil tersebut. Abbas berkata bahwa setelah itu, kekuatan musuh melemah dan mereka mulai mundur.

Pelajaran tentang Tawakkal dan Usaha:

Hadits ini mengajarkan keseimbangan antara usaha (mengatur strategi, memanggil pasukan, bertempur) dan tawakkal kepada Allah. Nabi ﷺ melakukan segala upaya, namun kemenangan tetap datang dari Allah. Syaikh Abdurrahman as-Sa'di dalam tafsirnya menekankan bahwa pertolongan Allah datang setelah hamba melakukan usaha maksimal dan bersandar kepada-Nya.

Story Telling

Kisah Keteguhan di Hunain:

Bayangkanlah medan Hunain saat itu. Debu beterbangan, suara kuda meringkik, dan panah melesat dari segala arah. Pasukan Hawazin menyerang dengan tiba-tiba dari lembah, membuat sebagian pasukan Muslim kaget dan mundur. Suasana kacau.

Di tengah kekacauan itu, ada satu sosok yang tidak bergerak mundur sedikit pun: Rasulullah ﷺ. Beliau menunggangi baghal putih pemberian Farwa bin Nufatsah, memacu ke arah musuh. Abbas bin Abdul Muththalib — seorang pria dengan suara yang sangat keras — memegang kekang baghal itu, berusaha menahan agar tidak terlalu cepat. Abu Sufyan bin Harits memegang sanggurdi. Keduanya adalah orang-orang yang mencintai Nabi ﷺ lebih dari diri mereka sendiri.

Nabi ﷺ bersabda: "Wahai Abbas, panggil Ashhab as-Samurah!"

Abbas pun berteriak dengan suara lantang: "Di mana orang-orang Samurah?"

Demi Allah, seketika itu juga, seperti sapi yang mendengar panggilan anaknya, para sahabat yang berbai'at di bawah pohon itu berbalik dan menyerbu musuh. "Labbaik! Labbaik!" — "Kami datang! Kami datang!"

Kemudian panggilan ditujukan kepada Ansar, lalu kepada Bani Harits bin Khazraj. Mereka semua datang dan bertempur dengan gagah berani.

Nabi ﷺ melihat pertempuran itu dengan penuh perhatian, lalu bersabda: "Inilah saatnya pertempuran memanas."

Beliau mengambil kerikil, melemparkannya ke arah musuh, dan bersabda: "Demi Tuhan Muhammad, mereka telah kalah!"

Abbas berkata: "Aku melihat sendiri, setelah lemparan itu, kekuatan musuh melemah dan mereka mulai mundur."

Hikmah: Keteguhan seorang pemimpin, kecintaan para pengikut, dan pertolongan Allah yang datang di saat kritis — inilah pelajaran dari Hunain. Ibnul Qayyim menyebutkan bahwa peristiwa ini adalah salah satu bukti kenabian Muhammad ﷺ yang paling jelas.

Kesimpulan Praktis

  1. Keteguhan dalam menghadapi ujian: Seperti Nabi ﷺ yang tidak mundur di Hunain, kita harus teguh dalam menghadapi kesulitan, terutama dalam menjaga agama.
  2. Pentingnya mengingatkan janji setia: Panggilan "Ashhab as-Samurah" mengingatkan kita akan pentingnya menepati janji kepada Allah dan Rasul-Nya.
  3. Kecintaan kepada Nabi ﷺ: Abbas dan Abu Sufyan bin Harits menunjukkan contoh kecintaan dan pengorbanan untuk melindungi Nabi ﷺ.
  4. Kemenangan dari Allah: Usaha maksimal harus diiringi tawakkal. Kemenangan datang dari Allah, bukan dari jumlah atau kekuatan semata.
  5. Keutamaan Ansar: Hadits ini menunjukkan keutamaan Ansar dan pentingnya persatuan dalam barisan Muslimin.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?