Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Muslim No. 1774 tentang Nabi mengirim surat dakwah kepada para raja

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menceritakan bahwa Nabi ﷺ menulis surat dakwah kepada para raja dan penguasa besar di zamannya, yaitu Kisra (Raja Persia), Kaisar (Raja Romawi), dan Najasyi (Raja Habasyah), serta kepada setiap penguasa yang sombong (jabbar). Ini menunjukkan bahwa dakwah Islam tidak hanya untuk orang biasa, tetapi juga harus disampaikan kepada para pemimpin. Hadits ini juga menjelaskan bahwa Najasyi yang disebut di sini bukanlah Najasyi (Ashhamah) yang beriman dan ikut didoakan oleh Nabi ﷺ, melainkan penguasa Habasyah yang lain.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Muslim:

Teks hadits yang Anda sebutkan adalah riwayat dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu. Imam Muslim meriwayatkannya dalam Shahih Muslim, Kitab Al-Jihad wa As-Siyar, Bab "Kitab An-Nabi ﷺ ila Muluk al-Kuffar" (Bab Surat Nabi ﷺ kepada Raja-raja Kafir).

Dalil pendukung dari Al-Qur'an:

Allah Ta'ala berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا وَدَاعِيًا إِلَى اللَّهِ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيرًا

"Wahai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu sebagai saksi, pembawa kabar gembira, dan pemberi peringatan, serta sebagai penyeru kepada agama Allah dengan izin-Nya dan sebagai cahaya yang menerangi." (QS. Al-Ahzab [33]: 45-46)

Ayat ini menunjukkan bahwa tugas Nabi ﷺ adalah menyeru seluruh manusia kepada Allah, termasuk para pemimpin dan penguasa.

Kaitan dengan Ulama:

  • Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan disunnahkannya menulis surat dakwah kepada para penguasa dan pemimpin kafir untuk mengajak mereka masuk Islam. Ini adalah bagian dari metode dakwah Nabi ﷺ yang mencakup semua lapisan masyarakat.
  • Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari (saat membahas hadits serupa dalam Shahih Al-Bukhari) menjelaskan bahwa Nabi ﷺ mengirim surat kepada para raja setelah Perjanjian Hudaibiyah, sebagai bentuk penyampaian dakwah secara luas.

Penjelasan Rinci

Hadits ini memiliki beberapa faedah penting:

1. Dakwah kepada Para Pemimpin adalah Bagian dari Sunnah

Nabi ﷺ tidak hanya berdakwah kepada orang-orang biasa, tetapi juga menulis surat kepada para penguasa besar dunia saat itu. Ini menunjukkan bahwa Islam memperhatikan dakwah kepada pemimpin, karena hidayah seorang pemimpin bisa membawa kebaikan yang lebih luas bagi rakyatnya.

2. Kisra, Kaisar, dan Najasyi

  • Kisra adalah gelar bagi Raja Persia (Kisra Abrawiz, putra Hurmuz). Ia adalah penguasa Majusi yang sombong. Ketika surat Nabi ﷺ sampai kepadanya, ia merobek surat tersebut dengan kasar. Nabi ﷺ pun mendoakan agar kerajaannya hancur, dan memang itulah yang terjadi.
  • Kaisar adalah gelar bagi Raja Romawi (Hiraklius/Heraclius). Ia menyambut surat Nabi ﷺ dengan lebih baik. Ia bertanya kepada Abu Sufyan tentang sifat-sifat Nabi ﷺ, dan setelah mendengar penjelasannya, ia mengakui bahwa ini adalah seorang nabi sejati. Namun, ia tidak beriman karena takut kehilangan kekuasaan.
  • Najasyi (Ashhamah) adalah Raja Habasyah. Ia adalah raja yang adil dan beriman kepada Islam. Ketika surat Nabi ﷺ sampai kepadanya, ia masuk Islam. Dialah yang menerima kaum muslimin yang berhijrah ke Habasyah. Namun, hadits ini menjelaskan bahwa Najasyi yang disebut dalam surat Nabi ﷺ ini bukanlah Najasyi yang shalat ghaib (disalatkan) oleh Nabi ﷺ ketika wafat. Ada perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang hal ini.

3. Makna "Kulli Jabbar" (Setiap Penguasa yang Sombong)

Kata jabbar di sini bermakna penguasa yang memiliki kekuasaan dan keangkuhan. Ini menunjukkan bahwa dakwah Nabi ﷺ menjangkau semua penguasa, baik yang tawadhu' maupun yang sombong.

4. Hikmah dari Perbedaan Najasyi

Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa ada dua Najasyi yang memerintah Habasyah pada masa Nabi ﷺ. Yang pertama adalah Najasyi yang beriman dan wafat pada tahun 9 H, yang dishalatkan oleh Nabi ﷺ secara ghaib. Sedangkan yang kedua adalah Najasyi yang lain, yang mungkin saja belum beriman atau tidak disebutkan keimanannya. Ini menunjukkan ketelitian para perawi dalam menyampaikan hadits.

5. Metode Dakwah yang Bijaksana

Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan bahwa pengiriman surat kepada para raja dilakukan setelah Perjanjian Hudaibiyah, ketika keadaan sudah aman dan dakwah bisa disampaikan secara lebih luas. Ini menunjukkan pentingnya memilih waktu dan strategi yang tepat dalam berdakwah.

Story Telling

Ada kisah menarik tentang surat Nabi ﷺ kepada Kaisar Romawi (Hiraklius). Ketika surat itu sampai, Hiraklius sedang berada di Syam. Ia ingin memastikan kebenaran klaim kenabian Muhammad ﷺ. Ia bertanya kepada Abu Sufyan yang saat itu masih musyrik, tentang nasab, pengikut, dan sifat-sifat Nabi ﷺ. Setelah mendengar jawaban Abu Sufyan, Hiraklius berkata:

"Jika apa yang engkau katakan itu benar, maka ia akan menguasai tempat di mana kedua telapak kakiku ini berpijak. Seandainya aku tahu aku akan menemuinya, sungguh aku akan berjalan menemuinya. Dan seandainya aku di sisinya, niscaya aku akan membasuh kedua telapak kakinya."

Namun, Hiraklius tidak beriman karena takut kehilangan kerajaannya. Ia mengumpulkan para pembesar Romawi dan mengajak mereka masuk Islam, tetapi mereka marah dan menolak. Hiraklius pun mundur dari niatnya karena takut kehilangan kekuasaan. (HR. Al-Bukhari, dari Ibnu Abbas)

Hikmah: Hidayah adalah milik Allah. Seorang pemimpin bisa saja mengakui kebenaran, tetapi hawa nafsu dan ketakutan kehilangan kekuasaan bisa menghalanginya dari iman. Kita harus berdoa agar Allah memberi kita keteguhan hati dalam kebenaran.

Kesimpulan Praktis

  1. Dakwah kepada pemimpin adalah sunnah Nabi ﷺ — kita boleh dan dianjurkan menyampaikan kebaikan kepada para pemimpin dengan cara yang baik dan bijaksana.
  2. Dakwah harus menjangkau semua kalangan — dari rakyat biasa hingga penguasa, tanpa membeda-bedakan.
  3. Ketelitian dalam ilmu hadits — para ulama seperti Imam Muslim dan perawi lainnya sangat teliti dalam membedakan antara satu tokoh dengan tokoh lain yang memiliki nama sama.
  4. Jangan takut menyampaikan kebenaran — meskipun kepada penguasa yang sombong, karena Nabi ﷺ tetap mengirim surat kepada Kisra yang dikenal angkuh.
  5. Hidayah adalah hak prerogatif Allah — kita hanya berkewajiban menyampaikan, sedangkan hasilnya kita serahkan kepada Allah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.