Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits riwayat Muslim ini menjelaskan bahwa Nabi Muhammad ﷺ melihat Allah Ta'ala pada malam Isra' dengan hatinya (secara batin), bukan dengan mata kepalanya secara fisik. Ini adalah pendapat yang dipilih oleh Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu dan diikuti oleh banyak ulama salaf. Perbedaan pandangan tentang apakah Nabi ﷺ melihat Allah dengan mata kepala atau dengan hati adalah masalah yang telah dibahas sejak masa sahabat, dan pendapat yang lebih kuat adalah bahwa beliau melihat-Nya dengan hatinya, bukan dengan penglihatan mata duniawi.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang Relevan:
QS. An-Najm [53]: 13-18
وَلَقَدْ رَآهُ نَزْلَةً أُخْرَىٰ (13) عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهَىٰ (14) عِنْدَهَا جَنَّةُ الْمَأْوَىٰ (15) إِذْ يَغْشَى السِّدْرَةَ مَا يَغْشَىٰ (16) مَا زَاغَ الْبَصَرُ وَمَا طَغَىٰ (17) لَقَدْ رَأَىٰ مِنْ آيَاتِ رَبِّهِ الْكُبْرَىٰ (18)
Terjemahan: "Dan sungguh, ia (Muhammad) telah melihatnya (Jibril) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratul Muntaha, di dekatnya ada surga tempat tinggal, (Muhammad) melihat Jibril dalam rupanya yang asli, ketika Sidratul Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya, penglihatannya tidak menyimpang dan tidak melampaui batas. Sungguh, ia telah melihat sebagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar."
Hadits Terkait:
Hadits riwayat Muslim no. 176 dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu:
Teks Arab: حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، حَدَّثَنَا حَفْصٌ، عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ، عَنْ عَطَاءٍ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ رَآهُ بِقَلْبِهِ
Terjemahan: "Dari Ibnu Abbas, ia berkata: 'Nabi melihat Tuhannya dengan hatinya.'"
Kaitan dengan Ulama:
Imam an-Nawawi rahimahullah dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan perbedaan pendapat di kalangan sahabat dan tabi'in. Beliau menyebutkan bahwa Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu berpendapat Nabi ﷺ melihat Allah dengan hatinya, sementara Aisyah radhiyallahu 'anha menolak bahwa Nabi ﷺ melihat Allah dengan mata kepalanya. Imam an-Nawawi cenderung kepada pendapat yang mengatakan bahwa yang dilihat Nabi ﷺ adalah Jibril dalam rupanya yang asli, bukan Allah Ta'ala secara langsung.
Penjelasan Rinci
Hadits ini termasuk dalam pembahasan besar tentang apakah Nabi Muhammad ﷺ melihat Allah Ta'ala pada malam Isra' Mi'raj. Para ulama dari kalangan sahabat dan tabi'in berbeda pendapat dalam masalah ini:
Pendapat Pertama: Nabi ﷺ melihat Allah dengan hatinya (secara batin)
Ini adalah pendapat Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu sebagaimana dalam hadits di atas. Beliau memahami firman Allah "وَلَقَدْ رَآهُ نَزْلَةً أُخْرَىٰ" (Dan sungguh, ia telah melihatnya pada waktu yang lain) sebagai penglihatan hati, bukan penglihatan mata. Pendapat ini didukung oleh:
- Al-Hasan al-Bashri rahimahullah yang berkata, "Nabi ﷺ melihat Tuhannya dengan hatinya."
- Mujahid bin Jabr rahimahullah menafsirkan bahwa yang dimaksud adalah penglihatan batin.
- Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah dalam salah satu riwayat mengatakan bahwa Nabi ﷺ melihat Allah dengan hatinya.
Pendapat Kedua: Nabi ﷺ tidak melihat Allah sama sekali
Ini adalah pendapat Aisyah radhiyallahu 'anha yang diriwayatkan dalam Shahih Muslim (no. 177) bahwa beliau berkata, "Barangsiapa mengaku bahwa Muhammad melihat Tuhannya, maka ia telah berdusta." Beliau berdalil dengan firman Allah: "لَا تُدْرِكُهُ الْأَبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ الْأَبْصَارَ" (Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu) [QS. Al-An'am: 103]. Pendapat ini juga diikuti oleh:
- Masruq bin al-Ajda' (tabi'in)
- Imam Abu Hanifah rahimahullah
- Sebagian ulama Kufah
Pendapat Ketiga: Nabi ﷺ melihat Allah dengan mata kepalanya
Ini adalah pendapat yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas dalam riwayat lain, juga dari Abu Dzar al-Ghifari radhiyallahu 'anhu. Namun, pendapat ini lebih lemah karena bertentangan dengan dalil-dalil yang lebih kuat.
Pendapat yang Paling Kuat:
Setelah meneliti dalil-dalil dari Al-Qur'an dan hadits, pendapat yang paling kuat adalah bahwa Nabi ﷺ melihat Allah dengan hatinya, bukan dengan mata kepalanya. Hal ini berdasarkan:
- Firman Allah "لَا تُدْرِكُهُ الْأَبْصَارُ" yang bersifat umum mencakup semua makhluk termasuk Nabi ﷺ di dunia.
- Hadits Aisyah yang shahih dan lebih tegas.
- Penjelasan Ibnu Abbas dalam hadits ini yang secara spesifik mengatakan "dengan hatinya."
Imam Ibn Katsir rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan "رَآهُ" dalam QS. An-Najm adalah Jibril 'alaihis salam, bukan Allah Ta'ala. Beliau mengatakan, "Ini adalah pendapat yang benar menurut kebanyakan ulama."
Syeikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah juga menjelaskan bahwa Nabi ﷺ tidak melihat Allah dengan mata kepalanya di dunia, tetapi beliau akan melihat-Nya di akhirat kelak sebagai kenikmatan terbesar bagi penghuni surga.
Story Telling
Diriwayatkan dari Masruq bin al-Ajda' rahimahullah, ia berkata: "Aku pernah duduk di majelis Aisyah radhiyallahu 'anha, lalu aku bertanya: 'Wahai Ummul Mukminin, apakah Muhammad melihat Tuhannya?' Maka Aisyah pun menjawab: 'Sungguh, aku heran dengan pertanyaanmu itu. Tidakkah engkau mendengar firman Allah: "لَا تُدْرِكُهُ الْأَبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ الْأَبْصَارَ" (Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata)?' Kemudian Masruq berkata: 'Wahai Ummul Mukminin, bukankah Allah berfirman: "وَلَقَدْ رَآهُ نَزْلَةً أُخْرَىٰ" (Dan sungguh, ia telah melihatnya pada waktu yang lain)?' Maka Aisyah menjawab: 'Aku adalah orang yang pertama kali bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang ayat ini, dan beliau bersabda: "Itu adalah Jibril, aku tidak pernah melihatnya dalam rupanya yang asli kecuali dua kali."'" (HR. Muslim no. 177)
Kisah ini mengajarkan kita adab dalam bertanya dan pentingnya merujuk kepada para sahabat yang lebih mengetahui. Aisyah radhiyallahu 'anha dengan lembut meluruskan pemahaman Masruq dengan dalil Al-Qur'an dan penjelasan langsung dari Nabi ﷺ.
Kesimpulan Praktis
- Yakinlah bahwa Allah Maha Suci dan tidak dapat dilihat dengan mata di dunia, termasuk oleh para nabi sekalipun. Penglihatan terhadap Allah hanya akan terjadi di akhirat bagi orang-orang beriman.
- Hormati perbedaan pendapat ulama dalam masalah ini, namun berpeganglah pada pendapat yang lebih kuat berdasarkan dalil, yaitu bahwa Nabi ﷺ melihat Allah dengan hatinya, bukan dengan mata kepalanya.
- Jangan memperdebatkan masalah ini secara berlebihan, karena termasuk perkara ghaib yang tidak wajib kita ketahui secara detail. Fokuslah pada ibadah dan ketaatan kepada Allah.
- Ambil pelajaran dari kisah Aisyah dan Masruq: Jika ada pertanyaan tentang agama, kembalikan kepada Al-Qur'an dan hadits, serta tanyakan kepada ulama yang terpercaya.
- Perbanyak doa agar Allah menganugerahkan kita kenikmatan melihat wajah-Nya di surga kelak, sebagaimana doa yang diajarkan Nabi ﷺ: "Allahumma inni as'aluka ladzdzatan nazhari ila wajhika" (Ya Allah, aku memohon kepada-Mu kenikmatan melihat wajah-Mu).
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.