Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan "melihat" dalam firman Allah pada QS. An-Najm [53]: 13 adalah melihat Malaikat Jibril ‘alaihis salam. Ini adalah penafsiran dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Imam Muslim. Jadi, ayat tersebut tidak bermakna bahwa Nabi ﷺ melihat Allah secara langsung, melainkan beliau melihat Jibril dalam bentuk aslinya.
Rujukan Ulama & Dalil
1. Ayat Al-Qur'an:
Firman Allah Ta'ala:
وَلَقَدْ رَآهُ نَزْلَةً أُخْرَىٰ
"Dan sungguh, dia (Muhammad) telah melihatnya (Jibril) pada waktu yang lain."
(QS. An-Najm [53]: 13)
2. Hadits Riwayat Imam Muslim:
Hadits yang disebutkan dalam pertanyaan diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Al-Iman, Bab: Makna Firman Allah 'Azza wa Jalla: "Dan sungguh dia telah melihatnya dalam penurunan yang lain", nomor hadits 175.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, tentang firman Allah: { وَلَقَدْ رَآهُ نَزْلَةً أُخْرَى } , beliau berkata: "Dia (Nabi ﷺ) melihat Jibril."
3. Kaitan dengan Ulama:
Penafsiran ini juga dikuatkan oleh perkataan para ulama ahli tafsir. Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir-nya menjelaskan bahwa pendapat yang benar mengenai ayat ini adalah bahwa Nabi ﷺ melihat Jibril ‘alaihis salam dalam bentuk aslinya sebanyak dua kali: sekali di bumi dan sekali di langit. Ini adalah pendapat yang dipilih oleh banyak ulama, di antaranya dari kalangan sahabat dan tabi'in.
Penjelasan Rinci
Para ulama berbeda pendapat mengenai makna "melihat" dalam QS. An-Najm ayat 13 ini. Namun, hadits dari Abu Hurairah ini menjadi salah satu dalil utama yang menjelaskan bahwa yang dilihat adalah Jibril.
Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini adalah penafsiran dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Beliau menegaskan bahwa makna yang benar menurut mayoritas ulama Ahlus Sunnah adalah bahwa Nabi ﷺ melihat Jibril dalam bentuk aslinya. Adapun pendapat yang mengatakan bahwa Nabi ﷺ melihat Allah Ta'ala dengan mata kepalanya di dunia adalah pendapat yang keliru dan menyelisihi ijma' (kesepakatan) ulama.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam berbagai kitabnya menjelaskan bahwa tidak ada seorang pun di dunia ini yang dapat melihat Allah dengan mata kepalanya. Hal ini berdasarkan firman Allah kepada Nabi Musa ‘alaihis salam:
لَنْ تَرَانِي
"Kamu sekali-kali tidak akan sanggup melihat-Ku."
(QS. Al-A'raf [7]: 143)
Maka, penafsiran yang benar adalah bahwa yang dilihat oleh Nabi ﷺ pada saat itu adalah Malaikat Jibril.
Syaikh Abdurrahman As-Sa'di dalam Tafsir-nya juga menjelaskan bahwa ayat ini berbicara tentang perjalanan Isra' Mi'raj, di mana Nabi ﷺ melihat Jibril dalam bentuk aslinya yang memiliki 600 sayap. Ini menunjukkan keagungan Jibril dan kedudukan Nabi ﷺ yang diperlihatkan kepadanya makhluk Allah yang agung.
Perlu dipahami bahwa hadits ini adalah tafsir dari sahabat, dan kedudukan penafsiran sahabat sangat tinggi karena mereka menyaksikan langsung turunnya wahyu dan memahami konteks ayat. Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan banyak penafsiran sahabat yang menjadi penjelas bagi ayat-ayat Al-Qur'an.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa ketika ayat ini turun, para sahabat bertanya-tanya tentang maknanya. Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, yang dikenal sebagai sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits, menjelaskan dengan tegas bahwa yang dimaksud adalah Jibril.
Kisah ini mengingatkan kita pada ketelitian para sahabat dalam memahami Al-Qur'an. Mereka tidak menafsirkan ayat dengan akal mereka semata, tetapi bertanya kepada Nabi ﷺ dan saling bertukar pemahaman. Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu menghabiskan waktunya bersama Nabi ﷺ dan sangat perhatian dalam menghafal serta memahami wahyu.
Hikmah yang bisa diambil adalah pentingnya merujuk kepada pemahaman para sahabat dalam menafsirkan Al-Qur'an, karena mereka adalah generasi terbaik yang menyaksikan langsung turunnya wahyu.
Kesimpulan Praktis
- Ayat QS. An-Najm [53]: 13 bermakna bahwa Nabi ﷺ melihat Malaikat Jibril dalam bentuk aslinya, bukan melihat Allah Ta'ala.
- Penafsiran sahabat memiliki kedudukan tinggi dalam memahami Al-Qur'an, sebagaimana yang dilakukan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.
- Kita harus berhati-hati dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Qur'an dan tidak boleh memaksakan makna yang bertentangan dengan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.
- Peristiwa melihat Jibril dalam bentuk aslinya menunjukkan keagungan makhluk Allah dan kemuliaan Nabi Muhammad ﷺ.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.