Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Muslim No. 1742 tentang Larangan menginginkan perang dan perintah bersabar saat berhadapan musuh

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan dua hal penting: pertama, kita dilarang berangan-angan atau menantang-nantang bertemu musuh, karena itu bisa menjadi bentuk kesombongan dan meremehkan bahaya; sebaliknya kita diperintahkan untuk memohon keselamatan (al-‘afiyah) kepada Allah. Kedua, jika pertemuan dengan musuh sudah terjadi dan tidak bisa dihindari, maka kita wajib bersabar dan teguh, serta yakin bahwa surga berada di bawah naungan pedang (yaitu surga diraih dengan kesabaran dan perjuangan di jalan Allah). Ini adalah bimbingan Nabi ﷺ yang menggabungkan antara tawakal, doa, dan usaha maksimal.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Al-Jihad wa As-Siyar, Bab Karahiyat Tamanni Liqa' Al-'Aduww wa Al-Amr bi Ash-Shabr 'Inda Al-Liqa' (no. 1742), dari sahabat Abdullah bin Abi Aufa radhiyallahu 'anhu.

Selain itu, hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya (no. 2966) dan Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya (no. 2608) dengan lafaz yang semakna.

Ayat Al-Qur'an yang relevan:

Allah Ta'ala berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اصْبِرُوْا وَصَابِرُوْا وَرَابِطُوْاۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ

"Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah kamu, kuatkanlah kesabaranmu, dan bersiapsiagalah (di perbatasan), serta bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung." (QS. Ali 'Imran [3]: 200)

Ayat ini memerintahkan kesabaran dan kesiapan dalam menghadapi musuh, yang sejalan dengan isi hadits di atas.

Hadits terkait lainnya:

Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, Nabi ﷺ bersabda:

لَا تُمَنُّوا لِقَاءَ الْعَدُوِّ، وَسَلُوا اللهَ الْعَافِيَةَ

"Janganlah kalian berangan-angan bertemu musuh, dan mohonlah keselamatan kepada Allah." (HR. Al-Bukhari no. 2966 dan Muslim no. 1741)

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan beberapa faedah penting dari hadits ini:

1. Larangan Tamanni (berangan-angan) Bertemu Musuh

Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim (12/51) menjelaskan bahwa larangan ini adalah karahah tanzih (makruh, bukan haram). Maksudnya, seorang muslim tidak boleh berharap-harap atau menantang-nantang bertemu musuh dalam peperangan. Alasannya:

  • Hal itu bisa menjadi tanda kesombongan dan merasa kuat sendiri, padahal kemenangan hanya dari Allah.
  • Bisa menjerumuskan pada bahaya yang tidak perlu.
  • Yang diperintahkan adalah memohon keselamatan (al-'afiyah) dan tetap berusaha serta bersiap.

Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari (6/146) menambahkan bahwa larangan ini juga mengandung hikmah agar hati seorang mukmin selalu bergantung kepada Allah, bukan kepada kekuatan dirinya. Beliau menukil perkataan para ulama bahwa tamanni (berangan-angan) bisa melemahkan tawakal.

2. Perintah Bersabar Saat Bertemu Musuh

Ketika pertemuan dengan musuh sudah terjadi, maka perintahnya berubah: wajib bersabar dan teguh. Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam Jami' Al-'Ulum wa Al-Hikam (1/456) menjelaskan bahwa kesabaran di medan perang adalah puncak kesabaran, karena di sana jiwa sedang berada dalam kondisi paling genting. Beliau mengutip perkataan Al-Hasan Al-Bashri: "Sabar itu ada dua macam: sabar dalam musibah dan sabar dalam ketaatan. Dan sabar yang paling utama adalah sabar dalam menaati perintah Allah ketika berhadapan dengan musuh."

3. Makna "Surga di Bawah Naungan Pedang"

Ungkapan ini adalah kalimat majaz (kiasan) yang sangat dalam. Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani menjelaskan bahwa maknanya adalah: surga itu diraih dengan berperang di jalan Allah. Artinya, orang yang berjuang dengan pedang (senjata) di jalan Allah, bersabar, dan tidak lari dari medan perang, maka surga menjadi balasannya. Ini adalah dorongan untuk berani dan teguh, bukan ajakan untuk bunuh diri atau nekat tanpa perhitungan.

Syeikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarh Riyadh Ash-Shalihin (3/271) menegaskan bahwa ungkapan ini adalah kabar gembira bagi para pejuang, bahwa kematian di medan jihad adalah syahadah (kesaksian) yang mengantarkan pada surga. Namun beliau juga mengingatkan bahwa ini tidak berarti seseorang boleh gegabah; tetap harus ada persiapan dan strategi.

4. Doa Nabi ﷺ Setelah Khutbah

Setelah memberikan nasihat, Nabi ﷺ berdoa:

اللَّهُمَّ مُنْزِلَ الْكِتَابِ وَمُجْرِيَ السَّحَابِ وَهَازِمَ الأَحْزَابِ اهْزِمْهُمْ وَانْصُرْنَا عَلَيْهِمْ

"Ya Allah, Penurun Kitab, Penggerak Awan, Pengalah pasukan-pasukan (musuh), kalahkanlah mereka dan tolonglah kami atas mereka."

Doa ini menunjukkan bahwa setelah berusaha dan bersabar, kita tetap memohon pertolongan Allah. Imam Ibnul Qayyim dalam Zad Al-Ma'ad (3/466) menjelaskan bahwa doa ini adalah contoh tawassul (berdoa dengan menyebut sifat-sifat Allah yang sesuai dengan kebutuhan). Ketika berhadapan dengan musuh, Nabi ﷺ menyebut sifat Allah sebagai Munzil Al-Kitab (yang menurunkan kitab sebagai petunjuk), Mujri As-Sahab (yang menggerakkan awan sebagai tanda kekuasaan-Nya), dan Hazim Al-Ahzab (yang menghancurkan pasukan sekutu pada Perang Khandaq). Ini adalah pelajaran bahwa doa yang paling baik adalah yang disertai pengakuan atas kekuasaan Allah.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa pada Perang Khandaq (Ahzab), kaum muslimin dikepung oleh pasukan sekutu yang sangat besar. Saat itu kondisi sangat sulit, rasa takut dan lapar melanda para sahabat. Namun Nabi ﷺ tetap tenang dan berdoa dengan doa yang sama:

اللَّهُمَّ مُنْزِلَ الْكِتَابِ وَمُجْرِيَ السَّحَابِ وَهَازِمَ الأَحْزَابِ اهْزِمْهُمْ وَانْصُرْنَا عَلَيْهِمْ

Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Al-Ishabah menyebutkan bahwa doa ini adalah doa yang sering diucapkan Nabi ﷺ saat menghadapi musuh. Dan Allah mengabulkannya dengan mengirimkan angin kencang dan pasukan malaikat yang membuat pasukan sekutu kocar-kacir dan mundur dengan kekalahan telak. Ini menunjukkan bahwa doa, kesabaran, dan usaha adalah satu paket yang tidak bisa dipisahkan dalam ajaran Islam.

Kesimpulan Praktis

  1. Jangan menantang-nantang musuh atau bahaya — baik dalam peperangan maupun dalam kehidupan sehari-hari. Mohonlah keselamatan kepada Allah.
  2. Jika ujian atau pertemuan dengan musuh sudah terjadi, maka wajib bersabar, teguh, dan tidak lari dari tanggung jawab.
  3. Surga diraih dengan kesabaran dan perjuangan — bukan dengan kemalasan atau sekadar berangan-angan.
  4. Perbanyak doa dengan menyebut sifat-sifat Allah yang sesuai dengan kebutuhan kita, sebagaimana Nabi ﷺ mengajarkan.
  5. Gabungkan antara usaha, doa, dan tawakal — jangan hanya mengandalkan satu sisi saja.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi