Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah pedoman agung dari Nabi ﷺ bagi para dai, pemimpin, dan setiap muslim dalam berdakwah dan berinteraksi. Intinya adalah perintah untuk selalu memudahkan urusan agama bagi orang lain, memberi kabar gembira, bersatu padu, serta larangan keras untuk menyulitkan, membuat orang lari dari agama, dan berselisih. Ini adalah prinsip dasar akhlak Islam dalam menyampaikan kebenaran.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Muslim
Teks hadits yang mulia:
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، عَنْ شُعْبَةَ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي بُرْدَةَ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ جَدِّهِ، أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ بَعَثَهُ وَمُعَاذًا إِلَى الْيَمَنِ فَقَالَ " يَسِّرَا وَلاَ تُعَسِّرَا وَبَشِّرَا وَلاَ تُنَفِّرَا وَتَطَاوَعَا وَلاَ تَخْتَلِفَا " .
Artinya: "Dari Abu Burdah, dari ayahnya (Abu Musa al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu), bahwa Nabi ﷺ mengutusnya dan Mu'adz bin Jabal radhiyallahu 'anhuma ke Yaman, lalu beliau bersabda: "Permudahlah dan jangan mempersulit, berilah kabar gembira dan jangan membuat orang lari (dari agama), dan bersatu padulah serta jangan berselisih." (HR. Muslim no. 1733)
Penjelasan Ulama dari Daftar Rujukan:
- Imam an-Nawawi dalam kitabnya Syarh Shahih Muslim (12/119) menjelaskan bahwa hadits ini adalah kaidah agung dalam dakwah dan muamalah. Beliau berkata, "Dalam hadits ini terdapat perintah untuk memudahkan dalam segala hal, baik dalam urusan dakwah, pengajaran, fatwa, dan lainnya. Juga perintah untuk memberi kabar gembira dengan pahala dan ampunan, serta larangan membuat orang lari dari agama dengan sikap keras dan menakut-nakuti."
- Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah dalam Syarh Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa "memudahkan" di sini adalah dalam perkara yang tidak bertentangan dengan syariat. Adapun dalam perkara yang diwajibkan Allah, maka kita tidak boleh memudahkannya dengan menggugurkan kewajiban. Namun, cara penyampaiannya tetap harus dengan hikmah dan lemah lembut.
- Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di rahimahullah dalam Bahjatul Qulub al-Abrar (hal. 57) mengatakan bahwa hadits ini mengandung perintah untuk menempuh jalan yang paling mudah dan paling dekat untuk mendekatkan manusia kepada kebaikan, serta menjauhi segala bentuk kekerasan dan sikap yang membuat mereka menjauh.
Penjelasan Rinci
Hadits ini adalah wasiat Nabi ﷺ yang sangat berharga kepada dua sahabat mulia yang diutus sebagai dai dan qadhi (hakim) ke Yaman. Isinya adalah prinsip-prinsip dasar yang harus dipegang oleh setiap orang yang mengajak kepada kebaikan.
- يَسِّرَا وَلاَ تُعَسِّرَا (Permudahlah dan jangan mempersulit)
Ini adalah perintah untuk bersikap fleksibel dan tidak kaku dalam menyampaikan ajaran agama. Para ulama seperti Imam Ahmad bin Hanbal dan Sufyan ats-Tsauri sangat menekankan prinsip ini. Artinya, dalam berfatwa, mengajar, atau memutuskan perkara, hendaknya memilih pendapat yang paling ringan selama tidak keluar dari dalil. Jangan membebani manusia dengan hal-hal yang tidak diwajibkan Allah atau mempersulit mereka dalam hal yang sudah Allah mudahkan.
- وَبَشِّرَا وَلاَ تُنَفِّرَا (Berilah kabar gembira dan jangan membuat orang lari)
Dakwah harus disampaikan dengan penuh optimisme dan harapan kepada rahmat Allah. Kabar gembira tentang pahala, ampunan, dan surga harus lebih dominan daripada ancaman. Al-Hasan al-Bashri rahimahullah sering menasihati para juru dakwah agar tidak hanya fokus pada hal-hal yang menakutkan, karena hal itu bisa membuat manusia lari dari agama. Tujuannya adalah menarik hati manusia, bukan membuat mereka benci dan menjauh.
- وَتَطَاوَعَا وَلاَ تَخْتَلِفَا (Bersatu padulah dan jangan berselisih)
Ini adalah perintah untuk menjaga persatuan dan kesatuan di antara para dai dan umat. Perselisihan akan melemahkan kekuatan dan membuat manusia bingung. Imam asy-Syafi'i rahimahullah sangat menekankan pentingnya ukhuwah dan menghindari perpecahan, meskipun ada perbedaan pendapat. Perbedaan harus disikapi dengan lapang dada dan adab yang baik, bukan dengan permusuhan.
Penerapan Prinsip Ini:
Para ulama salaf sangat memperhatikan adab ini. Abdullah bin al-Mubarak rahimahullah dikenal sangat lembut dalam berdakwah. Beliau tidak pernah memaksa atau menyulitkan orang lain. Begitu pula Imam Malik rahimahullah, ketika ditanya tentang suatu masalah, beliau sering menjawab, "Aku tidak tahu," jika memang tidak ada dalil yang jelas, karena takut mempersulit orang lain dengan fatwa yang tidak tepat.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa ketika Nabi ﷺ mengutus Mu'adz bin Jabal dan Abu Musa al-Asy'ari radhiyallahu 'anhuma ke Yaman, beliau memberikan wasiat ini. Keduanya adalah sahabat yang sangat alim dan bijaksana. Dalam perjalanan dan saat bertugas, mereka selalu berpegang teguh pada wasiat ini.
Suatu ketika, Mu'adz radhiyallahu 'anhu melihat penduduk Yaman sangat antusias menerima Islam. Beliau tidak langsung membebani mereka dengan semua hukum sekaligus. Beliau mulai dengan mengajarkan tauhid dan shalat, lalu secara bertahap mengajarkan puasa, zakat, dan seterusnya. Sikapnya yang lembut dan penuh kabar gembira membuat Islam diterima dengan mudah dan dicintai oleh mereka.
Kisah ini mengajarkan kita bahwa keberhasilan dakwah sangat bergantung pada akhlak yang mulia dan pemahaman yang bijaksana, bukan pada kekerasan atau pemaksaan. (Sumber: Syarh Shahih Muslim karya Imam an-Nawawi dan Al-Bidayah wan Nihayah karya Ibn Katsir).
Kesimpulan Praktis
- Dalam berdakwah dan mengajar: Gunakan bahasa yang lembut, berikan kabar gembira tentang rahmat Allah, dan jangan mempersulit orang lain dengan beban yang tidak perlu.
- Dalam berfatwa: Pilihlah pendapat yang paling mudah bagi manusia selama sesuai dengan dalil, sebagaimana yang dicontohkan para ulama.
- Dalam bermuamalah: Utamakan persatuan dan hindari perpecahan. Jika ada perbedaan pendapat, selesaikan dengan adab dan musyawarah yang baik.
- Dalam kehidupan sehari-hari: Jadilah pribadi yang memudahkan urusan orang lain, bukan yang mempersulit.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.