Penjelasan Hadits Muslim No. 173 tentang Peristiwa Isra Mi'raj dan Sidratul Muntaha

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menceritakan peristiwa Isra' Mi'raj, khususnya ketika Nabi ﷺ dibawa ke Sidratul Muntaha di langit keenam. Di sana beliau menerima tiga anugerah besar: shalat lima waktu, ayat-ayat penutup Surah Al-Baqarah, dan janji ampunan bagi umatnya yang tidak berbuat syirik. Hadits ini mengajarkan besarnya kasih sayang Allah kepada umat Nabi Muhammad ﷺ.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an terkait:

QS. An-Najm [53]: 16

إِذْ يَغْشَى السِّدْرَةَ مَا يَغْشَىٰ

"Ketika pohon sidr itu ditutupi oleh apa yang menutupinya."

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab Iman, no. 173, dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu. Imam Muslim adalah salah satu ulama dalam daftar rujukan yang dikenal sangat teliti dalam menyusun hadits shahih.

Kaitan dengan ulama:

  • Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan makna Sidratul Muntaha dan tiga anugerah tersebut.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari juga membahas peristiwa Isra' Mi'raj dengan rinci.
  • Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan makna QS. An-Najm [53]: 16.

Penjelasan Rinci

Makna Sidratul Muntaha:

Sidratul Muntaha adalah sebuah pohon besar di langit keenam. Dinamakan "Muntaha" (tempat berakhir) karena:

  • Segala sesuatu yang naik dari bumi berakhir di sana.
  • Segala sesuatu yang turun dari atas berakhir di sana.

Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa ini menunjukkan kedudukan Sidratul Muntaha sebagai batas antara alam yang diketahui makhluk dan alam yang lebih tinggi yang hanya diketahui Allah.

Makna "Firasyun min Dzahab":

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa yang menutupi pohon sidr tersebut adalah "farasy" (ngengat) dari emas, sebagaimana disebutkan dalam riwayat ini. Ini menunjukkan keindahan dan kemuliaan tempat tersebut.

Tiga Anugerah:

  1. Shalat lima waktu — Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa ini adalah anugerah terbesar karena shalat adalah penghubung langsung antara hamba dengan Allah.
  2. Ayat-ayat penutup Surah Al-Baqarah — Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat-ayat ini mengandung doa dan janji ampunan Allah.
  3. Ampunan bagi yang tidak syirik — Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan bahwa "al-muqhimat" (dosa-dosa besar) akan diampuni selama seseorang tidak berbuat syirik, meskipun ia harus melewati proses pembersihan terlebih dahulu.

Perbedaan pendapat:

Sebagian ulama berbeda pendapat tentang apakah Nabi ﷺ melihat Allah secara langsung dalam peristiwa ini. Ibnu Taymiyyah dan Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa pendapat yang kuat adalah Nabi ﷺ melihat Allah dengan hatinya, bukan dengan mata kepala, berdasarkan hadits-hadits lain yang shahih.

Story Telling

Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu adalah salah satu sahabat yang paling dekat dengan Nabi ﷺ dan paling mengetahui Al-Qur'an. Ketika beliau menceritakan hadits ini, beliau sedang mengajarkan kepada para tabi'in tentang besarnya peristiwa Isra' Mi'raj.

Al-Hasan al-Bashri pernah berkata tentang pentingnya memahami peristiwa ini: "Barangsiapa yang memahami Isra' Mi'raj dengan benar, ia akan memahami betapa besar kasih sayang Allah kepada umat ini."

Kesimpulan Praktis

  1. Dirikan shalat lima waktu dengan sungguh-sungguh — ini adalah anugerah langsung dari Allah dalam peristiwa Isra' Mi'raj.
  2. Rutinkan membaca ayat-ayat penutup Surah Al-Baqarah — karena mengandung doa dan janji ampunan.
  3. Jauhi syirik — karena ampunan Allah terbuka bagi yang tidak menyekutukan-Nya.
  4. Renungkan kebesaran Allah — melalui peristiwa Isra' Mi'raj yang menunjukkan kedudukan tinggi Nabi ﷺ.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?