Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah salah satu hadits jawami'ul kalim (singkat namun padat makna) dari Nabi ﷺ yang merangkum pokok-pokok agama. Allah ﷻ meridhai tiga perkara: beribadah kepada-Nya tanpa syirik, berpegang teguh pada agama-Nya, dan tidak bercerai-berai. Allah ﷻ juga membenci tiga perkara: menyebarkan kabar yang tidak jelas (qila wa qala), banyak bertanya yang tidak bermanfaat, dan menyia-nyiakan harta. Hadits ini mengajarkan kita untuk fokus pada hal-hal yang bermanfaat dalam agama dan dunia, serta menjauhi sikap berlebihan yang tidak berguna.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang relevan:
- QS. Ali 'Imran [3]: 103
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا
"Dan berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu..."
- QS. Al-Hujurat [49]: 6
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
"Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan, yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu."
Hadits terkait:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya (no. 1715), juga diriwayatkan oleh Imam Malik dalam Al-Muwaththa', dan Imam Ahmad dalam Musnad-nya.
Kaitan dengan ulama:
Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa "banyak bertanya" yang tercela adalah bertanya tentang hal-hal yang tidak dibutuhkan, atau bertanya yang menyebabkan kesulitan, atau bertanya tentang hal-hal yang sengaja disembunyikan oleh syariat. Beliau juga menukil penjelasan ulama bahwa larangan ini terkait dengan pertanyaan yang tidak bermanfaat, bukan pertanyaan untuk belajar agama.
Penjelasan Rinci
Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, salah satu sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits. Dalam hadits ini, Nabi ﷺ menyebutkan tiga perkara yang Allah ridhai dan tiga perkara yang Allah benci.
Tiga Perkara yang Allah Ridhai:
- Beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya — Ini adalah inti dari tauhid, yaitu mengikhlaskan ibadah hanya kepada Allah ﷻ. Imam Ibn Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa tauhid adalah pondasi seluruh amal, dan tanpa tauhid, amal tidak akan diterima.
- Berpegang teguh pada tali Allah dan tidak bercerai-berai — Yang dimaksud "tali Allah" adalah Al-Qur'an dan Sunnah Nabi ﷺ. Imam As-Sa'di menjelaskan bahwa berpegang teguh pada agama Allah dan bersatu di atas kebenaran adalah perintah yang agung, karena perpecahan adalah sumber kelemahan umat.
- Nasihat bagi para pemimpin — Sebagian ulama menafsirkan bahwa ridha Allah yang ketiga ini mencakup kewajiban menaati pemimpin dalam kebaikan, sebagaimana disebutkan dalam riwayat lain bahwa "menasihati pemimpin" termasuk bagian dari agama.
Tiga Perkara yang Allah Benci:
- Qila wa qala (omongan yang tidak jelas sumbernya) — Yaitu menyebarkan berita tanpa tabayyun (klarifikasi), seperti gosip, kabar burung, atau perkataan yang tidak diketahui kebenarannya. Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa ini adalah perkataan yang banyak beredar di kalangan manusia tanpa dasar yang jelas, dan ini termasuk perbuatan tercela karena bisa menimbulkan fitnah dan permusuhan.
- Banyak bertanya (katsratul su'al) — Yang dimaksud di sini bukan bertanya untuk belajar agama, tetapi bertanya tentang hal-hal yang tidak bermanfaat, atau bertanya yang memberatkan, atau bertanya tentang hal-hal yang sengaja tidak dijelaskan oleh syariat. Imam Ibn Rajab al-Hanbali menjelaskan bahwa sahabat-sahabat Nabi ﷺ sangat berhati-hati dalam bertanya, karena mereka takut turunnya ayat yang memberatkan. Ini sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Ma'idah [5]: 101 tentang larangan bertanya tentang hal-hal yang jika dijelaskan justru menyusahkan.
- Menyia-nyiakan harta (idha'atul mal) — Yaitu membelanjakan harta pada hal-hal yang tidak bermanfaat, berlebihan, atau menghambur-hamburkan tanpa kebutuhan. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa harta adalah amanah dari Allah, dan setiap orang akan dimintai pertanggungjawaban tentang bagaimana ia memperoleh dan membelanjakannya.
Penerapan para ulama:
Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya membuat bab khusus tentang "menjauhi banyak bertanya dan pemborosan harta" berdasarkan hadits ini. Beliau memahami bahwa hadits ini menjadi prinsip dalam bermuamalah dan berinteraksi.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan bahwa "banyak bertanya" yang tercela adalah bertanya tentang hal-hal yang tidak ada kaitannya dengan kebutuhan, atau bertanya yang bertujuan untuk mempermalukan, atau bertanya yang keluar dari batas kewajaran. Adapun bertanya untuk memahami agama adalah terpuji, bahkan dianjurkan.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa suatu ketika para sahabat bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang banyak hal, hingga turunlah firman Allah dalam QS. Al-Ma'idah [5]: 101:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَسْأَلُوا عَنْ أَشْيَاءَ إِنْ تُبْدَ لَكُمْ تَسُؤْكُمْ
"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu bertanya tentang hal-hal yang jika diterangkan kepadamu justru akan menyusahkan kamu."
Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu bahwa ketika ayat ini turun, para sahabat berhenti bertanya tentang hal-hal yang tidak perlu. Bahkan disebutkan bahwa ada seorang sahabat yang memiliki unta yang hilang, lalu ia bertanya kepada Nabi ﷺ tentang hukumnya, dan Nabi ﷺ menjawab dengan tegas bahwa tidak ada kewajiban zakat padanya jika kurang dari nishab.
Kisah ini menunjukkan betapa para sahabat sangat menjaga adab bertanya. Mereka lebih memilih diam daripada bertanya hal yang tidak bermanfaat, karena khawatir turunnya ketentuan yang memberatkan.
Kesimpulan Praktis
- Jaga tauhid — Pastikan ibadah kita murni hanya untuk Allah ﷻ, jauh dari syirik besar maupun kecil.
- Bersatu di atas kebenaran — Jangan mudah terpecah belah karena perbedaan pendapat yang masih dalam koridor syariat.
- Tabayyun sebelum menyebarkan berita — Jangan ikut menyebarkan kabar yang belum jelas kebenarannya, apalagi di era media sosial sekarang.
- Bertanya hanya yang bermanfaat — Bertanyalah untuk memahami agama dan kebutuhan, bukan untuk mempersulit atau mencari-cari masalah.
- Jaga harta — Belanjakan harta pada hal-hal yang bermanfaat, jangan boros dan jangan kikir.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.