Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Muslim No. 1699 tentang Hukum rajam bagi pezina berdasarkan kitab Taurat

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menceritakan bagaimana Rasulullah ﷺ menerapkan hukum rajam terhadap dua orang Yahudi yang berzina, berdasarkan kitab Taurat mereka sendiri. Kisah ini menunjukkan keadilan dan kebijaksanaan Nabi ﷺ dalam menegakkan hukum Allah, serta membantah praktik penyimpangan yang dilakukan oleh para pemuka Yahudi yang menyembunyikan hukum rajam. Pelajaran utamanya adalah pentingnya menegakkan hukum Allah secara adil dan tidak menyembunyikan kebenaran.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab Hudud, Bab Rajam Yahudi Ahli Dhimmah dalam Zina, nomor 1699, dari sahabat Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma.

Dalil Al-Qur'an yang relevan tentang kewajiban menegakkan hukum Allah dan tidak menyembunyikan kebenaran:

QS. Al-Ma'idah [5]: 48

وَأَنِ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ وَاحْذَرْهُمْ أَنْ يَفْتِنُوكَ عَنْ بَعْضِ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَيْكَ

"Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu."

Ayat ini menunjukkan perintah kepada Nabi ﷺ untuk menegakkan hukum Allah secara adil, sebagaimana beliau lakukan dalam hadits ini.

Penjelasan Rinci

Hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting yang dijelaskan oleh para ulama:

1. Kejadian dan Konteks Hadits

Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa dua orang Yahudi (laki-laki dan perempuan) berzina, lalu mereka dibawa kepada Rasulullah ﷺ. Beliau bertanya kepada pemuka Yahudi tentang hukum zina dalam Taurat mereka. Mereka menjawab bahwa hukumannya adalah menghitamkan wajah, mengendarai keledai dengan posisi terbalik, dan diarak keliling kota. Ini adalah hukuman yang mereka karang sendiri untuk menyembunyikan hukum rajam.

2. Kebijaksanaan Nabi ﷺ dalam Menegakkan Kebenaran

Rasulullah ﷺ tidak langsung menerima jawaban mereka, tetapi meminta agar Taurat dibawa dan dibacakan. Ketika pembaca sampai pada ayat rajam, ia menyembunyikannya dengan meletakkan tangannya di atas ayat tersebut. Abdullah bin Salam radhiyallahu 'anhu, seorang sahabat yang dulunya seorang ulama Yahudi, mengetahui tipu muslihat ini dan meminta agar tangan pembaca diangkat. Ternyata di bawah tangannya terdapat ayat rajam. Maka Rasulullah ﷺ memerintahkan agar kedua orang Yahudi tersebut dirajam.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan bahwa ini menunjukkan keadilan Nabi ﷺ yang tidak memutuskan perkara kecuali berdasarkan dalil yang jelas, dan beliau tidak terburu-buru menghukum tanpa kejelasan.

3. Hukum Rajam bagi Ahli Kitab

Para ulama dari kalangan Ahlus Sunnah, di antaranya Imam Ahmad bin Hanbal dan para pengikutnya, berpendapat bahwa hukuman zina bagi orang kafir dzimmi (non-Muslim yang tinggal di bawah perlindungan negara Islam) sama dengan hukuman bagi Muslim, yaitu rajam bagi yang sudah menikah dan cambuk bagi yang belum menikah. Ini berdasarkan hadits ini dan hadits-hadits lain yang semakna.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa Nabi ﷺ merajam dua orang Yahudi tersebut karena mereka sudah muhshan (menikah), dan ini menunjukkan bahwa hukum zina berlaku bagi semua orang tanpa membedakan agama, selama mereka berada di bawah kekuasaan Islam.

4. Pelajaran tentang Menyembunyikan Kebenaran

Dalam hadits ini terdapat kecaman terhadap perbuatan menyembunyikan kebenaran. Para pemuka Yahudi sengaja menyembunyikan ayat rajam karena mereka ingin menghindari hukuman yang berat. Allah Ta'ala mencela perbuatan ini dalam firman-Nya:

QS. Al-Baqarah [2]: 42

وَلَا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

"Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang batil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui."

Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini melarang umat Islam untuk meniru perbuatan Ahli Kitab yang menyembunyikan kebenaran dan mencampuradukkan yang hak dengan yang batil.

5. Keberanian Abdullah bin Salam

Abdullah bin Salam radhiyallahu 'anhu adalah seorang ulama Yahudi yang masuk Islam. Dalam hadits ini, ia menunjukkan keberaniannya untuk membela kebenaran dengan mengungkap tipu muslihat rekan-rekannya yang menyembunyikan ayat rajam. Ini menunjukkan bahwa seorang yang telah mengenal kebenaran harus berani membelanya meskipun harus berhadapan dengan orang-orang yang menyimpang.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa ketika Abdullah bin Salam masuk Islam, ia adalah seorang yang sangat dihormati di kalangan Yahudi Madinah. Ketika ia menyatakan keislamannya, orang-orang Yahudi berkata: "Abdullah adalah orang yang paling baik di antara kita dan anak dari orang yang paling baik." Namun setelah ia masuk Islam, mereka berkata: "Ia adalah orang yang paling buruk di antara kita dan anak dari orang yang paling buruk." Ini menunjukkan bahwa kebenaran kadang membuat seseorang dijauhi oleh orang-orang yang tidak menyukai kebenaran, tetapi ia tetap teguh karena yakin akan janji Allah.

Dalam hadits ini, Abdullah bin Salam kembali menunjukkan keteguhannya dengan mengungkap penyembunyian ayat rajam, meskipun ia tahu hal itu akan membuatnya semakin dibenci oleh mantan rekan-rekannya. Ia lebih memilih membela kebenaran daripada menjaga hubungan baik dengan orang-orang yang menyimpang.

Kesimpulan Praktis

  1. Menegakkan hukum Allah secara adil tanpa membedakan suku, agama, atau status sosial.
  2. Tidak menyembunyikan kebenaran, meskipun kebenaran itu berat atau merugikan kepentingan pribadi.
  3. Berani membela kebenaran meskipun harus berhadapan dengan orang banyak yang menyimpang.
  4. Menggunakan ilmu untuk menegakkan keadilan, sebagaimana Abdullah bin Salam menggunakan pengetahuannya tentang Taurat untuk mengungkap kebenaran.
  5. Hukum zina bagi yang sudah menikah adalah rajam, baik bagi Muslim maupun non-Muslim yang berada di bawah perlindungan negara Islam.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.