Penjelasan Hadits Muslim No. 167 tentang Penampakan para nabi saat Isra Mi'raj

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menceritakan bahwa Nabi ﷺ diperlihatkan para nabi terdahulu pada malam Isra' Mi'raj, dan beliau menyebutkan kemiripan bentuk fisik sebagian mereka dengan orang-orang yang dikenal di kalangan sahabat. Hadits ini menegaskan kebenaran peristiwa Isra' Mi'raj, kemuliaan para nabi, dan bahwa rupa para nabi adalah rupa manusia biasa yang bisa dikenali. Ini juga menjadi dalil bahwa shalat diwajibkan pada malam itu, sebagaimana disebutkan dalam bab hadits ini.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab Iman, dari sahabat Jabir bin Abdullah رضي الله عنه.

Teks hadits yang disebutkan:

عُرِضَ عَلَىَّ الأَنْبِيَاءُ فَإِذَا مُوسَى ضَرْبٌ مِنَ الرِّجَالِ كَأَنَّهُ مِنْ رِجَالِ شَنُوءَةَ

"Para nabi diperlihatkan kepadaku, dan Musa adalah seorang laki-laki yang seolah-olah dari kaum Shanu'a."

Dan sabda beliau:

وَرَأَيْتُ عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ فَإِذَا أَقْرَبُ مَنْ رَأَيْتُ بِهِ شَبَهًا عُرْوَةُ بْنُ مَسْعُودٍ

"Aku melihat Isa putra Maryam عليه السلام, dan yang paling mirip dengannya adalah 'Urwa bin Mas'ud."

Dan sabda beliau:

وَرَأَيْتُ إِبْرَاهِيمَ صَلَوَاتُ اللَّهِ عَلَيْهِ فَإِذَا أَقْرَبُ مَنْ رَأَيْتُ بِهِ شَبَهًا صَاحِبُكُمْ

"Aku melihat Ibrahim عليه السلام, dan yang paling mirip dengannya adalah sahabat kalian (yaitu beliau sendiri)."

Dan sabda beliau:

وَرَأَيْتُ جِبْرِيلَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ فَإِذَا أَقْرَبُ مَنْ رَأَيْتُ بِهِ شَبَهًا دِحْيَةُ

"Aku melihat Jibril عليه السلام, dan yang paling mirip dengannya adalah Dihya."

Adapun ayat Al-Qur'an yang berkaitan dengan peristiwa Isra':

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

(QS. Al-Isra' [17]: 1)

"Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda kebesaran Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat."

Penjelasan Rinci

Hadits ini termasuk bagian dari hadits-hadits tentang Isra' Mi'raj, yaitu perjalanan Nabi ﷺ pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, lalu naik ke langit. Dalam perjalanan itu, Allah memperlihatkan kepada beliau sebagian tanda-tanda kebesaran-Nya, termasuk diperlihatkannya para nabi terdahulu.

Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa para nabi diperlihatkan kepada Nabi ﷺ dalam bentuk rupa mereka yang sebenarnya, dan beliau mengenali mereka. Beliau juga menyebutkan bahwa penyebutan kemiripan dengan orang-orang tertentu dari sahabat adalah untuk memudahkan para sahabat membayangkan gambaran para nabi, bukan berarti menyerupakan nabi dengan manusia biasa secara mutlak.

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari (ketika membahas hadits serupa) menyebutkan bahwa hadits ini menjadi dalil bahwa rupa para nabi adalah rupa manusia, dan bahwa mereka tidak berbeda secara fisik dari manusia pada umumnya. Ini membantah anggapan sebagian orang yang berlebihan dalam menggambarkan para nabi.

Imam Muslim sengaja menempatkan hadits ini dalam Kitab Iman, Bab Isra' Nabi ﷺ ke Langit dan Kewajiban Shalat, karena peristiwa Isra' Mi'raj adalah salah satu pokok akidah yang harus diimani, dan pada malam itu pula kewajiban shalat lima waktu ditetapkan. Ini menunjukkan bahwa hadits ini bukan sekadar kisah, tetapi berkaitan dengan pokok iman dan ibadah.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa diperlihatkannya para nabi kepada Nabi ﷺ adalah bentuk pemuliaan dan penguatan bagi beliau, sekaligus menegaskan kedudukan beliau sebagai penutup para nabi. Beliau juga menegaskan bahwa kita wajib mengimani peristiwa ini sebagaimana adanya, tanpa menambah atau mengurangi, dan tanpa menakwilkan secara berlebihan.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Tafsir As-Sa'di ketika menafsirkan QS. Al-Isra' [17]: 1 menjelaskan bahwa Isra' adalah perjalanan yang nyata dengan jasad dan ruh Nabi ﷺ, bukan sekadar mimpi. Ini adalah pendapat yang dipegang oleh Ahlus Sunnah, dan hadits Jabir ini termasuk dalil yang menguatkannya.

Adapun mengenai Dihya bin Khalifah al-Kalbi, beliau adalah seorang sahabat yang terkenal sangat tampan. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Jibril عليه السلام pernah datang kepada Nabi ﷺ dalam rupa Dihya. Ini menunjukkan bahwa Jibril memiliki rupa asli, dan beliau bisa menampakkan diri dalam bentuk manusia.

Perbedaan pendapat di antara ulama daftar tidak signifikan dalam masalah ini. Semuanya sepakat bahwa Isra' Mi'raj adalah benar, bahwa para nabi diperlihatkan kepada Nabi ﷺ, dan bahwa penyebutan kemiripan adalah untuk memudahkan pemahaman, bukan untuk menyerupakan secara hakiki. Yang paling kuat adalah pendapat yang menetapkan hadits ini sebagaimana adanya, tanpa menakwilkan, sesuai dengan manhaj Ahlus Sunnah.

Story Telling

Dikisahkan bahwa Dihya bin Khalifah al-Kalbi رضي الله عنه adalah seorang sahabat yang sangat tampan, sehingga Jibril عليه السلام sering menampakkan diri dalam rupanya ketika menyampaikan wahyu kepada Nabi ﷺ. Para sahabat mengenali kedatangan Jibril ketika melihat sosok yang mirip Dihya mendatangi Nabi ﷺ.

Pada suatu ketika, Umar bin al-Khaththab رضي الله عنه bertanya kepada Nabi ﷺ tentang Islam, Iman, dan Ihsan. Ketika itu datang seorang laki-laki yang tidak dikenal, berpakaian sangat putih, berambut sangat hitam, tidak terlihat bekas perjalanan. Setelah bertanya dan mendapat jawaban, laki-laki itu pergi. Nabi ﷺ kemudian bersabda kepada Umar: "Wahai Umar, apakah engkau tahu siapa yang bertanya tadi?" Umar menjawab: "Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui." Nabi ﷺ bersabda: "Itu adalah Jibril, dia datang kepada kalian untuk mengajarkan agama kalian." (HR. Muslim)

Hikmahnya: Jibril عليه السلام bisa menampakkan diri dalam rupa manusia, dan para nabi adalah manusia biasa yang memiliki rupa yang bisa dikenali. Ini mengajarkan kita untuk tidak berlebihan dalam menggambarkan makhluk, dan tetap menetapkan apa yang Allah dan Rasul-Nya tetapkan.

Kesimpulan Praktis

  1. Wajib mengimani Isra' Mi'raj sebagai peristiwa nyata yang disebutkan dalam Al-Qur'an dan hadits shahih.
  2. Para nabi adalah manusia yang memiliki rupa fisik, dan diperlihatkan kepada Nabi ﷺ pada malam Isra' untuk menguatkan beliau.
  3. Penyebutan kemiripan dengan sahabat seperti 'Urwa bin Mas'ud dan Dihya bin Khalifah adalah untuk memudahkan pemahaman, bukan menyerupakan secara hakiki.
  4. Shalat lima waktu adalah kewajiban yang ditetapkan pada malam Isra' Mi'raj, maka jagalah shalat sebagai bukti keimanan kita.
  5. Hendaklah kita menetapkan hadits-hadits sifat sebagaimana adanya, tanpa menakwilkan secara berlebihan, sesuai manhaj Ahlus Sunnah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?