Penjelasan Hadits Muslim No. 1637 tentang Wasiat Nabi saat sakit menjelang wafatnya

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah salah satu hadits paling agung yang menunjukkan perhatian besar Rasulullah ﷺ kepada umatnya, bahkan di saat sakit beliau yang paling parah. Hadits ini juga mengajarkan adab yang sangat tinggi kepada para sahabat, yaitu tidak boleh bertengkar di hadapan Nabi ﷺ. Inti dari hadits ini adalah tiga wasiat penting: mengeluarkan orang musyrik dari Jazirah Arab, memuliakan para utusan/delegasi, dan satu wasiat lagi yang dilupakan oleh perawi (Ibnu Abbas). Peristiwa ini juga menjadi pelajaran bahwa sakit dan wafatnya Nabi ﷺ adalah musibah terbesar bagi umat ini, namun kita harus tetap bersabar dan mengikuti petunjuk beliau yang tersisa, yaitu Al-Qur'an dan Sunnah.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Wasiat, Bab "Meninggalkan Wasiat bagi yang Tidak Memiliki Apa-apa untuk Dihibahkan" (no. 1637). Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Al-'Ilm (no. 114), dan Kitab Al-Maghazi (no. 4431), dari sahabat Abdullah bin Abbas radhiyallahu 'anhuma.

Ayat Al-Qur'an yang relevan tentang larangan mendahului atau bertengkar di hadapan Rasulullah ﷺ:

QS. Al-Hujurat [49]: 1

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُقَدِّمُوْا بَيْنَ يَدَىِ اللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ

"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya, dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui."

Ayat ini menunjukkan larangan bagi kaum mukminin untuk bersikap mendahului atau bertengkar di hadapan Rasulullah ﷺ, sebagaimana yang terjadi pada peristiwa hari Kamis tersebut.

Hadits terkait lainnya tentang wasiat Nabi ﷺ agar umatnya berpegang pada Al-Qur'an dan Sunnah:

Hadits dari Abu Malik Al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

"أَلَا إِنِّي أُوتِيتُ الْقُرْآنَ وَمِثْلَهُ مَعَهُ"

"Ketahuilah, sesungguhnya aku diberikan Al-Qur'an dan yang semisalnya (Sunnah) bersamanya." (HR. Abu Dawud no. 4604, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Abi Dawud)

Kaitan dengan ulama dari daftar:

  • Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim (11/89-93) menjelaskan hadits ini secara panjang lebar, termasuk makna "أَهَجَرَ" (apakah beliau mengigau?) dan bantahan terhadap mereka yang mengucapkannya.
  • Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari (1/208-210) menjelaskan peristiwa ini dengan sangat rinci, termasuk alasan mengapa para sahabat berselisih dan hikmah di baliknya.
  • Imam Al-Bukhari menempatkan hadits ini dalam bab "Kitab Al-'Ilm" untuk menunjukkan bahwa menulis ilmu adalah perkara yang dibolehkan.

Penjelasan Rinci

1. Konteks Peristiwa Hari Kamis

Peristiwa ini terjadi pada hari Kamis, beberapa hari sebelum wafatnya Rasulullah ﷺ. Saat itu sakit beliau semakin parah. Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma menangis ketika mengingat hari itu, karena betapa besar musibah yang menimpa umat ini.

Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan "كتابًا" (dokumen/tulisan) adalah wasiat tertulis yang berisi petunjuk agar umat tidak tersesat setelah beliau wafat. Namun, karena ada perselisihan di antara para sahabat yang hadir, Rasulullah ﷺ memilih untuk tidak menuliskannya.

2. Makna "أَهَجَرَ" (Apakah Beliau Mengigau?)

Ini adalah bagian yang paling menyedihkan dari hadits ini. Sebagian sahabat yang hadir—karena khawatir dan tidak memahami kondisi Nabi ﷺ—berkata: "Apakah beliau mengigau? (أَهَجَرَ)". Kata "هَجَرَ" berarti ucapan yang tidak jelas karena sakit atau demam yang tinggi.

Imam An-Nawawi menjelaskan dalam Syarah Shahih Muslim bahwa para sahabat yang mengucapkan ini adalah karena mereka melihat kondisi Nabi ﷺ yang sangat sakit, dan mereka ingin memastikan apakah beliau dalam keadaan sadar penuh atau tidak. Mereka tidak bermaksud buruk sama sekali. Namun, Ibnu Abbas menyesali perselisihan ini karena menyebabkan tidak dituliskannya wasiat tersebut.

Ibnu Hajar Al-Asqalani menegaskan bahwa Nabi ﷺ tidak pernah mengigau. Ucapan beliau selalu benar dan terjaga. Para sahabat yang bertanya itu hanyalah karena kehati-hatian mereka, bukan karena meragukan Nabi ﷺ.

3. Tiga Wasiat Nabi ﷺ

Setelah Rasulullah ﷺ melihat perselisihan itu, beliau bersabda: "Tinggalkan aku, karena aku dalam keadaan yang lebih baik dari apa yang kalian lakukan." Kemudian beliau berwasiat tiga hal:

  1. Mengeluarkan orang-orang musyrik dari Jazirah Arab - Ini menunjukkan pentingnya menjaga kesucian tanah Arab dari kekufuran dan syirik. Ini kemudian dilaksanakan oleh Khalifah Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu.
  2. Memuliakan para utusan/delegasi - Yaitu memberikan hadiah dan penghormatan kepada para utusan yang datang, sebagaimana Rasulullah ﷺ biasa melakukannya. Ini menunjukkan pentingnya diplomasi dan hubungan baik dengan pihak luar.
  3. Wasiat ketiga yang dilupakan - Ibnu Abbas berkata: "Beliau diam tentang yang ketiga, atau beliau mengucapkannya tetapi aku lupa." Beberapa ulama berpendapat bahwa wasiat ketiga ini adalah tentang tidak menjadikan kuburan sebagai tempat ibadah, berdasarkan hadits lain yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Jundab bin Abdullah.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarah Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa lupa ini adalah ujian dari Allah, dan yang penting adalah dua wasiat yang jelas tersebut tetap dilaksanakan oleh umat.

4. Pelajaran Adab yang Agung

Rasulullah ﷺ bersabda: "وَمَا يَنْبَغِي عِنْدَ نَبِيٍّ تَنَازُعٌ" (Tidak pantas ada perselisihan di hadapan seorang Nabi). Ini menunjukkan bahwa para sahabat pun bisa keliru dalam adab, namun Allah mengampuni mereka karena ketulusan niat mereka.

Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam Jami' Al-'Ulum wal Hikam menjelaskan bahwa peristiwa ini menunjukkan betapa tingginya kedudukan Nabi ﷺ, dan bahwa umat ini harus selalu mengutamakan persatuan dan menghindari perselisihan, terutama dalam masalah-masalah pokok agama.

5. Hikmah Tidak Dituliskannya Wasiat

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu' Al-Fatawa menjelaskan bahwa Allah tidak menakdirkan wasiat tertulis itu terjadi, karena Al-Qur'an dan Sunnah yang sudah ada sudah cukup sebagai petunjuk bagi umat. Ini juga menjadi ujian bagi umat untuk tetap berpegang pada keduanya tanpa membutuhkan tambahan lain.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa ketika Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu mendengar kabar bahwa Rasulullah ﷺ wafat, beliau berdiri di masjid dan berkata: "Demi Allah, Rasulullah tidak wafat. Beliau akan kembali dan memotong tangan dan kaki orang-orang yang mengatakan beliau wafat."

Namun, Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu masuk dan berkata: "Wahai manusia, barangsiapa yang menyembah Muhammad, maka Muhammad telah wafat. Dan barangsiapa yang menyembah Allah, maka Allah Maha Hidup dan tidak akan mati." Kemudian beliau membacakan firman Allah:

وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ ۚ أَفَإِنْ مَاتَ أَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلَىٰ أَعْقَابِكُمْ

"Muhammad itu hanyalah seorang Rasul; sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh, kamu berbalik ke belakang (murtad)?" (QS. Ali 'Imran [3]: 144)

Umar berkata: "Demi Allah, ketika aku mendengar Abu Bakar membacakan ayat ini, aku terkejut hingga kakiku tidak mampu menopangku, dan aku jatuh ke tanah. Aku tahu bahwa Rasulullah ﷺ benar-benar telah wafat." (HR. Al-Bukhari no. 3667)

Hikmah: Sebagaimana para sahabat bersedih atas wafatnya Nabi ﷺ, kita pun harus merasakan kesedihan itu. Namun, kesedihan tidak boleh membuat kita lupa bahwa petunjuk Nabi ﷺ tetap ada dalam Al-Qur'an dan Sunnah. Inilah warisan terbesar yang beliau tinggalkan untuk kita.

Kesimpulan Praktis

  1. Menghormati Nabi ﷺ dan tidak bertengkar di hadapan beliau - Ini adalah adab yang harus kita jaga, baik secara langsung maupun dalam hal menyampaikan ilmu dan fatwa yang bersumber dari beliau.
  2. Menjaga kesucian tanah Arab dari kemusyrikan - Ini adalah wasiat Nabi ﷺ yang harus kita jaga, dan kita harus berdoa agar Allah menjaga negeri-negeri Islam dari segala bentuk syirik dan bid'ah.
  3. Memuliakan tamu dan utusan - Ini adalah bagian dari akhlak Islam yang agung, sebagaimana Rasulullah ﷺ memuliakan para delegasi yang datang kepadanya.
  4. Berpegang teguh pada Al-Qur'an dan Sunnah - Inilah wasiat terbesar Nabi ﷺ yang tidak akan pernah hilang. Barangsiapa berpegang pada keduanya, ia tidak akan tersesat.
  5. Menjaga persatuan umat - Perselisihan di hadapan Nabi ﷺ menjadi pelajaran bahwa perselisihan hanya akan menghilangkan kebaikan. Kita harus berusaha menjaga ukhuwah Islamiyah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?