Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ wafat dalam keadaan tidak meninggalkan harta benda berharga seperti uang, kambing, atau unta. Beliau juga tidak membuat wasiat khusus tentang pembagian harta karena memang tidak memiliki harta untuk diwariskan. Ini menunjukkan kesederhanaan dan kezuhudan Nabi ﷺ serta bahwa wasiat hanya dianjurkan bagi yang memiliki harta.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an:
Allah Ta'ala berfirman:
كُتِبَ عَلَيْكُمْ إِذَا حَضَرَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ إِنْ تَرَكَ خَيْرًا الْوَصِيَّةُ لِلْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ بِالْمَعْرُوفِ ۖ حَقًّا عَلَى الْمُتَّقِينَ
"Diwajibkan atas kamu, apabila seorang di antara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak, berwasiat untuk kedua orang tua dan karib kerabatnya secara ma'ruf, (sebagai) kewajiban bagi orang-orang yang bertakwa." (QS. Al-Baqarah [2]: 180)
Hadits:
Hadits yang dimaksud diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, dari Aisyah radhiyallahu 'anha:
مَا تَرَكَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ دِينَارًا وَلاَ دِرْهَمًا وَلاَ شَاةً وَلاَ بَعِيرًا وَلاَ أَوْصَى بِشَىْءٍ
"Rasulullah ﷺ tidak meninggalkan dinar, dirham, kambing, atau unta. Dan beliau tidak mewasiatkan apapun (tentang harta)." (HR. Muslim no. 1635)
Kaitan dengan Ulama:
Imam an-Nawawi rahimahullah dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa Rasulullah ﷺ wafat dalam keadaan fakir dan tidak memiliki harta dunia. Beliau tidak mewasiatkan sesuatu karena tidak ada harta yang perlu diwasiatkan. Ini adalah puncak kezuhudan dan ketidakpedulian beliau terhadap dunia.
Penjelasan Rinci
Hadits ini memiliki beberapa makna penting yang dijelaskan oleh para ulama:
1. Makna "Tidak Meninggalkan Dinar, Dirham, Kambing, atau Unta"
Imam an-Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa ini menunjukkan bahwa Rasulullah ﷺ wafat dalam keadaan sangat sederhana. Beliau tidak mengumpulkan harta dunia. Semua yang beliau miliki selama hidupnya adalah untuk kepentingan dakwah dan membantu kaum muslimin, bukan untuk ditumpuk sebagai warisan.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah dalam Majmu' al-Fatawa menjelaskan bahwa ini adalah bukti bahwa Nabi ﷺ adalah hamba yang zuhud terhadap dunia. Beliau tidak menjadikan dunia sebagai tujuan, melainkan sebagai sarana untuk beribadah kepada Allah.
2. Makna "Tidak Mewasiatkan Apapun"
Imam Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah dalam Fath al-Bari menjelaskan bahwa maksudnya adalah beliau tidak mewasiatkan tentang pembagian harta karena memang tidak memiliki harta. Namun, beliau tetap mewasiatkan hal-hal lain yang bersifat agama, seperti wasiat untuk berpegang teguh pada Al-Qur'an dan Sunnah, serta wasiat untuk berbuat baik kepada para sahabat.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa hadits ini tidak bertentangan dengan perintah berwasiat bagi yang memiliki harta. Karena Nabi ﷺ tidak memiliki harta, maka beliau tidak perlu berwasiat. Adapun orang yang memiliki harta, maka dianjurkan untuk berwasiat sesuai dengan syariat.
3. Hikmah dari Hadits Ini
Imam Ibn Qayyim al-Jawziyyah rahimahullah dalam Zad al-Ma'ad menjelaskan bahwa hadits ini mengajarkan beberapa hal:
- Kezuhudan dan kesederhanaan adalah akhlak para nabi
- Harta bukanlah tujuan hidup, melainkan sarana untuk beribadah
- Wasiat hanya diperlukan jika memiliki harta yang perlu dibagikan
- Yang paling berharga adalah warisan ilmu dan iman, bukan harta
Story Telling
Diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu 'anha, beliau berkata:
"Rasulullah ﷺ wafat, dan tidak ada satu roti gandum pun yang cukup untuk dimakan di rumahku pada hari itu." (HR. Bukhari no. 5416)
Dalam riwayat lain, Aisyah radhiyallahu 'anha juga berkata:
"Keluarga Muhammad ﷺ tidak pernah makan kenyang dengan roti gandum selama tiga hari berturut-turut sejak beliau tiba di Madinah hingga wafat." (HR. Bukhari no. 5417)
Kisah ini menunjukkan betapa sederhananya kehidupan Nabi ﷺ. Beliau adalah pemimpin umat, namun hidup dalam kesederhanaan yang luar biasa. Harta yang datang kepada beliau langsung dibagikan kepada kaum muslimin yang membutuhkan, tidak ada yang ditumpuk untuk diri sendiri atau keluarga.
Kesimpulan Praktis
- Zuhud terhadap dunia - Jadikan dunia sebagai sarana, bukan tujuan. Jangan terlalu mencintai harta sehingga melupakan akhirat.
- Bersyukur dengan apa yang ada - Jika kita memiliki harta, itu adalah karunia Allah. Jangan membandingkan dengan orang lain, tetapi lihatlah yang lebih rendah.
- Berwasiat jika memiliki harta - Jika memiliki harta yang cukup, dianjurkan untuk berwasiat sesuai syariat, terutama untuk kerabat yang membutuhkan.
- Warisan terbaik adalah ilmu dan iman - Yang paling berharga untuk ditinggalkan bukanlah harta, melainkan ilmu yang bermanfaat dan keturunan yang shalih.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.