Penjelasan Hadits Muslim No. 161 tentang Awal wahyu dan perintah berdakwah

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menceritakan peristiwa setelah masa jeda wahyu (fatrah al-wahy), ketika Nabi ﷺ melihat kembali Malaikat Jibril di langit dan merasa sangat takut, lalu meminta diselimuti. Setelah itu turun wahyu pertama dari surat Al-Muddatstsir yang memerintahkan beliau untuk bangkit berdakwah, mengagungkan Allah, menyucikan diri, dan menjauhi berhala. Peristiwa ini menandai dimulainya fase dakwah secara terbuka dan berkelanjutan.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an — QS. Al-Muddatstsir [74]: 1-5

يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ ۝ قُمْ فَأَنْذِرْ ۝ وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ ۝ وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ ۝ وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ

Terjemahan ringkas: "Wahai orang yang berselimut, bangkitlah lalu berilah peringatan, dan agungkanlah Tuhanmu, dan bersihkanlah pakaianmu, dan tinggalkanlah segala (perbuatan) yang keji (berhala)."

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab Iman, Bab Permulaan Wahyu, dari sahabat Jabir bin Abdullah Al-Anshari رضي الله عنه. Jalur periwayatannya melalui Az-Zuhri (Muhammad bin Syihab az-Zuhri) — salah satu ulama Tabi'in dalam daftar rujukan — dari Abu Salamah bin Abdurrahman, dari Jabir bin Abdullah.

Kaitan dengan ulama:

  • Imam an-Nawawi menjelaskan dalam Syarah Shahih Muslim bahwa hadits ini menunjukkan bagaimana wahyu turun kembali setelah terputus, dan bahwa perintah pertama dalam surat Al-Muddatstsir adalah perintah dakwah dan tauhid.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa peristiwa ini terjadi setelah fatrah (jeda) wahyu yang membuat Nabi ﷺ bersedih.
  • Ibn Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa "الرُّجْزَ فَاهْجُرْ" bermakna menjauhi berhala dan segala bentuk kemusyrikan.

Penjelasan Rinci

Konteks peristiwa:

Setelah wahyu pertama turun di Gua Hira (QS. Al-'Alaq [96]: 1-5), wahyu kemudian terputus selama beberapa waktu. Masa ini disebut fatrah al-wahy. Nabi ﷺ sangat bersedih dan rindu akan datangnya wahyu kembali. Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan bahwa masa jeda ini adalah bagian dari hikmah Allah untuk mempersiapkan Nabi ﷺ menghadapi tugas besar.

Makna "فَجُئِثْتُ مِنْهُ فَرَقًا":

Nabi ﷺ merasa sangat terkejut dan takut ketika melihat Jibril dalam wujud aslinya duduk di atas kursi antara langit dan bumi. Ini menunjukkan betapa agungnya pemandangan tersebut dan betapa manusiawinya perasaan Nabi ﷺ. Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa rasa takut ini adalah reaksi alami manusia saat berhadapan dengan makhluk yang sangat agung.

Makna "زَمِّلُونِي زَمِّلُونِي":

Nabi ﷺ meminta diselimuti karena menggigil dan kedinginan akibat rasa takut. Ini menunjukkan kelembutan dan kasih sayang keluarganya, terutama Khadijah رضي الله عنها, yang langsung menenangkan beliau.

Makna surat Al-Muddatstsir:

Ibn Katsir menjelaskan bahwa surat ini adalah wahyu pertama yang memerintahkan dakwah secara umum:

  • "قُمْ فَأَنْذِرْ" — bangkitlah dan berilah peringatan kepada manusia tentang azab Allah.
  • "وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ" — agungkanlah Allah dengan tauhid, jangan menyekutukan-Nya.
  • "وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ" — bersihkanlah pakaianmu, yang mencakup kebersihan lahir dan batin.
  • "وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ" — tinggalkanlah berhala dan segala kemusyrikan.

Perbedaan pendapat ulama:

Sebagian ulama berbeda pendapat apakah surat Al-Muddatstsir atau Al-'Alaq yang merupakan wahyu pertama. Namun menurut Ibnu Hajar dan Imam an-Nawawi, Al-'Alaq adalah wahyu pertama secara mutlak, sedangkan Al-Muddatstsir adalah wahyu pertama setelah fatrah yang memulai fase dakwah terbuka. Pendapat ini yang paling kuat berdasarkan dalil.

"ثُمَّ تَتَابَعَ الْوَحْىُ":

Setelah peristiwa ini, wahyu turun secara berkelanjutan tanpa jeda panjang lagi. Ini menandai dimulainya masa dakwah yang sesungguhnya.

Story Telling

Diceritakan bahwa setelah peristiwa di Gua Hira, Nabi ﷺ pulang dalam keadaan menggigil dan berkata kepada Khadijah: "Selimuti aku, selimuti aku!" Khadijah رضي الله عنها dengan penuh kasih menyelimuti beliau dan menenangkan hatinya. Ketika beliau menceritakan apa yang terjadi, Khadijah berkata dengan penuh keyakinan: "Bergembiralah! Demi Allah, Allah tidak akan pernah menghinamu. Engkau menyambung silaturahmi, menanggung beban orang lain, memberi kepada yang kekurangan, menghormati tamu, dan menolong dalam kebenaran."

Kemudian Khadijah membawa beliau kepada Waraqah bin Naufal, seorang yang mengerti kitab-kitab sebelumnya. Waraqah mengenali tanda-tanda kenabian dan berkata: "Ini adalah Namus (Jibril) yang datang kepada Musa. Seandainya aku masih hidup ketika kaummu mengeluarkanmu, aku akan membelamu dengan gigih."

Hikmah dari kisah ini: dukungan keluarga, terutama istri salehah, sangat penting dalam perjalanan dakwah. Khadijah menjadi teladan bagi setiap Muslimah dalam mendukung suami dalam ketaatan kepada Allah.

Kesimpulan Praktis

  1. Wahyu adalah nikmat terbesar — Nabi ﷺ sangat rindu akan datangnya wahyu, menunjukkan betapa berharganya petunjuk Allah bagi hati yang beriman.
  2. Rasa takut kepada Allah dan keagungan-Nya — Nabi ﷺ menggigil saat melihat Jibril, mengajarkan kita untuk merenungkan keagungan Allah dan malaikat-Nya.
  3. Dakwah dimulai dari diri sendiri — "قُمْ فَأَنْذِرْ" mengajarkan kita untuk bangkit, memperbaiki diri, lalu mengajak orang lain.
  4. Tauhid adalah inti dakwah — "وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ" menegaskan bahwa mengagungkan Allah adalah pondasi utama.
  5. Kebersihan lahir dan batin — "وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ" mencakup kebersihan fisik dan hati dari dosa.
  6. Menjauhi syirik — "وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ" adalah perintah tegas untuk menjauhi berhala dan segala bentuk kemusyrikan.
  7. Dukungan keluarga dalam dakwah — Kisah Khadijah mengajarkan pentingnya istri salehah yang mendukung suami dalam kebaikan.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?