Penjelasan Hadits Muslim No. 159 tentang Tanda matahari terbit dari barat saat iman tak lagi diterima

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan tentang perjalanan matahari menuju tempat peristirahatannya di bawah 'Arsy, sujudnya kepada Allah, dan akhirnya akan terbit dari barat sebagai salah satu tanda besar hari Kiamat. Saat matahari terbit dari barat itulah pintu taubat ditutup, sehingga iman seseorang yang belum beriman sebelumnya tidak lagi bermanfaat. Ini adalah kabar penting agar kita segera beriman dan beramal saleh sebelum datangnya hari itu.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Muslim:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab Al-Iman, Bab Bayani Waqti Alladzi La Yuqbalu fihil Iman (Penjelasan Waktu yang Tidak Diterima Iman), no. 159, dari sahabat Abu Dzar radhiyallahu 'anhu.

Dalil Al-Qur'an yang Terkait:

Allah Ta'ala berfirman:

يَوْمَ يَأْتِي بَعْضُ آيَاتِ رَبِّكَ لَا يَنْفَعُ نَفْسًا إِيمَانُهَا لَمْ تَكُنْ آمَنَتْ مِنْ قَبْلُ أَوْ كَسَبَتْ فِي إِيمَانِهَا خَيْرًا ۗ قُلِ انْتَظِرُوا إِنَّا مُنْتَظِرُونَ

"Pada hari datangnya sebagian tanda-tanda Tuhanmu, tidaklah bermanfaat lagi iman kepada seseorang yang belum beriman sebelum itu, atau dia (belum) mengusahakan kebaikan dalam masa imannya. Katakanlah: 'Tunggulah olehmu sesungguhnya Kami pun menunggu.'" (QS. Al-An'am [6]: 158)

Ayat ini adalah penegasan langsung dari Allah tentang makna yang disampaikan Nabi ﷺ dalam hadits di atas.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan hadits ini dari beberapa sisi:

1. Makna "Tempat Peristirahatan di Bawah 'Arsy"

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menjelaskan bahwa matahari adalah makhluk Allah yang tunduk dan patuh kepada perintah-Nya. Ia bersujud di bawah 'Arsy sebagai bentuk ibadah dan ketaatan, sebagaimana seluruh makhluk bertasbih dan bersujud kepada Allah. Ini adalah hakikat yang kita imani tanpa mempertanyakan caranya (kaifiyah), karena kita tidak mengetahui hakikat 'Arsy dan bagaimana matahari bersujud kecuali sekadar yang diberitakan Nabi ﷺ.

Imam Al-Bukhari rahimahullah dalam Shahih-nya meriwayatkan hadits serupa dari Abu Dzar, dan beliau menempatkannya dalam bab tentang penciptaan makhluk, menunjukkan bahwa ini adalah perkara gaib yang wajib diimani.

2. Terbit dari Barat sebagai Tanda Kiamat

Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa terbitnya matahari dari barat adalah salah satu tanda besar hari Kiamat yang pasti terjadi. Beliau menukil kesepakatan ulama bahwa ketika matahari telah terbit dari barat, maka pintu taubat ditutup. Ini berdasarkan hadits ini dan hadits-hadits lain yang semakna.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa urutan kejadiannya adalah: matahari berjalan seperti biasa hingga waktunya tiba, lalu ia diperintahkan untuk terbit dari barat. Ini adalah kejadian yang belum pernah terjadi sebelumnya, dan menjadi tanda bahwa dunia akan segera berakhir.

3. Makna "Tidak Bermanfaat Iman"

Imam Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan ayat di atas bahwa yang dimaksud adalah orang yang belum beriman sebelum datangnya tanda-tanda besar kiamat, atau orang yang beriman tetapi tidak beramal saleh. Adapun orang yang telah beriman dan beramal saleh sebelumnya, maka imannya tetap bermanfaat dan tidak menjadi sia-sia.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di rahimahullah menjelaskan bahwa hikmahnya adalah agar manusia tidak menunda-nunda keimanan dan amal saleh. Karena setelah tanda besar datang, tidak ada lagi kesempatan untuk bertaubat.

4. Pelajaran tentang Kekuasaan Allah

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitabnya menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan kebesaran Allah dan kekuasaan-Nya atas seluruh alam. Matahari yang kita lihat begitu besar dan terang ternyata adalah makhluk yang patuh, sujud, dan menunggu perintah Rabb-nya. Ini seharusnya menumbuhkan rasa takut dan harap dalam hati seorang mukmin.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa sahabat Abu Dzar radhiyallahu 'anhu suatu hari berada di masjid bersama Nabi ﷺ ketika matahari hampir terbenam. Nabi ﷺ bertanya kepada para sahabat yang hadir: "Apakah kalian tahu ke mana matahari pergi?" Para sahabat menjawab dengan adab: "Allah dan Rasul-Nya lebih tahu."

Maka Nabi ﷺ menjelaskan perjalanan matahari yang agung itu. Abu Dzar radhiyallahu 'anhu yang meriwayatkan hadits ini adalah sahabat yang terkenal dengan kejujurannya dan kecintaannya pada kebenaran. Beliau termasuk orang yang pertama masuk Islam dan dikenal zuhud. Dari beliau kita belajar bahwa seorang mukmin harus selalu ingin tahu tentang tanda-tanda kebesaran Allah dan mempersiapkan diri menghadapi hari akhir.

Hikmah dari kisah ini: para sahabat tidak malu bertanya dan tidak malu menjawab "tidak tahu" demi mendapatkan ilmu. Mereka lebih memilih adab daripada sok tahu. Inilah teladan dalam menuntut ilmu.

Kesimpulan Praktis

  1. Segera beriman dan beramal saleh — jangan menunda taubat, karena pintu taubat akan tertutup saat matahari terbit dari barat.
  2. Mengimani perkara gaib — kita wajib mengimani bahwa matahari bersujud di bawah 'Arsy, meskipun kita tidak mengetahui caranya.
  3. Merenungkan kebesaran Allah — perhatikan alam sekitar sebagai bukti kekuasaan Allah dan pengingat akan hari akhir.
  4. Menjaga amal saleh setelah beriman — karena iman tanpa amal tidak akan menyelamatkan jika datang waktu yang tidak diterima iman.
  5. Tidak menunda-nunda kebaikan — setiap hari adalah kesempatan berharga yang belum tentu kita dapatkan esok hari.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?