Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menegaskan bahwa siapa pun yang telah mendengar dakwah Nabi Muhammad ﷺ dengan benar, lalu meninggal dunia dalam keadaan tidak beriman kepada risalah yang beliau bawa, maka ia termasuk penghuni neraka. Ini adalah konsekuensi dari universalitas kenabian beliau ﷺ, bahwa beliau diutus untuk seluruh umat manusia hingga hari kiamat, dan tidak ada agama lain yang diterima Allah setelah diutusnya beliau.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Muslim:
Teks Arab hadits (sesuai yang Anda cantumkan, dengan harakat lengkap):
<p>وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَا يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ يَهُودِيٌّ وَلَا نَصْرَانِيٌّ ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ إِلَّا كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ</p>
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Al-Iman, Bab Wujub Al-Iman bi Risalah Nabiyyina Muhammad ﷺ ila Jami' An-Nas wa Naskh al-Milal bi Milatihi (Bab Kewajiban Beriman kepada Risalah Nabi kita Muhammad ﷺ kepada Semua Manusia dan Pembatalan Agama-agama dengan Agama-Nya), no. 153, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.
Dalil Al-Qur'an yang terkait:
Allah Ta'ala berfirman:
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
"Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan kepada semua umat manusia sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui." (QS. Saba' [34]: 28)
Allah Ta'ala juga berfirman:
وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ
"Barangsiapa mencari agama selain Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi." (QS. Ali 'Imran [3]: 85)
Penjelasan Rinci
Para ulama dari kalangan Ahlus Sunnah menjelaskan bahwa hadits ini merupakan dalil yang sangat tegas tentang universalitas risalah Nabi Muhammad ﷺ. Beliau diutus bukan hanya untuk bangsa Arab, tetapi untuk seluruh umat manusia, baik Yahudi, Nasrani, maupun pemeluk agama lainnya.
Penjelasan Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim (2/48-49) tentang hadits ini: Beliau menegaskan bahwa makna "هَذِهِ الْأُمَّةِ" (umat ini) di sini adalah umat dakwah, yaitu seluruh manusia yang diajak kepada Islam, bukan umat ijabah (umat yang telah menerima dakwah). Maka siapa pun yang telah sampai kepadanya dakwah Nabi ﷺ dengan benar, lalu ia meninggal dalam kekufuran, maka ia termasuk penghuni neraka. Adapun orang yang belum sampai kepadanya dakwah sama sekali, maka ia diuji pada hari kiamat menurut pendapat yang kuat di kalangan Ahlus Sunnah.
Syeikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarah Al-Arba'in An-Nawawiyah menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan batalnya agama Yahudi dan Nasrani setelah diutusnya Nabi Muhammad ﷺ. Beliau berkata: "Setiap orang yang mendengar tentang Nabi ﷺ, baik ia seorang Yahudi, Nasrani, atau penyembah berhala, maka wajib baginya untuk beriman kepada beliau. Jika ia tidak beriman, maka ia termasuk penghuni neraka."
Syeikh Abdul Aziz bin Baz dalam berbagai fatwanya juga menegaskan bahwa orang-orang Yahudi dan Nasrani yang hidup setelah diutusnya Nabi Muhammad ﷺ dan telah sampai kepada mereka dakwah beliau, maka mereka tidak diterima agamanya. Ini berdasarkan firman Allah dalam QS. Ali 'Imran [3]: 85 dan hadits ini.
Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir-nya (6/492) ketika menafsirkan QS. Saba' [34]: 28 menjelaskan bahwa Allah mengutus Nabi Muhammad ﷺ kepada seluruh umat manusia, tidak seperti para nabi sebelumnya yang diutus khusus kepada kaumnya masing-masing. Beliau menyebutkan bahwa hadits ini menjadi dalil bahwa risalah beliau mencakup semua manusia.
Syeikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam Tafsir-nya ketika menafsirkan QS. Ali 'Imran [3]: 85 menjelaskan bahwa setelah diutusnya Nabi Muhammad ﷺ, tidak ada agama yang diterima Allah selain Islam. Beliau berkata: "Ayat ini menunjukkan bahwa seluruh agama yang menyelisihi Islam adalah batil, dan pelakunya adalah orang-orang yang merugi."
Perlu dipahami bahwa hadits ini tidak bertentangan dengan kasih sayang Islam. Justru Islam mengajarkan dakwah dengan hikmah dan kelembutan. Namun, kebenaran harus tetap ditegakkan: setelah jelas kebenaran, maka setiap jiwa bertanggung jawab atas pilihannya.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa ketika Nabi ﷺ mengirim surat kepada para raja dan pemimpin dunia, beliau mengajak mereka kepada Islam. Di antaranya surat kepada Heraclius, Kaisar Romawi. Ketika Heraclius menerima surat tersebut, ia mengumpulkan para pembesarnya dan membacakan isinya. Abu Sufyan yang saat itu masih musyrik hadir dalam majelis tersebut.
Heraclius bertanya kepada Abu Sufyan tentang sifat-sifat Nabi ﷺ. Setelah mendengar jawaban Abu Sufyan, Heraclius berkata: "Jika apa yang engkau katakan itu benar, maka ia adalah seorang nabi. Aku telah mengetahui bahwa ia akan diutus, dan aku mengira ia akan muncul, tetapi aku tidak menyangka ia berasal dari kalangan kalian."
Namun, ketika Heraclius ingin mengikuti Islam, para pembesarnya menolak dan marah. Akhirnya Heraclius tidak jadi masuk Islam karena takut kehilangan kekuasaannya. Ia berkata kepada Abu Sufyan: "Aku telah mengetahui bahwa apa yang ia bawa adalah benar, tetapi aku tidak mampu mengikutinya."
Kisah ini menunjukkan bahwa orang yang telah mendengar kebenaran lalu berpaling darinya karena kepentingan dunia, maka ia telah kehilangan kesempatan terbesar dalam hidupnya. (Kisah ini diriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari, Kitab Bad' Al-Wahyi, dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma).
Kesimpulan Praktis
- Yakinlah bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang diterima Allah setelah diutusnya Nabi Muhammad ﷺ, dan ini adalah konsekuensi dari keimanan kita kepada beliau.
- Bersyukurlah kepada Allah yang telah memberikan hidayah Islam kepada kita, karena banyak manusia yang belum mendapatkannya.
- Jadilah dai yang baik dengan menyampaikan Islam kepada orang lain dengan hikmah, kelembutan, dan akhlak mulia, sebagaimana dicontohkan Nabi ﷺ.
- Jangan pernah ragu terhadap kebenaran Islam karena pengaruh pemikiran atau budaya yang menyelisihi, karena kebenaran itu jelas dan nyata.
- Perbanyak doa agar Allah meneguhkan hati kita di atas Islam hingga akhir hayat.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.