Penjelasan Hadits Muslim No. 151 tentang Keraguan Ibrahim dan ketenangan hati dengan bukti

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini bukan berarti Nabi ﷺ benar-benar ragu terhadap Allah, melainkan beliau menyampaikan kerendahan hati dan pengagungan kepada para nabi sebelumnya. Nabi Ibrahim عليه السلام meminta bukti tambahan bukan karena lemah iman, tetapi agar hatinya semakin tenang. Hadits ini juga memuji kesabaran Nabi Yusuf عليه السلام dan keteguhan Nabi Lut عليه السلام, serta mengajarkan kita untuk tidak tergesa-gesa menilai orang lain.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang disebutkan dalam hadits:

Firman Allah tentang doa Nabi Ibrahim عليه السلام:

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ أَرِنِي كَيْفَ تُحْيِي الْمَوْتَىٰ قَالَ أَوَلَمْ تُؤْمِن ۖ قَالَ بَلَىٰ وَلَٰكِن لِّيَطْمَئِنَّ قَلْبِي

QS. Al-Baqarah [2]: 260

Terjemahan: "Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata: 'Ya Tuhanku, tunjukkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang mati.' Allah berfirman: 'Apakah engkau tidak beriman?' Ibrahim menjawab: 'Tentu, tetapi agar hatiku tenang.'"

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab Iman, Bab Penambahan Ketenteraman Hati dengan Bukti yang Berlimpah (no. 151), dari sahabat Abu Hurairah رضي الله عنه. Jalur periwayatannya melalui Ibnu Syihab az-Zuhri (wafat 124 H), dari Abu Salamah bin Abdurrahman dan Sa'id bin al-Musayyib (keduanya tabi'in besar).

Keterkaitan dengan ulama:

  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan tawadhu' para nabi dan bahwa permintaan Ibrahim bukanlah keraguan.
  • Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan makna "نَحْنُ أَحَقُّ بِالشَّكِّ" dan menegaskan bahwa ini adalah gaya bahasa Arab untuk menunjukkan kerendahan diri, bukan celaan kepada Ibrahim.
  • Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan ayat Al-Baqarah 260 bahwa Ibrahim ingin melihat dengan mata kepala untuk menambah keyakinan, bukan karena ragu.

Penjelasan Rinci

Makna kalimat "نَحْنُ أَحَقُّ بِالشَّكِّ مِنْ إِبْرَاهِيمَ"

Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa ini adalah ungkapan yang perlu dipahami dengan cermat. Para ulama berbeda dalam memahami maksudnya, namun yang paling kuat — sebagaimana dirajihkan oleh Ibnu Hajar dan an-Nawawi — adalah bahwa ini bentuk kerendahan hati Nabi ﷺ dan pengagungan kepada Ibrahim عليه السلام. Artinya: "Seandainya keraguan itu mungkin terjadi pada seorang nabi, maka kami lebih layak untuk mengalaminya daripada Ibrahim, karena kedudukan Ibrahim lebih tinggi." Ini adalah gaya bahasa Arab yang disebut ta'addub (etika berbicara), bukan pernyataan bahwa Nabi ﷺ benar-benar ragu.

Makna permintaan Ibrahim عليه السلام

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Ibrahim عليه السلام sudah beriman dengan keyakinan penuh. Permintaannya "رَبِّ أَرِنِي كَيْفَ تُحْيِي الْمَوْتَىٰ" adalah untuk menambah ketenangan hati (thuma'ninah), bukan karena keraguan. Ini menunjukkan bahwa iman memiliki tingkatan — ada iman yang kuat dan ada yang lebih kuat lagi. Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam kitabnya menjelaskan bahwa hati manusia perlu terus diperkuat dengan bukti dan tanda kebesaran Allah.

Makna "وَيَرْحَمُ اللَّهُ لُوطًا لَقَدْ كَانَ يَأْوِي إِلَى رُكْنٍ شَدِيدٍ"

Nabi ﷺ menyebut Nabi Lut عليه السلام yang pernah mengatakan bahwa ia ingin berlindung kepada kekuatan yang kuat (dalam Surah Hud [11]: 80). Ibnu Hajar menjelaskan bahwa ini menunjukkan betapa berat ujian yang dihadapi Nabi Lut, dan Allah merahmatinya karena kesabarannya. Ini juga mengajarkan bahwa seorang nabi pun bisa merasa lemah di hadapan ujian besar, namun tetap teguh dalam kebenaran.

Makna "وَلَوْ لَبِثْتُ فِي السِّجْنِ طُولَ لَبْثِ يُوسُفَ لَأَجَبْتُ الدَّاعِيَ"

Nabi ﷺ menyatakan bahwa seandainya beliau dipenjara selama Nabi Yusuf عليه السلام dipenjara, beliau akan segera menjawab panggilan untuk keluar. Ini menunjukkan bahwa Nabi Yusuf عليه السلام memiliki kesabaran luar biasa dan tetap menunggu sampai benar-benar terbukti tidak bersalah. Ibnu Rajab al-Hanbali dalam kitabnya menjelaskan bahwa ini adalah pujian kepada kesabaran Nabi Yusuf dan pengakuan Nabi ﷺ bahwa beliau sendiri mungkin tidak sesabar itu — sekali lagi, ini bentuk tawadhu'.

Perbedaan pendapat ulama:

Sebagian ulama memahami "الشَّكِّ" di sini secara literal, namun mayoritas ulama — termasuk an-Nawawi, Ibnu Hajar, dan Ibnu Katsir — menolak pemahaman literal dan menegaskan bahwa ini adalah gaya bahasa ta'addub dan tawadhu'. Yang rajih (kuat) adalah pendapat jumhur ini, karena tidak mungkin seorang nabi ragu terhadap Allah.

Story Telling

Dikisahkan bahwa suatu ketika Nabi ﷺ bersabda di hadapan para sahabat tentang tiga nabi: Ibrahim, Lut, dan Yusuf عليه السلام. Beliau menyebutkan bagaimana Ibrahim meminta bukti tambahan untuk ketenangan hati, bagaimana Lut berlindung kepada kekuatan yang kuat di tengah kaumnya yang rusak, dan bagaimana Yusuf sabar di penjara bertahun-tahun. Para sahabat mendengarkan dengan penuh perhatian, dan dari sabda beliau mereka belajar bahwa para nabi pun menghadapi ujian berat, namun mereka tetap teguh dan tawadhu'. Ibnu Syihab az-Zuhri meriwayatkan hadits ini dari dua tabi'in besar — Abu Salamah dan Sa'id bin al-Musayyib — yang keduanya dikenal sebagai ulama yang sangat teliti dalam meriwayatkan hadits.

Kesimpulan Praktis

  1. Iman memiliki tingkatan. Kita perlu terus memperkuat iman dengan belajar, beribadah, dan merenungi tanda-tanda kebesaran Allah.
  2. Tawadhu' adalah akhlak para nabi. Nabi ﷺ mengajarkan kita untuk tidak merasa lebih tinggi dari orang lain, bahkan dari para nabi sebelumnya.
  3. Sabar dalam ujian. Kisah Nabi Yusuf dan Nabi Lut mengajarkan kita untuk sabar dan tetap teguh dalam kebenaran, meskipun ujian terasa berat.
  4. Jangan tergesa-gesa menilai. Hadits ini mengajarkan kita untuk memahami perkataan orang lain dengan baik sebelum menilai, terutama perkataan para nabi dan ulama.
  5. Perbanyak bukti keimanan. Seperti Ibrahim yang meminta bukti tambahan, kita pun dianjurkan untuk terus mencari ilmu dan bukti yang menguatkan iman.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?