Tentu, berikut penjelasan hadits tersebut sesuai format dan aturan yang telah ditetapkan.
Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan bahwa salah satu tanda besar dekatnya Hari Kiamat adalah hilangnya penyebutan nama Allah di muka bumi. Ketika tidak ada lagi orang yang menyebut "Allah, Allah" — baik dalam ibadah, doa, maupun rasa takut kepada-Nya — maka saat itulah Kiamat akan terjadi. Ini menunjukkan betapa pentingnya tauhid dan dzikir kepada Allah dalam kehidupan manusia.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Utama:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab Iman, Bab Perginya Iman di Akhir Zaman, nomor 148. Perawinya adalah Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu.
Teks Arab:
حَدَّثَنِي زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ، حَدَّثَنَا عَفَّانُ، حَدَّثَنَا حَمَّادٌ، أَخْبَرَنَا ثَابِتٌ، عَنْ أَنَسٍ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَالَ "لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى لاَ يُقَالَ فِي الأَرْضِ اللَّهُ اللَّهُ"
Terjemahan:
"Tidak akan terjadi Hari Kiamat hingga tidak lagi diucapkan di bumi: Allah, Allah."
Ayat Al-Qur'an yang Relevan:
QS. Al-An'am [6]: 158
هَلْ يَنْظُرُونَ إِلَّا أَنْ تَأْتِيَهُمُ الْمَلَائِكَةُ أَوْ يَأْتِيَ رَبُّكَ أَوْ يَأْتِيَ بَعْضُ آيَاتِ رَبِّكَ ۗ يَوْمَ يَأْتِي بَعْضُ آيَاتِ رَبِّكَ لَا يَنْفَعُ نَفْسًا إِيمَانُهَا لَمْ تَكُنْ آمَنَتْ مِنْ قَبْلُ أَوْ كَسَبَتْ فِي إِيمَانِهَا خَيْرًا ۗ قُلِ انْتَظِرُوا إِنَّا مُنْتَظِرُونَ
Terjemahan: "Tidaklah mereka menunggu-nunggu kecuali kedatangan malaikat-malaikat kepada mereka, atau kedatangan Tuhanmu, atau kedatangan sebagian tanda-tanda Tuhanmu. Pada hari datangnya sebagian tanda-tanda Tuhanmu, tidaklah bermanfaat lagi iman seseorang yang belum beriman sebelum itu, atau yang belum mengerjakan kebaikan dalam imannya. Katakanlah: 'Tunggulah, sesungguhnya kami pun termasuk yang menunggu.'"
Kaitan dengan Ulama:
Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan hilangnya tauhid dan dzikir kepada Allah di akhir zaman. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari juga membahas hadits serupa dan menegaskan bahwa ini adalah tanda besar Kiamat. Ibn Katsir dalam tafsirnya menyebutkan bahwa hilangnya penyebutan nama Allah menandakan rusaknya hati manusia dan hilangnya iman.
Penjelasan Rinci
Hadits ini mengandung makna yang sangat dalam tentang kondisi akhir zaman. Rasulullah ﷺ mengabarkan bahwa Kiamat tidak akan terjadi selama masih ada orang yang menyebut nama Allah di bumi. Namun, ketika penyebutan nama Allah benar-benar hilang — tidak ada lagi yang beribadah, berdoa, atau mengingat Allah — maka saat itu Kiamat akan segera terjadi.
Pemahaman Ulama:
- Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan "tidak diucapkan Allah, Allah" adalah hilangnya tauhid dan dzikir kepada Allah. Beliau menyebutkan bahwa ini bisa berarti tidak ada lagi orang yang mengucapkan kalimat tauhid, atau tidak ada lagi yang menyebut nama Allah dengan rasa takut dan harap.
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menukil pendapat para ulama bahwa hadits ini menunjukkan bahwa Kiamat terjadi ketika manusia sudah benar-benar meninggalkan ibadah dan dzikir. Beliau juga menyebutkan bahwa ini adalah tanda bahwa bumi sudah tidak layak lagi untuk dihuni oleh orang-orang beriman.
- Ibn Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa hilangnya penyebutan nama Allah menandakan bahwa manusia telah sepenuhnya dikuasai oleh kejahatan dan kekufuran. Beliau mengaitkan ini dengan ayat-ayat tentang tanda-tanda Kiamat.
- Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Taisir al-Karim ar-Rahman menegaskan bahwa dzikir dan tauhid adalah cahaya kehidupan. Ketika cahaya ini padam, maka kehidupan dunia pun berakhir.
Perbedaan Pendapat:
Sebagian ulama memahami "Allah, Allah" sebagai dzikir secara umum, sementara yang lain memahaminya sebagai kalimat tauhid "La ilaha illallah". Namun, intinya sama: hilangnya pengagungan dan penyebutan nama Allah di bumi. Pendapat yang paling kuat adalah bahwa yang dimaksud adalah hilangnya tauhid dan dzikir secara keseluruhan, sebagaimana dijelaskan oleh Imam an-Nawawi dan Ibnu Hajar.
Hikmah:
Hadits ini mengajarkan kita bahwa keberadaan orang-orang beriman dan ahli dzikir adalah sebab terjaganya dunia dari kehancuran. Selama masih ada orang yang menyebut nama Allah dengan ikhlas, dunia ini masih diberi kesempatan untuk bertahan. Ini juga menunjukkan betapa besar nilai tauhid dan dzikir dalam Islam.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa suatu ketika seorang tabi'in bernama Al-Hasan al-Bashri rahimahullah ditanya tentang hadits ini. Beliau berkata: "Ketahuilah, sesungguhnya dunia ini tidak akan hancur selama masih ada orang yang menyebut nama Allah. Sebab, dzikir adalah ruh bagi kehidupan. Jika ruh itu hilang, maka kehidupan pun akan sirna."
Beliau juga menceritakan bahwa pada suatu masa, ada seorang lelaki yang selalu berdzikir dengan kalimat "Allah, Allah" di malam hari. Ketika ditanya mengapa ia melakukan itu, ia menjawab: "Aku takut jika nama Allah tidak lagi disebut di bumi ini, maka Kiamat akan segera datang. Aku ingin menjadi salah satu orang yang menjaga penyebutan nama-Nya."
Hikmah dari kisah ini adalah bahwa dzikir bukan hanya ibadah pribadi, tetapi juga memiliki dampak besar bagi keberlangsungan dunia. Orang-orang yang berdzikir adalah penjaga keseimbangan alam ini.
Kesimpulan Praktis
- Perbanyak dzikir kepada Allah dalam setiap keadaan, karena dzikir adalah tanda keimanan dan sebab terjaganya dunia.
- Jaga tauhid dengan tidak menyekutukan Allah dalam ibadah, doa, dan rasa takut.
- Ajarkan dan ingatkan keluarga serta masyarakat tentang pentingnya menyebut nama Allah.
- Renungkan bahwa hilangnya dzikir adalah tanda dekatnya Kiamat, sehingga kita harus semakin mendekat kepada Allah.
- Jadilah orang yang menghidupkan nama Allah di bumi, baik melalui lisan, hati, maupun perbuatan.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.