Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah kabar dari Nabi ﷺ tentang asal-usul tabiat sebagian manusia, yaitu bahwa karena peristiwa yang dilakukan Hawa 'alaihas salam di surga, maka keturunannya (para wanita) memiliki tabiat yang cenderung demikian. Ini bukan berarti semua wanita pasti berkhianat, dan bukan pula celaan yang menghilangkan kemuliaan Hawa. Para ulama menjelaskan bahwa ini adalah pemberitahuan tentang tabiat bawaan (thabi'at) yang bisa dikendalikan dengan iman dan akhlak mulia.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Menyusui (Ar-Radha'), Bab "Seandainya Hawa Tidak Berkhianat kepada Suaminya", no. 1470, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.
Teks hadits yang Anda sebutkan sudah benar, dan berikut kami tuliskan kembali dengan harakat lengkap:
حَدَّثَنَا هَارُونُ بْنُ مَعْرُوفٍ، حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ وَهْبٍ، أَخْبَرَنِي عَمْرُو بْنُ الْحَارِثِ، أَنَّ أَبَا يُونُسَ، مَوْلَى أَبِي هُرَيْرَةَ حَدَّثَهُ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ قَالَ: "لَوْلاَ حَوَّاءُ لَمْ تَخُنْ أُنْثَى زَوْجَهَا الدَّهْرَ"
Maknanya: "Seandainya tidak ada Hawa, niscaya tidak ada seorang wanita pun yang berkhianat kepada suaminya selamanya."
Ayat yang relevan untuk memahami kedudukan Hawa 'alaihas salam dan asal penciptaan wanita adalah firman Allah Ta'ala:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً
QS. An-Nisa' [4]: 1
Artinya: "Wahai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kalian dari diri yang satu (Adam), dan Dia menciptakan darinya pasangannya (Hawa), dan dari keduanya Dia memperbanyak laki-laki dan perempuan."
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan hadits ini dari beberapa sisi:
1. Makna "khianat" dalam hadits ini
Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa yang dimaksud "khianat" di sini bukan hanya zina, tetapi maknanya lebih umum. Beliau berkata: "Makna hadits ini adalah bahwa tabiat wanita itu cenderung kepada khianat terhadap suami, baik dalam perkara harta, pandangan, maupun lainnya. Ini adalah pemberitahuan tentang tabiat, bukan berarti setiap wanita pasti melakukannya." (Syarah An-Nawawi 'ala Muslim, 10/60)
2. Mengapa dinisbahkan kepada Hawa?
Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa sebabnya adalah karena peristiwa ketika Hawa menggoda Adam untuk memakan buah terlarang, dan Allah Ta'ala berfirman:
فَأَكَلَا مِنْهَا فَبَدَتْ لَهُمَا سَوْآتُهُمَا
QS. Thaha [20]: 121
Artinya: "Maka keduanya memakan dari pohon itu, lalu tampaklah aurat keduanya."
Maka karena Hawa adalah sebab Adam dikeluarkan dari surga, dan peristiwa itu menjadi asal mula turunnya manusia ke bumi, maka disebutkan bahwa tabiat wanita memiliki kecenderungan yang diwarisi dari ibu mereka, Hawa.
3. Apakah ini mencela Hawa?
Syeikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa hadits ini bukanlah celaan terhadap Hawa secara mutlak, karena Hawa telah diampuni oleh Allah setelah bertaubat. Beliau berkata: "Hadits ini adalah pemberitahuan tentang tabiat, bukan penetapan dosa yang terus mengalir. Hawa telah bertaubat dan Allah menerima taubatnya. Yang dimaksud adalah bahwa tabiat wanita itu memiliki kecenderungan yang disebutkan, dan ini bukan berarti setiap wanita pasti berbuat khianat." (Syarah Riyadhus Shalihin, 3/214)
4. Bagaimana sikap seorang muslim terhadap hadits ini?
Syeikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah pernah ditanya tentang hadits ini, beliau menjawab bahwa hadits ini shahih dan merupakan kabar dari Nabi ﷺ. Namun beliau menekankan bahwa ini bukan alasan untuk mencurigai semua wanita, dan bukan pula berarti wanita tidak bisa dipercaya. Yang benar adalah setiap individu dinilai berdasarkan amalnya masing-masing. Banyak wanita shalihah yang lebih baik daripada banyak laki-laki. (Majmu' Fatawa Ibnu Baz, 24/360)
5. Hikmah di balik hadits ini
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Zad al-Ma'ad menjelaskan bahwa Nabi ﷺ memberikan petunjuk kepada para suami agar memahami tabiat istri mereka, sehingga mereka tidak kaget jika melihat kekurangan, dan mereka bersabar serta membimbing dengan baik. Ini sejalan dengan sabda Nabi ﷺ dalam hadits lain:
"استوصوا بالنساء خيرا، فإنهن خلقن من ضلع، وإن أعوج شيء في الضلع أعلاه"
"Berwasiatlah kalian dengan kebaikan kepada wanita, karena mereka diciptakan dari tulang rusuk, dan bagian yang paling bengkok dari tulang rusuk adalah bagian atasnya." (HR. Bukhari no. 5185, Muslim no. 1468)
Maka hadits ini mengajarkan para suami untuk bersabar, tidak menuntut kesempurnaan yang mustahil, dan tetap membimbing istri dengan hikmah.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa seorang laki-laki datang kepada Umar bin Khaththab radhiyallahu 'anhu mengeluhkan perilaku istrinya. Umar mendengarkan keluhannya, lalu berkata: "Wahai saudaraku, istri itu adalah teman hidupmu dan ibu bagi anak-anakmu. Terkadang ia memiliki kekurangan, maka bersabarlah. Bukankah engkau juga memiliki kekurangan yang ia sabari?"
Laki-laki itu terdiam, lalu tersenyum dan berkata: "Wahai Amirul Mukminin, sepertinya engkau lebih banyak bersabar daripada aku."
Umar tertawa dan berkata: "Demikianlah, wahai saudaraku. Rumah tangga itu dibangun di atas kesabaran dan saling memahami, bukan di atas tuntutan kesempurnaan."
Kisah ini menunjukkan bahwa para sahabat memahami tabiat wanita sebagaimana disebutkan dalam hadits, namun mereka tidak menjadikannya sebagai alasan untuk berbuat kasar, melainkan sebagai dorongan untuk bersabar dan berbuat baik.
Kesimpulan Praktis
- Hadits ini shahih dan merupakan kabar Nabi ﷺ tentang tabiat bawaan wanita secara umum, bukan vonis atas setiap individu.
- Seorang suami hendaknya memahami tabiat ini agar tidak kaget dan bisa bersabar serta membimbing istri dengan baik.
- Seorang istri yang beriman hendaknya berusaha maksimal untuk menjaga amanah dan tidak berkhianat, karena iman mampu mengendalikan tabiat.
- Kita tidak boleh menjadikan hadits ini sebagai alat untuk merendahkan wanita, karena banyak wanita shalihah yang lebih mulia di sisi Allah daripada banyak laki-laki.
- Yang terpenting adalah saling memahami, bersabar, dan berwasiat dengan kebaikan antara suami dan istri.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.