Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengabarkan bahwa iman akan "menyusut" dan berkumpul kembali ke Madinah pada akhir zaman, sebagaimana ular yang menyusut dan masuk ke lubangnya. Ini adalah kabar gembira tentang keutamaan Madinah sebagai tempat perlindungan iman, sekaligus peringatan bahwa iman akan menjadi asing di tempat lain. Maknanya bukan iman itu hilang total, tetapi ia akan berpusat dan terlindungi di Madinah, terutama saat terjadi fitnah besar di akhir zaman.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Muslim:
Teks hadits yang Anda sebutkan adalah riwayat Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab al-Iman, Bab: "Penjelasan bahwa Islam dimulai dalam keadaan asing dan akan kembali asing..." (no. 147). Lafaznya:
> إِنَّ الإِيمَانَ لَيَأْرِزُ إِلَى الْمَدِينَةِ كَمَا تَأْرِزُ الْحَيَّةُ إِلَى جُحْرِهَا
Artinya: "Sesungguhnya iman itu benar-benar akan kembali/berkumpul ke Madinah sebagaimana ular kembali ke lubangnya."
Hadits Pendukung (riwayat lain):
Dalam riwayat lain yang juga shahih, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Nabi ﷺ bersabda:
> إِنَّ الإِيمَانَ لَيَأْرِزُ إِلَى الْمَدِينَةِ كَمَا تَأْرِزُ الْحَيَّةُ إِلَى جُحْرِهَا
Riwayat ini juga disebutkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahih-nya secara ta'liq (menggantungkan) dan secara mutaba'ah (penguat).
Ayat Al-Qur'an yang Terkait:
QS. Al-Hajj [22]: 40 — tentang Allah melindungi tempat-tempat ibadah:
لَوْلَا دَفْعُ اللَّهِ النَّاسَ بَعْضَهُم بِبَعْضٍ لَّهُدِّمَتْ صَوَامِعُ وَبِيَعٌ وَصَلَوَاتٌ وَمَسَاجِدُ يُذْكَرُ فِيهَا اسْمُ اللَّهِ كَثِيرًا
"Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadah orang Yahudi, dan masjid-masjid yang di dalamnya banyak disebut nama Allah."
Penjelasan Ulama:
Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim (2/31) menjelaskan bahwa makna "al-ya'rizu" (يَأْرِزُ) adalah "berkumpul dan kembali" (يَجْتَمِعُ وَيَرْجِعُ). Beliau menukil perkataan para ulama bahwa makna hadits ini adalah iman akan berkumpul di Madinah dan tidak berpindah darinya, sebagaimana ular kembali ke lubangnya.
Penjelasan Rinci
Para ulama dari kalangan Ahlus Sunnah menjelaskan hadits ini dengan beberapa penafsiran yang saling melengkapi:
1. Makna Bahasa:
Kata "al-ya'rizu" (يَأْرِزُ) berasal dari kata "araza" (أَرَزَ) yang berarti "menyusut, berkumpul, dan kembali ke tempat asalnya." Ini seperti ular yang menyusutkan tubuhnya lalu masuk ke lubang untuk berlindung. Makna ini ditegaskan oleh Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim.
2. Penafsiran Ulama:
Imam an-Nawawi (w. 676 H) dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan Madinah. Iman akan berkumpul di Madinah pada akhir zaman, dan penduduknya akan terlindungi dari fitnah Dajjal karena Allah menjaga mereka melalui para malaikat. Beliau juga menyebutkan bahwa makna "kembalinya iman ke Madinah" adalah bahwa penduduk Madinah akan tetap teguh di atas iman, dan iman seakan-akan "berlindung" di sana.
Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani (w. 852 H) dalam Fath al-Bari (13/68) menjelaskan bahwa hadits ini termasuk tanda kenabian. Beliau menyebutkan bahwa yang dimaksud adalah iman akan berkumpul di Madinah pada masa munculnya fitnah dan cobaan besar, karena Madinah adalah tempat hijrah Nabi ﷺ dan tempat tersebarnya sunnah.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin (w. 1421 H) dalam Syarah Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa Madinah akan menjadi tempat berlindungnya orang-orang beriman pada akhir zaman. Beliau juga menegaskan bahwa ini bukan berarti iman hilang dari tempat lain seluruhnya, tetapi ia akan "berpusat" dan "terlindungi" di Madinah.
3. Hikmah dan Pelajaran:
Hadits ini mengajarkan beberapa hal:
- Keutamaan Madinah: Madinah adalah kota yang diberkahi, tempat hijrah Nabi ﷺ, dan akan menjadi pusat berkumpulnya iman di akhir zaman.
- Tanda kenabian: Rasulullah ﷺ mengabarkan perkara ghaib yang terbukti dalam sejarah — bahwa Madinah senantiasa menjadi benteng Ahlus Sunnah.
- Peringatan akan keasingan iman: Di akhir zaman, orang-orang beriman akan merasa asing di tengah masyarakat, dan mereka akan mencari perlindungan di tempat-tempat yang menjaga sunnah.
4. Perbedaan Penafsiran Ulama:
Ada dua penafsiran utama di kalangan ulama:
- Pertama: Iman secara hakiki akan berkumpul di Madinah pada akhir zaman, sehingga penduduknya menjadi orang-orang yang paling teguh imannya. Ini pendapat yang dikuatkan oleh Imam an-Nawawi dan Ibnu Hajar.
- Kedua: Yang dimaksud adalah "iman" dalam arti syiar-syiar Islam dan ilmu agama akan berpusat di Madinah, karena di sanalah para ulama pewaris Nabi ﷺ tinggal.
Kedua penafsiran ini tidak bertentangan, karena keduanya menunjukkan keutamaan Madinah dan perlindungan Allah bagi penduduknya yang beriman.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa ketika fitnah besar terjadi di akhir zaman — yaitu keluarnya Dajjal — Madinah akan diguncang tiga kali guncangan, sehingga setiap orang munafik dan kafir akan keluar darinya. Ini sebagaimana disebutkan dalam hadits riwayat Imam Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda:
> "Madinah akan ditinggalkan oleh penduduknya yang paling buruk, lalu Madinah akan bersih sebagaimana bersihnya pandai besi yang membersihkan karat besi."
Para ulama menjelaskan bahwa inilah makna "iman kembali ke Madinah" — Allah akan membersihkan Madinah dari orang-orang munafik, sehingga yang tersisa hanyalah orang-orang beriman yang teguh. Mereka akan berlindung di Madinah dari fitnah Dajjal, karena Allah menjadikan Madinah sebagai benteng yang dilindungi para malaikat.
Kesimpulan Praktis
Beberapa pelajaran yang bisa kita amalkan:
- Mencintai Madinah dan menghormatinya sebagai kota Nabi ﷺ, karena ia adalah tempat berlindungnya iman.
- Berpegang teguh pada sunnah di tengah keasingan iman, karena orang yang berpegang pada sunnah di akhir zaman bagaikan menggenggam bara api.
- Menjauhi kemunafikan, karena Allah akan membersihkan Madinah dari orang-orang munafik pada akhir zaman.
- Meyakini tanda-tanda kenabian, bahwa apa yang dikabarkan Rasulullah ﷺ pasti terjadi.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.