Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengabarkan bahwa Islam pada awal kemunculannya dianggap asing oleh masyarakat jahiliyah, dan di akhir zaman nanti Islam akan kembali menjadi asing di tengah masyarakat yang jauh dari petunjuk. Namun, orang-orang yang tetap berpegang teguh pada Islam di tengah keterasingan itulah yang mendapat kabar gembira (thuba) berupa kebaikan dan surga.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Muslim:
Teks Arab:
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبَّادٍ، وَابْنُ أَبِي عُمَرَ، جَمِيعًا عَنْ مَرْوَانَ الْفَزَارِيِّ، قَالَ ابْنُ عَبَّادٍ حَدَّثَنَا مَرْوَانُ، عَنْ يَزِيدَ، - يَعْنِي ابْنَ كَيْسَانَ - عَنْ أَبِي حَازِمٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ " بَدَأَ الإِسْلاَمُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ " .
Terjemahan: Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Islam dimulai dalam keadaan asing, dan ia akan kembali asing sebagaimana ia dimulai. Maka beruntunglah (thuba) bagi orang-orang yang asing."
Penjelasan Ulama:
- Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (2/175) menjelaskan bahwa makna "gharib" (asing) di sini adalah sedikitnya pemeluk Islam di awal dakwah, dan akan kembali sedikit di akhir zaman. Beliau juga menukil perkataan Imam al-Awza'i bahwa yang dimaksud "ghuraba'" adalah orang-orang yang saleh di tengah kerusakan zaman.
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari (13/292) menambahkan bahwa "thuba" berarti kebaikan yang abadi, ada pula yang menafsirkannya sebagai pohon di surga. Beliau merujuk pada tafsir Ibnu 'Abbas dan Mujahid bahwa "thuba" adalah kebahagiaan dan kenikmatan yang tiada putus.
- Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam (1/278) menegaskan bahwa orang-orang asing (ghuraba') adalah mereka yang memperbaiki apa yang telah dirusak manusia dari sunnah Nabi ﷺ.
Penjelasan Rinci
Hadits ini mengandung dua kabar besar:
Pertama: Islam dimulai dalam keadaan asing.
Pada masa awal kenabian, hanya sedikit orang yang menerima dakwah Rasulullah ﷺ. Mereka dianggap aneh oleh kaum Quraisy karena meninggalkan agama nenek moyang dan menyembah Allah semata. Imam al-Hasan al-Bashri berkata: "Islam datang dalam keadaan asing, dan orang-orang yang berpegang teguh padanya dianggap aneh oleh manusia."
Kedua: Islam akan kembali asing di akhir zaman.
Ini terjadi ketika kebodohan merajalela, sunnah ditinggalkan, dan bid'ah dianggap baik. Imam Fudail bin 'Iyadh berkata: "Berpeganglah pada jalan petunjuk meskipun sedikit pengikutnya, dan jangan tertipu oleh banyaknya orang yang sesat." Beliau juga menafsirkan "ghuraba'" sebagai orang yang sedikit di dunia tetapi mulia di sisi Allah.
Makna "Thuba lil Ghuraba'"
Kata "thuba" adalah kalimat pujian yang berarti kebaikan, kebahagiaan, dan kenikmatan. Imam Ibn Katsir dalam tafsirnya (QS. Ar-Ra'd: 29) menjelaskan bahwa "thuba" adalah surga atau pohon di surga yang naungannya sejauh perjalanan seratus tahun. Jadi, sabda Nabi ﷺ ini adalah kabar gembira bagi mereka yang tetap istiqamah di atas Islam meskipun dianggap aneh oleh kebanyakan orang.
Siapa yang dimaksud "ghuraba'" (orang-orang asing)?
Para ulama dari kalangan salaf memberikan beberapa penjelasan yang saling melengkapi:
- Imam Ahmad bin Hanbal berkata: "Mereka adalah orang yang sedikit di zamannya, tetapi mereka memperbaiki apa yang dirusak manusia dari sunnah."
- Imam al-Awza'i berkata: "Mereka bukanlah orang yang keluar dari masyarakat, tetapi mereka adalah orang-orang saleh yang hidup di tengah kerusakan."
- Ibnu Rajab menambahkan: "Mereka adalah orang yang berpegang teguh pada sunnah ketika manusia meninggalkannya, dan mereka mengajak kepada kebaikan meskipun dicela."
Story Telling
Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa suatu hari Rasulullah ﷺ bersabda: "Sesungguhnya Islam dimulai dalam keadaan asing, dan akan kembali asing. Maka beruntunglah orang-orang yang asing." Para sahabat bertanya: "Wahai Rasulullah, siapakah mereka?" Beliau menjawab: "Mereka adalah orang-orang yang memperbaiki (menghidupkan) sunnahku yang telah dirusak oleh manusia setelahku." (HR. At-Tirmidzi, hasan)
Kisah ini menunjukkan bahwa menjadi "asing" bukanlah aib, melainkan kebanggaan di sisi Allah. Imam Ibn al-Mubarak pernah berkata: "Jika engkau melihat seseorang yang berpegang teguh pada sunnah di tengah manusia yang lalai, maka ketahuilah bahwa ia adalah salah seorang dari ghuraba'."
Kesimpulan Praktis
- Jangan takut dianggap aneh karena berpegang teguh pada Al-Qur'an dan sunnah di tengah masyarakat yang jauh dari agama.
- Perbaiki diri dan lingkungan dengan menghidupkan sunnah-sunnah Nabi ﷺ yang mulai ditinggalkan.
- Bersabar dan istiqamah karena pahala besar menanti orang-orang yang asing karena ketaatan.
- Jadilah teladan dengan akhlak mulia agar orang lain tertarik pada Islam, bukan menjauh.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.