Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Muslim No. 143 tentang Bab Mengangkat Amanah dan Iman dari Beberapa Hati dan Menyajikan Fitnah kepada Hati

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengabarkan tentang amanah (sifat jujur dan dapat dipercaya) yang mula-mula ditanamkan Allah di dalam hati manusia, lalu dikuatkan dengan Al-Qur'an dan Sunnah. Namun di akhir zaman, amanah itu akan dicabut sedikit demi sedikit sehingga manusia kehilangan kepercayaan, iman dalam hati pun menipis, dan orang yang memiliki sedikit amanah pun dianggap luar biasa. Ini adalah salah satu tanda kiamat dan ujian bagi umat Islam.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang terkait:

QS. Al-Ahzab [33]: 72

إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنْسَانُ ۖ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا

Terjemahan: "Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanah kepada langit, bumi, dan gunung-gunung; tetapi semuanya enggan untuk memikulnya dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanah itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh."

Hadits: Shahih Muslim, Kitab al-Iman, Bab "Raf' al-Amanah", no. 143, dari sahabat Hudzaifah bin al-Yaman radhiyallahu 'anhu.

Penjelasan ulama daftar:

  • Imam an-Nawawi rahimahullah dalam Syarh Shahih Muslim (2/168-170) menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa amanah adalah sifat yang mula-mula ada dalam hati manusia, lalu dikuatkan dengan wahyu. Pencabutan amanah terjadi secara bertahap, dan akhirnya iman tinggal seberat biji sawi atau bahkan hilang.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah dalam Fath al-Bari (1/85-86, syarah Shahih al-Bukhari) menguatkan bahwa yang dimaksud "amanah" di sini adalah sifat jujur dan tanggung jawab dalam menjalankan perintah Allah, termasuk menjaga iman.
  • Ibn Rajab al-Hanbali rahimahullah dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam (syarah hadits ke-2 tentang iman) menjelaskan bahwa hilangnya amanah adalah tanda lemahnya iman dan dekatnya hari kiamat.

Penjelasan Rinci

Hadits ini diriwayatkan oleh sahabat Hudzaifah bin al-Yaman radhiyallahu 'anhu, seorang yang diberitahu oleh Nabi �elu tentang fitnah-fitnah yang akan terjadi. Beliau berkata: "Rasulullah ﷺ menceritakan dua hal, satu telah kulihat dan yang lain aku tunggu."

Makna pertama: Turunnya amanah

Nabi ﷺ bersabda: "Amanah itu turun di dalam akar hati manusia (jżir qulub ar-rijal), kemudian turun Al-Qur'an, lalu mereka belajar dari Al-Qur'an dan belajar dari Sunnah."

Yang dimaksud "amanah" di sini adalah sifat dasar jujur, bertanggung jawab, dan kepercayaan yang Allah tanamkan dalam fitrah manusia. Menurut Ibnu Katsir dalam tafsir QS. Al-Ahzab: 72, amanah meliputi semua kewajiban agama (seperti shalat, zakat, puasa, dan menjaga kehormatan), serta muamalah sesama manusia (seperti titipan, janji, dan transaksi). Ayat di atas menunjukkan bahwa manusia diberi beban ini karena kesanggupannya, meskipun ia sering zalim dan bodoh.

Nabi menjelaskan bahwa setelah fitrah itu ada, Allah menurunkan Al-Qur'an dan menetapkan Sunnah, sehingga manusia bisa mengetahui secara detail bagaimana menjalankan amanah tersebut. Ini menunjukkan bahwa iman dan amal saling menguatkan.

Makna kedua: Pencabutan amanah di akhir zaman

Nabi ﷺ kemudian menggambarkan proses pencabutan amanah dengan contoh yang sangat hidup:

  1. Seseorang tidur sejenak, lalu amanah diambil dari hatinya, meninggalkan bekas seperti titik hitam (al-wakt).
  2. Ia tidur lagi, lalu amanah diambil lagi, meninggalkan bekas seperti lepuh (al-majl), yaitu gelembung kulit akibat bara api yang digulingkan di kaki. Lepuh itu tampak membengkak tapi kosong di dalamnya.

Para ulama, seperti Imam an-Nawawi, menjelaskan bahwa ini adalah perumpamaan hilangnya iman secara bertahap. Awalnya hanya noda kecil, lalu jika terus menerus melakukan maksiat dan meninggalkan kewajiban, iman itu hilang total, hanya menyisakan bekas tanpa isi.

Akibatnya, manusia berbisnis dan berinteraksi, namun hampir tidak ada yang bisa dipercaya untuk mengembalikan titipan. Sampai-sampai di suatu suku ada satu orang yang amanah, ia pun dipuji berlebihan: "Alangkah tegasnya, alangkah cerdasnya, alangkah bijaksananya!" Padahal di hatinya tidak ada iman seberat biji sawi.

Imam Ahmad bin Hanbal dan Ibn Rajab menafsirkan bahwa pujian tersebut adalah karena manusia sudah kehilangan standar kejujuran. Orang yang sedikit saja memiliki sifat amanah dianggap luar biasa, padahal hatinya kosong dari iman. Ini adalah tanda akhir zaman di mana kemunafikan merajalela.

Perkataan Hudzaifah:

Hudzaifah radhiyallahu 'anhu lalu berkata: "Aku pernah melalui masa di mana aku tidak peduli dengan siapa aku bertransaksi. Jika dia muslim, agamanya akan mendorongnya untuk menunaikan hakku. Jika dia Nasrani atau Yahudi, penguasanya akan memaksanya untuk menunaikan hakku. Tapi hari ini aku tidak mau bertransaksi dengan kalian kecuali si fulan dan si fulan."

Ini menunjukkan bahwa pada zaman sahabat, masih ada orang yang amanah dan ada juga yang tidak. Namun secara bertahap, kepercayaan semakin menipis.

Story Telling

Diriwayatkan dari Hudzaifah bin al-Yaman radhiyallahu 'anhu, beliau adalah sahabat yang sangat tahu tentang fitnah. Suatu hari, Umar bin al-Khattab radhiyallahu 'anhu bertanya kepada para sahabat: "Siapa di antara kalian yang paling hafal tentang fitnah dari Rasulullah ﷺ?" Mereka menjawab: "Engkau, wahai Amirul Mukminin." Umar berkata: "Tidak, yang paling tahu tentang itu adalah orang yang ketika ditanya, ia menjawab dengan benar." Lalu mereka menunjuk Hudzaifah. Umar pun bertanya kepada Hudzaifah, dan Hudzaifah menjelaskan tentang fitnah-fitnah yang akan terjadi (Shahih al-Bukhari, no. 7096).

Hudzaifah sendiri menyaksikan sebagian dari yang diberitakan Nabi ﷺ, seperti hilangnya amanah di kalangan manusia. Beliau berhati-hati dalam bermuamalah, hanya dengan orang-orang yang benar-benar dikenal amanahnya. Ini menjadi pelajaran bagi kita untuk tidak mudah percaya kepada semua orang, terutama di zaman penuh fitnah, namun tetap berusaha menjadi pribadi yang amanah.

Kesimpulan Praktis

  1. Jaga amanah dalam segala hal – baik kepada Allah (ibadah) maupun kepada sesama (titipan, janji, pekerjaan). Hilangnya amanah adalah tanda berkurangnya iman.
  2. Perkuat iman dengan ilmu – amanah yang ada dalam fitrah perlu dikuatkan dengan Al-Qur'an dan Sunnah, agar tidak mudah luntur.
  3. Waspadai pujian berlebihan – dalam hadits, orang yang kehilangan iman justru dipuji karena sedikit sifat amanahnya. Jangan terjebak dengan popularitas atau sanjungan yang tidak berdasarkan ketakwaan.
  4. Berhati-hati dalam muamalah – di akhir zaman, sedikit sekali orang yang benar-benar amanah. Maka carilah mitra bisnis yang dikenal kejujurannya, dan jangan mudah tertipu.
  5. Perbanyak doa – agar Allah menjaga amanah dan iman dalam hati kita, serta melindungi kita dari fitnah yang menghilangkannya.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.