Penjelasan Hadits Muslim No. 1398 tentang Masjid Nabawi adalah masjid yang didirikan atas ketaqwaan

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan bahwa masjid yang dimaksud dalam firman Allah "masjid yang didirikan di atas ketakwaan" (QS. At-Taubah [9]: 108) adalah Masjid Nabawi di Madinah, bukan Masjid Quba'. Meskipun banyak ulama menyebutkan bahwa yang dimaksud adalah Masjid Quba', hadits riwayat Abu Sa'id Al-Khudri ini dengan tegas menyatakan bahwa Rasulullah ﷺ sendiri yang menunjukkan bahwa yang dimaksud adalah Masjid Nabawi. Ini menunjukkan keutamaan besar Masjid Nabawi dan pentingnya memahami tafsir Al-Qur'an berdasarkan penjelasan langsung dari Nabi ﷺ.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang terkait:

QS. At-Taubah [9]: 108

لَا تَقُمْ فِيهِ أَبَدًا ۚ لَمَسْجِدٌ أُسِّسَ عَلَى التَّقْوَىٰ مِنْ أَوَّلِ يَوْمٍ أَحَقُّ أَنْ تَقُومَ فِيهِ ۚ فِيهِ رِجَالٌ يُحِبُّونَ أَنْ يَتَطَهَّرُوا ۚ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُطَّهِّرِينَ

"Janganlah engkau melaksanakan shalat dalam masjid itu selama-lamanya. Sungguh, masjid yang didirikan di atas dasar takwa sejak hari pertama adalah lebih berhak engkau melaksanakan shalat di dalamnya. Di dalamnya ada orang-orang yang ingin menyucikan diri. Allah menyukai orang-orang yang bersuci."

Hadits terkait:

Hadits yang disampaikan dalam pertanyaan diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Haji, Bab Penjelasan bahwa Masjid yang Didirikan di Atas Ketaqwaan adalah Masjid Nabi ﷺ di Madinah (no. 1398). Diriwayatkan dari Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallahu 'anhu.

Kaitan dengan ulama:

Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan adanya dua pendapat tentang makna ayat ini—apakah yang dimaksud Masjid Quba' atau Masjid Nabawi—dan beliau menyebutkan hadits Abu Sa'id Al-Khudri ini sebagai dalil bahwa yang dimaksud adalah Masjid Nabawi. Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam tafsirnya juga menjelaskan konteks ayat ini berkaitan dengan Masjid Quba' dan Masjid Nabawi, dengan menekankan bahwa keduanya didirikan di atas ketakwaan, namun konteks ayat lebih mengarah pada Masjid Quba' berdasarkan sebab turunnya, sementara hadits ini menunjukkan keutamaan Masjid Nabawi.

Penjelasan Rinci

Para ulama berbeda pendapat dalam menafsirkan "masjid yang didirikan di atas ketakwaan" dalam QS. At-Taubah [9]: 108. Perbedaan ini muncul karena konteks ayat dan hadits-hadits yang ada.

Pendapat pertama: Yang dimaksud adalah Masjid Quba'. Ini berdasarkan riwayat bahwa ayat ini turun berkenaan dengan Masjid Quba' dan Masjid Dhirar. Masjid Dhirar adalah masjid yang dibangun oleh orang-orang munafik untuk memecah belah kaum muslimin, dan Allah memerintahkan Nabi ﷺ untuk menghancurkannya. Dalam konteks ini, Allah membandingkan Masjid Quba' yang didirikan di atas ketakwaan dengan Masjid Dhirar yang didirikan di atas kemunafikan. Pendapat ini dikuatkan oleh Imam Al-Bukhari yang meriwayatkan dari Ibnu Umar bahwa ia berkata: "Dua masjid yang dimaksud adalah Masjid Quba' dan Masjid Nabawi." Namun riwayat lain menyebutkan bahwa Ibnu Umar pernah ditanya tentang hal ini dan beliau menjawab bahwa yang dimaksud adalah Masjid Nabawi.

Pendapat kedua: Yang dimaksud adalah Masjid Nabawi. Ini berdasarkan hadits Abu Sa'id Al-Khudri yang sedang kita bahas ini. Dalam hadits tersebut, ketika Abu Sa'id bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang masjid mana yang dimaksud, beliau mengambil segenggam kerikil, melemparkannya ke tanah, lalu bersabda: "Itulah masjid kalian ini"—yakni Masjid Nabawi di Madinah.

Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan "masjid yang didirikan di atas ketakwaan" dalam ayat tersebut adalah Masjid Nabawi. Beliau juga menyebutkan bahwa pendapat ini dipilih oleh sebagian ulama karena hadits ini adalah penjelasan langsung dari Nabi ﷺ.

Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa terdapat dua pendapat yang masyhur di kalangan ulama tafsir, dan beliau cenderung menggabungkan kedua pendapat tersebut dengan mengatakan bahwa kedua masjid tersebut—Masjid Quba' dan Masjid Nabawi—sama-sama didirikan di atas ketakwaan, namun konteks ayat lebih spesifik kepada salah satunya berdasarkan sebab turunnya.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin menjelaskan bahwa tidak ada pertentangan antara kedua pendapat ini. Ayat tersebut turun dalam konteks Masjid Quba', namun ketika Nabi ﷺ ditanya secara langsung, beliau menunjukkan Masjid Nabawi. Ini menunjukkan bahwa Masjid Nabawi juga termasuk dalam cakupan ayat tersebut, bahkan lebih utama karena didirikan oleh Nabi ﷺ sendiri dan menjadi pusat dakwah Islam.

Yang menarik dalam hadits ini adalah cara Nabi ﷺ menjawab. Beliau tidak langsung menjawab dengan kata-kata, tetapi mengambil segenggam kerikil dan melemparkannya ke tanah. Ini adalah gaya bahasa isyarat yang menunjukkan bahwa jawabannya sudah sangat jelas dan tidak perlu diperdebatkan lagi—seolah-olah beliau berkata: "Masjid ini yang jelas di hadapan kalian, bukan yang lain."

Story Telling

Ada kisah menarik tentang Masjid Quba' dan keutamaannya. Diriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ biasa mengunjungi Masjid Quba' setiap hari Sabtu, baik dengan berkendara maupun berjalan kaki. Beliau bersabda: "Shalat di Masjid Quba' setara dengan pahala umrah." (HR. At-Tirmidzi, dan dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani).

Namun, ketika turun ayat tentang "masjid yang didirikan di atas ketakwaan", banyak sahabat yang penasaran. Abu Sa'id Al-Khudri termasuk salah satunya. Beliau pergi ke rumah salah satu istri Nabi ﷺ dan bertanya langsung. Jawaban Nabi ﷺ dengan isyarat kerikil menunjukkan bahwa Masjid Nabawi memiliki kedudukan yang sangat istimewa—bahkan lebih utama dari Masjid Quba' yang juga mulia.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa Masjid Nabawi adalah masjid yang paling utama setelah Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, dan keutamaannya disebutkan dalam banyak hadits. Salah satunya: "Shalat di masjidku ini lebih baik daripada seribu shalat di masjid lainnya, kecuali Masjidil Haram." (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Kesimpulan Praktis

  1. Masjid Nabawi memiliki kedudukan yang sangat tinggi—ia adalah masjid yang didirikan di atas ketakwaan dan menjadi pusat peradaban Islam pertama.
  2. Masjid Quba' juga mulia—didirikan di atas ketakwaan sejak hari pertama, dan shalat di dalamnya setara pahala umrah.
  3. Pentingnya bertanya kepada ulama—sebagaimana Abu Sa'id bertanya langsung kepada Nabi ﷺ, kita pun harus bertanya kepada ulama yang berilmu ketika ada keraguan dalam memahami Al-Qur'an dan hadits.
  4. Menghormati masjid-masjid bersejarah—kita dianjurkan untuk memuliakan masjid-masjid yang memiliki keutamaan, terutama Masjid Nabawi dan Masjid Quba' ketika berziarah ke Madinah.
  5. Menjaga kesucian masjid—masjid yang didirikan di atas ketakwaan harus dijaga dari segala bentuk kemaksiatan dan perbuatan yang dapat mengotori kesuciannya.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?