Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan keutamaan tempat di Masjid Nabawi antara rumah Nabi ﷺ (yakni kuburnya yang mulia) dan mimbarnya, yang beliau sebut sebagai "raudhah" (taman) dari taman-taman surga. Maknanya bukan bahwa tempat itu secara fisik adalah surga, melainkan tempat yang mulia, diberkahi, dan menjadi tempat ibadah yang mengantarkan pelakunya kepada surga. Nabi ﷺ juga menyebut bahwa mimbarnya berada di atas haudh (telaga) beliau di akhirat.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab al-Hajj, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.
Teks hadits:
مَا بَيْنَ بَيْتِي وَمِنْبَرِي رَوْضَةٌ مِنْ رِيَاضِ الْجَنَّةِ وَمِنْبَرِي عَلَى حَوْضِي
Terjemahan: "Apa yang ada antara rumahku dan mimbarku adalah taman dari taman-taman surga, dan mimbarku berada di atas telagaku."
Dalil Al-Qur'an yang berkaitan dengan keutamaan Masjid Nabawi dan haudh:
QS. At-Taubah [9]: 108
لَا تَقُمْ فِيهِ أَبَدًا ۚ لَمَسْجِدٌ أُسِّسَ عَلَى التَّقْوَىٰ مِنْ أَوَّلِ يَوْمٍ أَحَقُّ أَنْ تَقُومَ فِيهِ ۚ فِيهِ رِجَالٌ يُحِبُّونَ أَنْ يَتَطَهَّرُوا ۚ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُطَّهِّرِينَ
Terjemahan: "Janganlah engkau shalat di dalamnya selama-lamanya. Sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasar takwa sejak hari pertama lebih berhak engkau shalat di dalamnya. Di dalamnya ada orang-orang yang suka membersihkan diri, dan Allah menyukai orang-orang yang membersihkan diri."
Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan tempat tersebut dan bahwa beribadah di sana memiliki keutamaan besar. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari juga membahas hadits serupa dari riwayat lain dan menjelaskan makna "raudhah" secara bahasa dan syariat.
Penjelasan Rinci
Hadits ini mengandung beberapa poin penting yang dijelaskan oleh para ulama dalam daftar rujukan:
Pertama, makna "raudhah min riyadhil jannah". Imam an-Nawawi menyebutkan bahwa para ulama berbeda pendapat dalam memaknainya. Sebagian memahami secara hakiki bahwa tempat itu akan menjadi taman surga di akhirat, sebagian memahami secara majaz (kiasan) bahwa tempat itu adalah tempat yang penuh berkah dan ibadah di sana mengantarkan ke surga. Pendapat yang dipilih oleh an-Nawawi dan dikuatkan oleh Ibnu Hajar adalah makna majaz, yaitu bahwa tempat tersebut adalah tempat yang mulia, penuh keberkahan, dan menjadi sarana menuju surga. Ini sejalan dengan kaidah bahwa sesuatu yang mengantarkan kepada surga dapat disebut sebagai "dari surga".
Kedua, batas tempat tersebut. Ibnu Hajar menjelaskan bahwa yang dimaksud "baiti" (rumahku) adalah rumah Nabi ﷺ yang sekarang menjadi kuburnya, dan "mimbari" adalah mimbar beliau. Jadi area antara keduanya di Masjid Nabawi adalah area yang dimuliakan.
Ketiga, "wa mimbari 'ala haudhi" (mimbarku berada di atas telagaku). Ibnu Katsir dan an-Nawawi menjelaskan bahwa Nabi ﷺ memiliki haudh (telaga) di akhirat yang airnya lebih putih dari susu dan lebih manis dari madu, dan mimbar beliau akan berada di atasnya. Ini menunjukkan kemuliaan mimbar Nabi ﷺ dan kedudukan beliau yang agung di akhirat.
Keempat, Imam an-Nawawi menegaskan bahwa hadits ini menjadi dalil keutamaan shalat dan berdoa di area raudhah, dan banyak salaf yang bersemangat beribadah di sana. Namun beliau juga mengingatkan agar tidak berlebihan hingga menyakiti orang lain atau mengganggu kekhusyukan jamaah lain.
Ibnu Rajab al-Hanbali dalam kitabnya menjelaskan bahwa keutamaan tempat ini bukan karena zat tanahnya, melainkan karena keberadaan Nabi ﷺ, mimbar beliau, dan ibadah yang dilakukan di sana. Ini sejalan dengan prinsip bahwa kemuliaan tempat tergantung pada kemuliaan amal dan orang yang beribadah di dalamnya.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa para sahabat dan salaf sangat memuliakan area raudhah ini. Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, perawi hadits ini, adalah salah satu sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits dan sangat mencintai Masjid Nabawi. Beliau menghabiskan banyak waktu di masjid untuk belajar dan beribadah.
Suatu ketika, seorang tabi'in bernama Sa'id bin al-Musayyib, salah satu ulama besar Madinah, dikenal sangat bersemangat shalat di area raudhah dan berdoa di sana. Beliau mengatakan bahwa tempat itu adalah tempat mustajab untuk berdoa, sebagaimana disebutkan dalam riwayat-riwayat tentang keutamaan Masjid Nabawi. Namun beliau juga menekankan adab, tidak berdesak-desakan, dan menjaga kebersihan serta ketenangan masjid.
Hikmahnya: kemuliaan tempat harus diiringi dengan kemuliaan adab dan amal, bukan sekadar mengandalkan tempat tanpa memperbaiki diri.
Kesimpulan Praktis
- Area antara rumah Nabi ﷺ dan mimbar beliau di Masjid Nabawi adalah tempat yang mulia dan diberkahi, disebut raudhah dari taman surga.
- Maknanya adalah tempat yang penuh keberkahan dan ibadah di sana mengantarkan kepada surga, bukan bahwa tempat itu secara fisik adalah surga.
- Mimbar Nabi ﷺ akan berada di atas haudh beliau di akhirat, menunjukkan kemuliaan beliau dan mimbar beliau.
- Dianjurkan bagi yang mampu untuk shalat dan berdoa di area raudhah dengan adab, tidak berdesak-desakan, dan menjaga kekhusyukan.
- Kemuliaan tempat harus diiringi dengan kemuliaan amal, akhlak, dan adab.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.