Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah kabar gembira dari Nabi ﷺ tentang keistimewaan Kota Madinah. Allah ﷻ menjaga kota Nabi-Nya dengan menempatkan para malaikat di pintu-pintu masuknya. Karena penjagaan ini, wabah penyakit (tha'un) dan Dajjal tidak akan mampu memasuki Madinah. Ini adalah bentuk kemuliaan dan perlindungan khusus dari Allah untuk kota hijrah Nabi ﷺ.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Haji, Bab Perlindungan Kota Madinah dari Masuknya Wabah dan Dajjal, nomor 1379, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.
Berikut teks hadits dalam bahasa Arab beserta artinya:
عَلَى أَنْقَابِ الْمَدِينَةِ مَلاَئِكَةٌ لاَ يَدْخُلُهَا الطَّاعُونُ وَلاَ الدَّجَّالُ
Artinya: "Di pintu-pintu (jalan-jalan masuk) Madinah terdapat para malaikat, sehingga wabah tha'un dan Dajjal tidak dapat memasukinya."
Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahih-nya (no. 1880) dari jalur lain, dan lafaznya berbunyi:
لَا يَدْخُلُ الْمَدِينَةَ الْمَسِيحُ الدَّجَّالُ وَلَا الطَّاعُونُ
Artinya: "Tidak akan masuk ke Madinah Al-Masih Ad-Dajjal dan tidak pula wabah tha'un."
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan beberapa faedah penting dari hadits ini:
1. Makna "Anqab" (أَنْقَاب)
Imam an-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim (9/123) menjelaskan bahwa kata "anqab" (أَنْقَاب) adalah bentuk jamak dari "naqab" (نَقَب), yang artinya jalan-jalan sempit di antara gunung-gunung yang menjadi pintu masuk menuju suatu kota. Jadi, maksudnya adalah jalan-jalan masuk atau celah-celah yang menghubungkan luar kota dengan bagian dalam Madinah.
2. Penjagaan Malaikat di Pintu Madinah
Hadits ini mengabarkan bahwa Allah ﷻ menugaskan para malaikat untuk menjaga pintu-pintu masuk Madinah. Ini adalah bentuk kehormatan khusus yang Allah berikan kepada kota Rasul-Nya ﷺ. Imam Ibn Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari (13/81) menyebutkan bahwa penjagaan malaikat ini adalah hakikat yang nyata, bukan sekadar kiasan. Para malaikat benar-benar menjaga kota tersebut dari hal-hal yang disebutkan.
3. Wabah Tha'un Tidak Masuk Madinah
Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah wabah tha'un yang bersifat umum dan melanda banyak negeri. Madinah dilindungi oleh Allah dari wabah ini sebagai bentuk kemuliaan. Namun perlu dipahami, ini bukan berarti penduduk Madinah tidak akan pernah sakit sama sekali. Yang dikecualikan adalah wabah tha'un yang dahsyat dan meluas, sebagaimana yang terjadi di berbagai negeri lain.
4. Dajjal Tidak Mampu Masuk Madinah
Ini adalah salah satu tanda kenabian Muhammad ﷺ yang akan terbukti di akhir zaman. Ketika Dajjal keluar dan berkeliling bumi, ia tidak akan mampu memasuki Madinah. Imam Ibn Katsir dalam An-Nihayah (1/139) menyebutkan bahwa Dajjal akan berhenti di luar Madinah, dan kota tersebut akan berguncang tiga kali sehingga setiap orang munafik akan keluar darinya, dan Madinah akan bersih dari mereka. Ini sebagaimana disebutkan dalam hadits-hadits lain.
5. Hikmah Penjagaan Ini
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah dalam Syarh Riyadh ash-Shalihin menjelaskan bahwa penjagaan ini menunjukkan keutamaan Madinah dan bahwa Allah ﷻ menjaga kota tersebut dari keburukan. Ini juga menjadi dorongan bagi kaum muslimin untuk mencintai Madinah dan menghormatinya sebagai kota yang dimuliakan Allah.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa ketika terjadi wabah tha'un yang dahsyat di Syam pada masa kepemimpinan Umar bin al-Khathab radhiyallahu 'anhu, beliau bermusyawarah dengan para sahabat. Saat itu, Abdurrahman bin Auf radhiyallahu 'anhu—yang saat itu sedang tidak berada di tempat—datang dan menyampaikan bahwa ia mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:
إِذَا سَمِعْتُمْ بِهِ بِأَرْضٍ فَلَا تَقْدَمُوا عَلَيْهِ، وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلَا تَخْرُجُوا فِرَارًا مِنْهُ
Artinya: "Jika kalian mendengar wabah tha'un di suatu negeri, maka janganlah kalian memasukinya. Dan jika wabah itu terjadi di negeri yang kalian sedang berada di dalamnya, maka janganlah kalian keluar melarikan diri darinya." (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Maka Umar pun memutuskan untuk kembali ke Madinah, dan Allah menjaga mereka dari wabah tersebut. Kisah ini menunjukkan bahwa Madinah memang dijaga oleh Allah dari wabah tha'un, sebagaimana sabda Nabi ﷺ dalam hadits yang sedang kita bahas. Para sahabat memahami hal ini dan menjadikannya sebagai dalil dalam pengambilan keputusan.
Kesimpulan Praktis
- Meyakini keistimewaan Madinah sebagai kota yang dijaga Allah dengan para malaikat-Nya dari wabah tha'un dan Dajjal.
- Menumbuhkan kecintaan kepada Madinah dan menghormatinya sebagai kota Rasulullah ﷺ.
- Mengimani berita-berita gaib yang disampaikan Nabi ﷺ, termasuk tentang Dajjal dan penjagaannya, karena ini bagian dari tanda-tanda kenabian.
- Bersyukur atas nikmat keamanan dan kesehatan yang Allah berikan, serta tidak meremehkan sebab-sebab perlindungan diri dari wabah sebagaimana diajarkan syariat.
- Menjadikan hadits ini sebagai penguat iman bahwa Allah ﷻ Maha Kuasa menjaga siapa saja yang Dia kehendaki.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.