Penjelasan Hadits Muslim No. 1348 tentang Keutamaan Hari Arafah membebaskan hamba dari neraka

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menunjukkan keutamaan luar biasa Hari Arafah (9 Dzulhijjah). Di hari itu, Allah Ta'ala membebaskan lebih banyak hamba-Nya dari api neraka dibandingkan hari-hari lainnya. Ini adalah bukti kemuliaan hari tersebut dan besarnya rahmat Allah kepada para hamba yang beribadah di sana, terutama mereka yang sedang wukuf. Hadits ini juga mengajarkan kita untuk bersungguh-sungguh dalam berdoa dan beribadah di hari yang agung ini.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Al-Hajj, Bab Fadhl Al-Hajj wal 'Umrah wa Yaum 'Arafah, nomor 1348, dari sahabat 'Aisyah radhiyallahu 'anha.

Teks Arab Hadits (dengan harakat lengkap):

مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ مِنْ أَنْ يُعْتِقَ اللهُ فِيهِ عَبْدًا مِنَ النَّارِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ، وَإِنَّهُ لَيَدْنُو ثُمَّ يُبَاهِي بِهِمُ الْمَلَائِكَةَ فَيَقُولُ: مَا أَرَادَ هَؤُلَاءِ؟

Terjemahan: "Tidak ada hari di mana Allah membebaskan lebih banyak hamba dari neraka dibandingkan Hari Arafah. Dan sesungguhnya Dia (Allah) mendekat, kemudian membanggakan mereka (para hamba yang wukuf) di hadapan para malaikat, seraya berfirman: 'Apa yang mereka inginkan?'"

Kaitan dengan Ulama:

Hadits ini adalah dalil utama tentang keutamaan Hari Arafah. Para ulama dari kalangan salaf sangat memperhatikan hari ini. Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa makna "Allah mendekat" adalah qurb (kedekatan) yang sesuai dengan keagungan Allah, bukan kedekatan fisik seperti makhluk. Imam Ibn Rajab Al-Hanbali dalam kitabnya Latha'if Al-Ma'arif membahas panjang lebar tentang keutamaan hari Arafah dan menjadikan hadits ini sebagai salah satu landasan utama. Beliau juga mengutip perkataan Sa'id bin Al-Musayyib (salah satu perawi dalam sanad hadits ini) tentang keutamaan hari tersebut.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan beberapa faedah penting dari hadits ini:

  1. Keutamaan Hari Arafah: Hari Arafah adalah hari yang paling utama. Di dalamnya, Allah membebaskan hamba-hamba-Nya dari api neraka lebih banyak daripada hari-hari lainnya. Ini menunjukkan bahwa hari tersebut adalah hari raya yang agung bagi umat Islam, terutama bagi mereka yang sedang melaksanakan wukuf.
  2. Makna "Allah Mendekat" (Yadnu): Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa ini adalah sifat qurb (kedekatan) Allah yang tidak kita ketahui hakikatnya. Kita mengimaninya tanpa menyerupakan-Nya dengan makhluk dan tanpa menolaknya. Ini adalah salah satu sifat Allah yang wajib kita imani. Kedekatan ini adalah bentuk kemuliaan dan perhatian khusus Allah kepada hamba-hamba-Nya yang sedang beribadah di Arafah.
  3. Makna "Membanggakan Mereka kepada Para Malaikat" (Yubahi): Imam Ibn Rajab Al-Hanbali menjelaskan bahwa mubāhāh (membanggakan) di sini adalah pujian Allah kepada hamba-hamba-Nya di hadapan para malaikat. Allah menunjukkan keindahan dan keistimewaan hamba-hamba-Nya yang datang dari berbagai penjuru untuk memenuhi panggilan-Nya. Ini adalah kebanggaan yang agung dan merupakan bentuk kasih sayang Allah kepada mereka.
  4. Pertanyaan Allah: "Apa yang Mereka Inginkan?" (Ma Arada Ha'ula'i?): Pertanyaan ini adalah untuk menunjukkan keagungan keadaan mereka dan untuk mengajarkan para malaikat tentang kemuliaan para hamba tersebut. Seolah-olah Allah berfirman, "Lihatlah hamba-hamba-Ku ini. Mereka datang dengan penuh harap dan takut. Apa yang mereka inginkan?" Jawabannya sudah jelas, mereka menginginkan ampunan, rahmat, dan surga-Nya. Pertanyaan ini juga merupakan bentuk pujian, karena Allah sendiri yang menyebutkan keadaan mereka di hadapan para malaikat.

Imam As-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa Hari Arafah adalah hari yang agung. Di dalamnya, Allah memberikan karunia yang besar kepada para hamba-Nya yang berwukuf, berupa ampunan dosa dan pembebasan dari api neraka. Ini adalah rahmat yang tidak diberikan pada hari-hari lain.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Sa'id bin Al-Musayyib (salah seorang ulama tabi'in yang meriwayatkan hadits ini dari 'Aisyah) adalah seorang yang sangat zuhud dan banyak beribadah. Suatu ketika, beliau ditanya tentang doa di Hari Arafah. Beliau menjawab dengan menunjukkan keutamaan hari tersebut dan menganjurkan untuk memperbanyak doa dan istighfar. Ini menunjukkan bahwa para salaf sangat memahami dan mengagungkan hari Arafah. Mereka menjadikannya sebagai momen untuk bermunajat, memohon ampunan, dan mendekatkan diri kepada Allah Ta'ala. Wukuf di Arafah bukan sekadar berdiri di padang luas, tetapi merupakan puncak ibadah haji yang penuh makna spiritual, di mana seorang hamba merasakan kehadiran Allah dan mengharap rahmat-Nya.

Kesimpulan Praktis

  1. Perbanyak Doa dan Istighfar di Hari Arafah: Hari Arafah adalah hari yang mustajab untuk berdoa. Perbanyaklah memohon ampunan, kebaikan dunia dan akhirat, serta doa terbaik untuk kaum muslimin.
  2. Perbanyak Dzikir dan Talbiyah: Perbanyaklah mengucapkan kalimat tauhid, tahmid, takbir, dan talbiyah, sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi ﷺ di hari Arafah.
  3. Bagi yang Tidak Berhaji, Dianjurkan Berpuasa Arafah: Bagi yang tidak sedang melaksanakan haji, sangat dianjurkan untuk berpuasa pada hari Arafah. Puasa ini dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang, sebagaimana disebutkan dalam hadits shahih riwayat Imam Muslim.
  4. Jadikan Hari Arafah sebagai Momen Muhasabah: Renungkanlah kembali perjalanan hidup kita. Perbaharui tekad untuk menjadi hamba yang lebih taat dan lebih dekat kepada Allah Ta'ala.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?