Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Muslim No. 134 tentang Cara menghadapi waswas tentang pencipta Allah

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengabarkan bahwa akan ada orang-orang yang bertanya-tanya tentang hakikat Allah, sampai-sampai muncul pertanyaan, "Allah menciptakan makhluk, lalu siapa yang menciptakan Allah?" Ini adalah bisikan (waswas) dari setan yang ingin merusak iman. Solusi yang diajarkan Nabi ﷺ sangat sederhana dan mendalam: ucapkanlah "آمَنْتُ بِاللَّهِ" (Aku beriman kepada Allah), lalu berhentilah dari memikirkan pertanyaan itu, dan berlindunglah kepada Allah dari bisikan tersebut.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang relevan:

QS. Al-An'am [6]: 102

ذَٰلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ ۖ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ فَاعْبُدُوهُ ۚ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ وَكِيلٌ

"Itulah Allah, Tuhan kamu; tidak ada sesembahan yang hak selain Dia, Pencipta segala sesuatu. Maka sembahlah Dia, dan Dia adalah pemelihara segala sesuatu."

Ayat ini menegaskan bahwa Allah adalah Pencipta segala sesuatu, dan tidak ada sesuatu pun yang menciptakan-Nya. Dialah yang Maha Awal, tidak ada permulaan bagi-Nya.

Hadits terkait:

Hadits yang sedang kita bahas ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab al-Iman, Bab "Bayani al-Waswasah fi al-Iman" (Penjelasan tentang Waswas dalam Iman), dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.

Dalam riwayat lain yang juga shahih, dari Abu Hurairah, Nabi ﷺ bersabda:

"يَأْتِي الشَّيْطَانُ أَحَدَكُمْ فَيَقُولُ: مَنْ خَلَقَ كَذَا؟ مَنْ خَلَقَ كَذَا؟ حَتَّى يَقُولَ: مَنْ خَلَقَ رَبَّكَ؟ فَإِذَا بَلَغَهُ فَلْيَسْتَعِذْ بِاللَّهِ وَلْيَنْتَهِ"

"Setan datang kepada salah seorang dari kalian lalu berkata: 'Siapa yang menciptakan ini? Siapa yang menciptakan itu?' hingga dia berkata: 'Siapa yang menciptakan Tuhanmu?' Jika bisikan itu sampai kepadanya, maka hendaklah dia berlindung kepada Allah dan menghentikannya." (HR. Bukhari no. 3276, dari Abu Hurairah)

Kaitan dengan ulama:

Imam an-Nawawi rahimahullah dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa makna hadits ini adalah anjuran untuk tidak meneruskan waswas semacam ini, dan cukup mengucapkan "آمَنْتُ بِاللَّهِ" sebagai bentuk pengakuan iman dan penghentian terhadap bisikan tersebut. Beliau juga menyebutkan bahwa dalam riwayat lain, Nabi ﷺ mengajarkan untuk membaca ta'awwudz (berlindung kepada Allah) dan berhenti dari memikirkannya.

Penjelasan Rinci

Hadits ini mengandung kabar ghaib dari Nabi ﷺ tentang apa yang akan terjadi di kalangan umatnya, yaitu munculnya pertanyaan-pertanyaan filosofis yang berbahaya tentang hakikat Allah. Pertanyaan "Siapa yang menciptakan Allah?" adalah pertanyaan batil, karena Allah adalah al-Khaliq (Pencipta) dan tidak ada pencipta bagi-Nya. Pertanyaan ini lahir dari kebingungan dan bisikan setan.

Bagaimana para ulama memahami hadits ini?

  1. Imam an-Nawawi (w. 676 H) dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa jawaban yang diajarkan Nabi ﷺ adalah "آمَنْتُ بِاللَّهِ" — yaitu mengakui keimanan dan menghentikan pembahasan. Beliau juga menyebutkan bahwa dalam riwayat lain, Nabi ﷺ mengajarkan untuk meludah ke kiri tiga kali dan membaca ta'awwudz, sebagai bentuk perlawanan terhadap setan.
  2. Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani (w. 852 H) dalam Fath al-Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa waswas seperti ini adalah ujian iman, dan obatnya adalah iman yang mantap, tidak melanjutkan pemikiran yang batil, serta berlindung kepada Allah dari godaan setan.
  3. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin (w. 1421 H) dalam Syarh al-Arba'in an-Nawawiyah menjelaskan bahwa pertanyaan "Siapa yang menciptakan Allah?" adalah pertanyaan yang lahir dari kebodohan dan tipuan setan. Karena Allah adalah Pencipta segala sesuatu, maka tidak ada yang menciptakan-Nya. Beliau menegaskan bahwa cara mengobatinya adalah dengan berhenti memikirkannya, karena akal manusia tidak akan mampu menjangkaunya, dan ini adalah bagian dari iman kepada yang ghaib.
  4. Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di (w. 1376 H) dalam tafsirnya menjelaskan bahwa sifat Allah yang Maha Awal (al-Awwal) menunjukkan bahwa tidak ada sesuatu pun sebelum Allah, dan tidak ada permulaan bagi wujud-Nya. Maka pertanyaan "siapa yang menciptakan Allah" adalah pertanyaan yang batil dan tidak layak dijawab.

Pendapat yang paling kuat:

Semua ulama sepakat bahwa cara mengobati waswas ini adalah:

  • Mengucapkan "آمَنْتُ بِاللَّهِ" (aku beriman kepada Allah)
  • Berhenti dari memikirkannya
  • Berlindung kepada Allah dari setan (ta'awwudz)
  • Tidak melanjutkan perdebatan dengan bisikan tersebut

Karena jika seseorang terus memikirkan pertanyaan ini, setan akan semakin mempermainkan pikirannya. Ini adalah bentuk ujian keimanan, dan obatnya adalah iman yang mantap serta berpaling dari bisikan tersebut.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa sebagian sahabat pernah mengalami waswas seperti ini. Mereka datang kepada Nabi ﷺ dan mengadu, "Wahai Rasulullah, salah seorang dari kami merasakan sesuatu dalam dirinya — bisikan yang sangat berat, sampai-sampai dia merasa berat untuk mengatakannya." Maka Nabi ﷺ bersabda:

"أَوَقَدْ وَجَدْتُمُوهُ؟" (Apakah kalian benar-benar merasakannya?) Mereka menjawab, "Ya." Maka beliau bersabda:

"ذَاكَ صَرِيحُ الإِيمَانِ" (Itulah tanda iman yang jelas) — (HR. Muslim no. 132)

Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa makna "صريح الإيمان" adalah bahwa perasaan berat dan benci terhadap bisikan ini justru menunjukkan bahwa iman itu benar-benar ada di hati. Karena setan hanya menggoda orang yang beriman; adapun orang kafir, setan tidak perlu bersusah payah menggoda mereka karena mereka sudah berada dalam kesesatan.

Kisah ini memberikan penghiburan bagi siapa saja yang mengalami waswas. Rasa tidak nyaman dan benci terhadap bisikan tersebut adalah bukti bahwa iman masih hidup di hatinya.

Kesimpulan Praktis

  1. Jangan melanjutkan pertanyaan batil tentang hakikat Allah, karena akal manusia tidak akan mampu menjangkaunya dan ini adalah bagian dari iman kepada yang ghaib.
  2. Ucapkan "آمَنْتُ بِاللَّهِ" ketika datang bisikan seperti ini, lalu berhentilah memikirkannya.
  3. Berlindunglah kepada Allah dari godaan setan dengan membaca ta'awwudz (أعوذ بالله من الشيطان الرجيم).
  4. Jangan merasa bahwa waswas ini mengurangi iman — justru perasaan benci terhadapnya adalah tanda iman yang benar.
  5. Perbanyak dzikir dan mengingat Allah, karena hati yang sibuk dengan dzikir tidak akan mudah digoda oleh bisikan setan.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.