Penjelasan Hadits Muslim No. 1287 tentang Shalat Maghrib dan Isya berjamaah di Muzdalifah saat haji

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan bahwa Nabi ﷺ pada malam Muzdalifah (10 Dzulhijjah) mengerjakan shalat Maghrib dan Isya secara jamak (digabung) di Muzdalifah, bukan di Arafah dan bukan di perjalanan. Ini menjadi dalil disunnahkannya bagi jamaah haji untuk mengerjakan kedua shalat tersebut secara berjamaah di Muzdalifah setelah bertolak dari Arafah.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits utama — Shahih Muslim no. 1287, Kitab Haji, dari Abu Ayyub al-Anshari رضي الله عنه:

> عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ يَزِيدَ الْخَطْمِيِّ، أَنَّ أَبَا أَيُّوبَ أَخْبَرَهُ أَنَّهُ صَلَّى مَعَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ فِي حَجَّةِ الْوَدَاعِ الْمَغْرِبَ وَالْعِشَاءَ بِالْمُزْدَلِفَةِ

"Dari Abdullah bin Yazid al-Khathmi, bahwa Abu Ayyub mengabarkan kepadanya bahwa ia shalat bersama Rasulullah ﷺ pada Haji Wada' (Maghrib dan Isya) di Muzdalifah."

Dalil Al-Qur'an yang menjadi dasar perintah berhenti di Muzdalifah:

QS. Al-Baqarah [2]: 198

فَإِذَا أَفَضْتُمْ مِنْ عَرَفَاتٍ فَاذْكُرُوا اللَّهَ عِنْدَ الْمَشْعَرِ الْحَرَامِ ۖ وَاذْكُرُوهُ كَمَا هَدَاكُمْ وَإِنْ كُنْتُمْ مِنْ قَبْلِهِ لَمِنَ الضَّالِّينَ

"Maka apabila kamu bertolak dari Arafah, berdzikirlah kepada Allah di Masy'aril Haram (Muzdalifah)..."

Keterangan ulama:

  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan sunnahnya mengakhirkan Isya dan menggabungkannya dengan Maghrib di Muzdalifah, dan tidak boleh shalat di jalan menuju Muzdalifah kecuali darurat.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menegaskan bahwa jamak di Muzdalifah dilakukan dengan jamak ta'khir (Maghrib dan Isya dikerjakan bersamaan di waktu Isya), bukan jamak taqdim.
  • Ibnu Qayyim al-Jauziyyah dalam Zadul Ma'ad menyebutkan bahwa Nabi ﷺ tidak shalat sunnah di antara Maghrib dan Isya pada malam itu, dan langsung beristirahat hingga Subuh.

Penjelasan Rinci

Konteks hadits. Hadits ini terjadi pada Haji Wada' (haji perpisahan) tahun 10 H. Setelah wukuf di Arafah hingga matahari terbenam, Nabi ﷺ bertolak menuju Muzdalifah. Sesampainya di sana, beliau mengerjakan shalat Maghrib dan Isya secara jamak ta'khir dengan satu adzan dan dua iqamah, lalu beristirahat tanpa shalat sunnah di antara keduanya.

Pemahaman ulama daftar:

  1. Imam an-Nawawi (dalam Syarh Shahih Muslim) menyimpulkan beberapa hukum:
  • Disunnahkan bagi jamaah haji untuk tidak shalat Maghrib di jalan, tetapi menundanya hingga tiba di Muzdalifah.
  • Jika khawatir tidak sampai Muzdalifah sebelum waktu Isya habis, boleh shalat di jalan — namun ini keadaan darurat.
  • Shalat dilakukan berjamaah, dengan satu adzan dan dua iqamah.
  1. Ibnu Qayyim al-Jauziyyah (dalam Zadul Ma'ad) merinci urutan amalan Nabi ﷺ malam itu:
  • Beliau berangkat dari Arafah setelah matahari terbenam.
  • Sampai di Muzdalifah, beliau shalat Maghrib tiga rakaat, lalu Isya dua rakaat.
  • Beliau tidak shalat sunnah di antara keduanya.
  • Beliau tidur hingga Subuh, lalu shalat Subuh di awal waktu.
  1. Ibnu Hajar al-Asqalani (dalam Fathul Bari) menegaskan bahwa hadits Abu Ayyub ini menjadi dalil jamak ta'khir, dan menjadi bantahan bagi yang menganggap boleh jamak taqdim di Arafah untuk Maghrib-Isya.
  2. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin (dalam Syarhul Mumti') menjelaskan bahwa hikmahnya adalah agar jamaah haji berkumpul di Muzdalifah dalam keadaan tenang, tidak terburu-buru, dan dapat beristirahat sebelum rangkaian amalan berat di Mina keesokan harinya.

Perbedaan pendapat: Sebagian ulama (seperti dalam madzhab Syafi'i) membolehkan jamak taqdim jika ada uzur, namun jumhur (mayoritas) dari ulama daftar — termasuk an-Nawawi, Ibnu Hajar, dan Ibnu Qayyim — menguatkan bahwa yang sesuai sunnah adalah jamak ta'khir di Muzdalifah, kecuali darurat.

Story Telling

Diriwayatkan dalam Shahih Muslim dan Shahih Bukhari, bahwa pada malam Muzdalifah itu Nabi ﷺ mengutus Ibnu Ummi Maktum dan Usamah bin Zaid terlebih dahulu, sementara beliau sendiri berjalan dengan tenang sambil menuntun untanya. Beliau bahkan memberi isyarat kepada manusia agar berjalan tenang, dan bersabda: "As-sakinah, as-sakinah" (tenanglah, tenanglah).

Hikmah: Bahwa ibadah haji bukanlah ajang tergesa-gesa, melainkan latihan ketenangan, ketaatan, dan mengikuti sunnah Nabi ﷺ secara persis — termasuk dalam hal waktu dan tempat shalat.

Kesimpulan Praktis

  1. Bagi jamaah haji: Setelah bertolak dari Arafah, tundalah shalat Maghrib dan kerjakan bersama Isya secara jamak ta'khir di Muzdalifah, berjamaah, dengan satu adzan dan dua iqamah.
  2. Jangan shalat Maghrib di jalan kecuali dalam keadaan darurat (misalnya macet parah dan khawatir waktu Isya habis).
  3. Tidak ada shalat sunnah di antara Maghrib dan Isya pada malam itu, sesuai petunjuk Nabi ﷺ.
  4. Perbanyak dzikir dan istirahat di Muzdalifah, karena esok hari akan menghadapi rangkaian amalan yang panjang di Mina.
  5. Ikuti sunnah dengan tenang, jangan tergesa-gesa, karena haji adalah madrasah ketenangan dan ketaatan.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?