Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menceritakan tentang Abu Thufail yang melihat Rasulullah ﷺ di dekat bukit Marwah, dan beliau berada di atas unta. Yang menarik, para sahabat tidak berdesak-desakan atau mendorong beliau, melainkan mereka menjaga adab dengan tidak merubung dan tidak memaksa. Ini menunjukkan akhlak mulia para sahabat dalam menghormati Nabi ﷺ, sekaligus menjadi pelajaran bagi kita tentang adab terhadap orang yang lebih tua atau lebih berilmu.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab Haji, Bab Disunnahkannya Raml dalam Tawaf dan Umrah, nomor 1265, dari sahabat Abu Thufail 'Amir bin Watsilah radhiyallahu 'anhu.
Tidak ada ayat Al-Qur'an yang secara langsung membahas peristiwa ini, tetapi ada ayat yang berbicara tentang adab terhadap Rasulullah ﷺ, yaitu firman Allah Ta'ala:
لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلَا تَجْهَرُوا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ
"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebagian kamu terhadap sebagian yang lain." (QS. Al-Hujurat [49]: 2)
Ayat ini menunjukkan bahwa Allah memerintahkan adab yang tinggi kepada Rasul-Nya ﷺ, dan para sahabat adalah orang-orang yang paling memahami serta mengamalkan adab tersebut.
Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan Abu Thufail karena ia sempat melihat Nabi ﷺ, dan juga menunjukkan bahwa para sahabat sangat menjaga adab di hadapan beliau. Mereka tidak mendorong atau mengerumuni beliau dengan kasar, melainkan memberi ruang dan tidak memaksa.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan beberapa faedah penting dari hadits ini:
Pertama: Adab para sahabat terhadap Nabi ﷺ.
Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma menjelaskan bahwa para sahabat tidak mendorong Nabi ﷺ dan tidak mengusir orang-orang dari hadapan beliau. Ini adalah gambaran adab yang sangat tinggi. Mereka tidak berdesak-desakan, tidak saling mendorong, dan tidak membuat beliau kesulitan. Ini sejalan dengan firman Allah yang memerintahkan adab kepada Rasulullah ﷺ.
Imam Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menjelaskan bahwa adab kepada Nabi ﷺ adalah bagian dari adab kepada Allah. Barangsiapa menghormati Nabi ﷺ, berarti ia menghormati Allah. Para sahabat adalah teladan terbaik dalam hal ini.
Kedua: Keutamaan Abu Thufail.
Abu Thufail 'Amir bin Watsilah adalah sahabat yang paling akhir wafat di antara para sahabat yang tinggal di Makkah. Ia sempat melihat Nabi ﷺ dan meriwayatkan hadits-hadits tentang beliau. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Al-Ishabah fi Tamyiz ash-Shahabah menyebutkan bahwa Abu Thufail adalah sahabat yang terakhir wafat di Makkah.
Ketiga: Bolehnya berkendara saat thawaf atau sa'i.
Hadits ini juga menunjukkan bahwa Nabi ﷺ pernah melakukan sa'i di atas unta. Ini menunjukkan bolehnya melakukan thawaf atau sa'i dengan berkendara jika ada uzur atau bahkan tanpa uzur, sebagaimana dipahami oleh sebagian ulama. Namun yang lebih utama adalah berjalan kaki jika mampu, karena itu lebih sempurna dalam beribadah dan lebih terasa pengorbanannya.
Keempat: Tidak ada paksaan dalam urusan agama.
Ucapan Ibnu Abbas bahwa para sahabat "tidak didorong dan tidak diusir" menunjukkan bahwa dalam dakwah dan nasihat, tidak boleh ada paksaan. Para sahabat tidak memaksa orang lain untuk mendekat kepada Nabi ﷺ, melainkan mereka memberi teladan dengan adab yang baik.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Abu Thufail 'Amir bin Watsilah adalah seorang pemuda ketika ia melihat Nabi ﷺ. Ia berkata: "Aku melihat Rasulullah ﷺ di dekat Marwah, beliau berada di atas unta, dan orang-orang mengelilinginya dengan penuh hormat. Tidak ada yang mendorong atau berdesak-desakan."
Ketika ia menceritakan hal ini kepada Ibnu Abbas, Ibnu Abbas membenarkan bahwa itu adalah Rasulullah ﷺ, dan menjelaskan bahwa para sahabat memiliki adab yang sangat tinggi. Mereka tidak merubung beliau dengan kasar, tidak memaksa, dan tidak membuat beliau kesulitan. Ini adalah gambaran cinta dan penghormatan yang tulus.
Hikmah dari kisah ini: Cinta kepada Nabi ﷺ bukan ditunjukkan dengan berdesak-desakan atau memaksakan diri, melainkan dengan adab, ketenangan, dan mengikuti sunnah beliau dengan penuh kesungguhan.
Kesimpulan Praktis
- Menjaga adab kepada orang yang lebih tua, lebih berilmu, atau pemimpin — sebagaimana para sahabat menjaga adab kepada Nabi ﷺ.
- Tidak berdesak-desakan dan tidak memaksa dalam urusan agama — dakwah dilakukan dengan hikmah dan kelembutan.
- Bolehnya berkendara saat thawaf atau sa'i jika ada kebutuhan, namun berjalan kaki lebih utama jika mampu.
- Meneladani akhlak Nabi ﷺ dan para sahabat dalam setiap aspek kehidupan.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.