Penjelasan Hadits Muslim No. 1255 tentang Jumlah umrah Nabi dan waktunya

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menceritakan dialog antara Mujahid bin Jabr dan 'Urwah bin az-Zubair dengan sahabat mulia 'Abdullah bin 'Umar radhiyallahu 'anhuma di Masjid Nabawi. Ibnu 'Umar menyebut bahwa Nabi ﷺ berumrah empat kali, salah satunya di bulan Rajab. Namun Ummul Mukminin 'Aisyah radhiyallahu 'anha mengoreksi: Nabi ﷺ tidak pernah berumrah di bulan Rajab, dan beliau tidak berumrah kecuali Ibnu 'Umar sendiri ikut bersama beliau. Pelajaran utamanya: seorang yang lebih dekat dan lebih tahu (yaitu 'Aisyah, istri Nabi) didahulukan ilmunya, dan seorang mukmin harus lapang menerima koreksi.

Rujukan Ulama & Dalil

Al-Qur'an yang menjadi dasar kewajiban taat dan mengikuti sunnah:

QS. Al-Hasyr [59]: 7

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Terjemahan: "Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya."

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab Haji, Bab Penjelasan Jumlah Umrah Nabi ﷺ dan Waktunya (no. 1255). Perawi sahabat: 'Abdullah bin 'Umar dan 'Aisyah radhiyallahu 'anhuma, melalui jalur Mujahid bin Jabr (Tabi'in) dan 'Urwah bin az-Zubair (Tabi'in).

Kaitan dengan ulama:

  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan 'Aisyah dalam ilmu dan kedekatannya dengan Nabi ﷺ, serta adab dalam menerima koreksi.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menegaskan bahwa 'Aisyah lebih tahu tentang urusan rumah tangga Nabi, termasuk umrah beliau, karena ia selalu bersama beliau.
  • Ibnu Katsir dalam tafsirnya sering menekankan pentingnya merujuk kepada ahlinya dalam ilmu.

Penjelasan Rinci

Hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting:

Pertama, tentang shalat dhuha. Ibnu 'Umar menyebut shalat dhuha yang dilakukan orang-orang di masjid sebagai bid'ah. Namun perlu dipahami: yang dimaksud Ibnu 'Umar adalah shalat dhuha berjamaah di masjid secara rutin, bukan shalat dhuha itu sendiri. Sebab shalat dhuha disunnahkan berdasarkan hadits-hadits lain. Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa Ibnu 'Umar mengingkari cara tertentu (berjamaah dan berkelompok), bukan pokok amalannya.

Kedua, tentang jumlah umrah Nabi ﷺ. Ibnu 'Umar menyebut empat kali, salah satunya di bulan Rajab. Namun 'Aisyah mengoreksi dengan tegas: Nabi tidak pernah berumrah di bulan Rajab. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyimpulkan bahwa pendapat yang benar adalah Nabi ﷺ berumrah empat kali, semuanya di luar bulan Rajab, yaitu:

  1. Umrah Hudaibiyah
  2. Umrah Qadha (tahun berikutnya)
  3. Umrah Ji'ranah
  4. Umrah bersama haji (Haji Wada')

Ketiga, tentang adab menerima koreksi. Mujahid dan 'Urwah "enggan mempercayai atau menolak" perkataan Ibnu 'Umar — ini menunjukkan adab mereka: tidak langsung mendustakan, tetapi juga tidak langsung menerima, lalu mencari klarifikasi kepada yang lebih tahu, yaitu 'Aisyah. Imam an-Nawawi memuji sikap ini sebagai contoh tawadhu' dan kehati-hatian dalam ilmu.

Keempat, tentang kedudukan 'Aisyah dalam ilmu. Ucapan 'Aisyah "tidak pernah Rasulullah ﷺ berumrah kecuali dia (Ibnu 'Umar) bersamanya" menunjukkan bahwa Ibnu 'Umar sebenarnya ikut dalam semua umrah Nabi, sehingga seharusnya ia tahu. Ini menunjukkan bahwa hafalan seseorang bisa keliru, dan rujukan yang lebih dekat (istri Nabi) lebih kuat.

Perbedaan pendapat: Sebagian ulama menyebut Nabi berumrah empat kali, sebagian menyebut tiga kali (karena Umrah Hudaibiyah tidak sempurna). Ibnu Hajar dan an-Nawawi menguatkan pendapat empat kali, dengan catatan Umrah Hudaibiyah adalah yang tertunda dan disempurnakan pada tahun berikutnya.

Story Telling

Dikisahkan oleh Mujahid bin Jabr (Tabi'in mulia, murid Ibnu 'Abbas): Ia dan 'Urwah bin az-Zubair masuk Masjid Nabawi. Mereka melihat 'Abdullah bin 'Umar duduk di dekat kamar 'Aisyah, sementara orang-orang sedang shalat dhuha. Ketika ditanya, Ibnu 'Umar berkata: "Itu bid'ah."

Lalu 'Urwah bertanya: "Wahai Abu Abdurrahman, berapa kali Nabi ﷺ berumrah?" Ibnu 'Umar menjawab: "Empat kali, salah satunya di bulan Rajab."

Mujahid dan 'Urwah terdiam — tidak berani mendustakan sahabat mulia, tetapi juga ragu. Mereka mendengar suara 'Aisyah sedang bersiwak di kamarnya. 'Urwah memanggil: "Wahai Ummul Mukminin, tidakkah engkau mendengar apa yang dikatakan Abu Abdurrahman?"

'Aisyah bertanya: "Apa katanya?"

'Urwah menjawab: "Ia mengatakan Nabi berumrah empat kali, salah satunya di Rajab."

'Aisyah berkata: "Semoga Allah merahmati Abu Abdurrahman. Tidaklah Rasulullah ﷺ berumrah kecuali ia (Ibnu 'Umar) bersamanya, dan beliau tidak pernah berumrah di bulan Rajab."

Hikmah: Seorang istri Nabi yang paling dekat dengan beliau mengoreksi seorang sahabat besar. Ilmu bukan soal siapa yang lebih tua atau lebih terkenal, tetapi siapa yang lebih tahu dan lebih dekat dengan sumbernya. Dan seorang mukmin sejati tidak marah ketika dikoreksi.

Kesimpulan Praktis

  1. Terimalah koreksi dengan lapang dada — sebagaimana Ibnu 'Umar tidak marah ketika dikoreksi oleh 'Aisyah.
  2. Rujuklah kepada ahlinya — ketika ragu, tanyakan kepada yang lebih tahu, sebagaimana Mujahid dan 'Urwah bertanya kepada 'Aisyah.
  3. Hati-hati dalam menilai amalan orang lain — pengingkaran Ibnu 'Umar terhadap shalat dhuha berjamaah adalah terhadap caranya, bukan pokok amalannya.
  4. Umrah Nabi ﷺ empat kali, semuanya di luar Rajab — ini pendapat yang dikuatkan Ibnu Hajar dan an-Nawawi.
  5. Jangan mengklaim sesuatu tanpa ilmu — hafalan bisa keliru, maka kembalikan kepada yang lebih tahu.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?