Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menunjukkan kabar gembira yang sangat besar bagi orang yang berbuat kebaikan sebelum masuk Islam. Ketika seseorang masuk Islam, seluruh kebaikan yang pernah ia lakukan di masa lalu tidak akan sia-sia. Bahkan, ia akan mendapatkan pahala atas kebaikan tersebut, dan Islamnya menjadi bukti bahwa Allah menerima amal baiknya. Ini adalah rahmat dan karunia Allah yang sangat luas.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Muslim:
Teks hadits yang Anda berikan adalah riwayat dari Hakim bin Hizam radhiyallahu 'anhu. Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Iman, Bab "Penjelasan Hukum Perbuatan Kafir Jika Ia Memeluk Islam Setelahnya" (no. 123).
Dalil Al-Qur'an yang relevan:
Allah Ta'ala berfirman:
قُلْ لِلَّذِينَ كَفَرُوا إِنْ يَنْتَهُوا يُغْفَرْ لَهُمْ مَا قَدْ سَلَفَ
"Katakanlah kepada orang-orang yang kafir: 'Jika mereka berhenti (dari kekafirannya), niscaya akan diampuni dosa-dosa mereka yang telah lalu.'"
(QS. Al-Anfal [8]: 38)
Ayat ini menunjukkan bahwa keislaman seseorang menghapus dosa-dosa yang telah lalu, dan ini sejalan dengan makna hadits di atas.
Kaitan dengan Ulama:
Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa orang kafir yang masuk Islam akan mendapatkan pahala atas kebaikan yang ia lakukan di masa kekafirannya, selama kebaikan itu adalah perkara yang dibenarkan oleh syariat Islam. Ini adalah pendapat yang dipegang oleh jumhur (mayoritas) ulama.
Penjelasan Rinci
Hadits ini memiliki beberapa faedah penting yang dijelaskan oleh para ulama:
- Makna "Atahanntsu" (أَتَحَنَّثُ): Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa kata atahanntsu berarti ata'abbadu (beribadah). Jadi, Hakim bin Hizam bertanya tentang ibadah yang ia lakukan di masa jahiliyah, seperti menyambung silaturahmi, memerdekakan budak, dan memberi makan orang miskin.
- Jawaban Nabi ﷺ: Sabda beliau, "أَسْلَمْتَ عَلَى مَا أَسْلَفْتَ مِنْ خَيْرٍ" (Engkau telah menerima Islam dengan semua kebaikan yang telah engkau lakukan sebelumnya) memiliki dua makna yang saling melengkapi:
- Makna pertama: Islam yang engkau peluk ini dibangun di atas kebaikan yang telah engkau lakukan. Kebaikan itu menjadi fondasi yang baik bagi keislamanmu.
- Makna kedua: Engkau akan mendapatkan pahala atas kebaikan yang telah engkau lakukan di masa lalu, karena Islam tidak menghapus pahala kebaikan tersebut.
- Pendapat Ulama tentang Pahala Amal Kebaikan Orang Kafir:
- Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menegaskan bahwa hadits ini adalah dalil bahwa orang kafir yang masuk Islam akan mendapatkan pahala atas kebaikan yang pernah ia lakukan. Ini adalah pendapat yang benar dan dipilih oleh jumhur ulama.
- Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Majmu' al-Fatawa juga membahas masalah ini. Beliau menjelaskan bahwa kebaikan yang dilakukan orang kafir, seperti menyambung silaturahmi atau bersedekah, akan dibalas oleh Allah di dunia, dan jika ia masuk Islam, maka kebaikan itu akan menjadi pahala baginya di akhirat. Ini adalah bentuk keadilan dan karunia Allah.
- Imam Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa amal kebaikan yang dilakukan sebelum Islam tidak akan sia-sia. Bahkan, keislaman seseorang menjadi sebab diterimanya amal tersebut.
- Perbedaan dengan Amal Ibadah yang Salah: Perlu dibedakan antara kebaikan yang bersifat umum (seperti sedekah, silaturahmi) dengan ibadah khusus yang tata caranya salah (seperti shalat dengan cara yang tidak diajarkan). Untuk ibadah khusus yang salah, maka tidak diterima. Namun, jika ibadah itu sesuai dengan syariat (seperti sedekah), maka akan diterima setelah ia masuk Islam.
Story Telling
Ada kisah yang sangat indah tentang Hakim bin Hizam radhiyallahu 'anhu. Beliau adalah orang yang sangat dermawan. Di masa jahiliyah, beliau pernah memerdekakan seratus budak. Setelah masuk Islam, beliau bertanya kepada Nabi ﷺ tentang amal kebaikannya itu. Maka Nabi ﷺ menjawab, "Islam yang engkau peluk ini tidak menghapus kebaikan yang telah engkau lakukan." Kemudian Hakim bin Hizam berkata, "Kalau begitu, aku bersumpah untuk memerdekakan seratus budak lagi setelah masuk Islam."
Kisah ini menunjukkan bahwa kebaikan yang dilakukan dengan ikhlas, meskipun di masa jahiliyah, tidak akan disia-siakan oleh Allah. Justru, hal itu menjadi motivasi bagi pelakunya untuk terus berbuat baik setelah masuk Islam.
Kesimpulan Praktis
- Jangan Remehkan Kebaikan Kecil: Kebaikan sekecil apa pun yang kita lakukan, meskipun di masa lalu, tidak akan sia-sia di sisi Allah.
- Bersemangat dalam Kebaikan: Jika kita pernah berbuat baik sebelum mengenal Islam dengan benar, maka jadikan itu sebagai motivasi untuk lebih giat lagi berbuat baik setelah ini.
- Tidak Putus Asa dari Rahmat Allah: Jangan pernah merasa bahwa masa lalu yang kelam menghalangi kita untuk menjadi lebih baik. Pintu taubat dan rahmat Allah selalu terbuka.
- Ikhlas dalam Beramal: Kunci diterimanya amal adalah keikhlasan. Luruskan niat kita hanya karena Allah Ta'ala.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.