Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Muslim No. 1218 tentang Tata cara haji Rasulullah ﷺ secara lengkap

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits Jabir bin Abdullah yang panjang ini adalah penjelasan paling detail tentang tata cara haji Rasulullah ﷺ. Hadits ini mengajarkan bahwa haji yang sesuai sunnah dimulai dari niat ihram di miqat, melaksanakan thawaf qudum, sa'i, wukuf di Arafah, mabit di Muzdalifah dan Mina, melempar jumrah, menyembelih hewan kurban, dan diakhiri dengan thawaf ifadhah. Hadits ini juga menunjukkan bahwa Rasulullah ﷺ melakukan haji tamattu' (menggabungkan umrah dan haji dengan tahallul di antara keduanya) dan beliau memberikan keringanan bagi yang tidak membawa hewan kurban untuk bertahallul.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Haji, Bab Haji Rasulullah ﷺ, nomor 1218. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam An-Nasa'i dan Ibnu Majah. Hadits ini merupakan salah satu hadits terpanjang dan paling komprehensif dalam menjelaskan manasik haji.

Ayat Al-Qur'an yang terkait dengan haji dan disebutkan dalam hadits ini adalah QS. Al-Baqarah [2]: 125 dan QS. Al-Baqarah [2]: 158.

QS. Al-Baqarah [2]: 125:

وَإِذْ جَعَلْنَا الْبَيْتَ مَثَابَةً لِّلنَّاسِ وَأَمْنًا وَاتَّخِذُوا مِن مَّقَامِ إِبْرَاهِيمَ مُصَلًّى

"Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah (Ka'bah) itu tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebagian maqam Ibrahim sebagai tempat salat."

QS. Al-Baqarah [2]: 158:

إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِن شَعَائِرِ اللَّهِ ۖ فَمَنْ حَجَّ الْبَيْتَ أَوِ اعْتَمَرَ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِ أَن يَطَّوَّفَ بِهِمَا ۚ وَمَن تَطَوَّعَ خَيْرًا فَإِنَّ اللَّهَ شَاكِرٌ عَلِيمٌ

"Sesungguhnya Safa dan Marwa adalah sebagian dari syi'ar Allah. Maka barang siapa beribadah haji ke Baitullah atau berumrah, tidak ada dosa baginya mengerjakan sa'i antara keduanya. Dan barang siapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri, Maha Mengetahui."

Para ulama seperti Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim, Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari, dan Ibnu Qayyim Al-Jawziyyah dalam Zaadul Ma'ad banyak merujuk pada hadits ini untuk menjelaskan tata cara haji Nabi ﷺ.

Penjelasan Rinci

Hadits Jabir ini adalah dokumentasi lengkap perjalanan haji Rasulullah ﷺ pada tahun 10 Hijriyah, yang dikenal sebagai Haji Wada' (Haji Perpisahan). Berikut adalah poin-poin penting yang dijelaskan dalam hadits ini:

  1. Ihram dan Miqat: Rasulullah ﷺ memulai ihram dari Masjid Dzul Hulaifah (Bir Ali) setelah salat. Beliau mengucapkan talbiyah yang terkenal: "Labbaik Allahumma labbaik, labbaik la syarika laka labbaik, innal hamda wan ni'mata laka wal mulk, la syarika lak." Beliau juga mengajarkan Asma' binti 'Umais yang sedang nifas untuk mandi, memakai kain pembalut, dan berihram. Ini menunjukkan bahwa wanita yang sedang haid atau nifas tetap boleh berihram.
  2. Thawaf dan Sa'i: Setiba di Mekkah, Rasulullah ﷺ melakukan thawaf qudum (thawaf kedatangan) dengan berlari-lari kecil (raml) pada tiga putaran pertama dan berjalan biasa pada empat putaran berikutnya. Beliau kemudian salat dua rakaat di belakang Maqam Ibrahim, membaca surat Al-Ikhlas dan Al-Kafirun. Setelah itu, beliau melakukan sa'i antara Safa dan Marwa, dimulai dari Safa. Di atas Safa, beliau berdoa dan bertakbir.
  3. Haji Tamattu': Setelah sa'i, Rasulullah ﷺ memerintahkan para sahabat yang tidak membawa hewan kurban (hadyu) untuk bertahallul (menggunting rambut) dan menjadikan ihram mereka sebagai umrah. Beliau bersabda, "Seandainya aku mengetahui apa yang aku ketahui sekarang, niscaya aku tidak akan membawa hewan kurban, dan aku akan menjadikannya sebagai umrah." Ini menunjukkan bahwa haji tamattu' (umrah dulu, lalu haji) adalah yang paling utama bagi yang tidak membawa hewan kurban.
  4. Wukuf di Arafah: Pada tanggal 9 Dzulhijjah, Rasulullah ﷺ berangkat ke Arafah. Beliau berkhotbah di sana, menyampaikan pesan-pesan penting tentang kehormatan darah, harta, dan wanita, serta meninggalkan Al-Qur'an sebagai pedoman. Beliau wukuf di Arafah hingga matahari terbenam, sambil berdoa dan berdzikir.
  5. Mabit di Muzdalifah: Setelah matahari terbenam, beliau berangkat ke Muzdalifah dengan tenang. Di Muzdalifah, beliau menggabungkan salat Maghrib dan Isya dengan satu azan dan dua iqamah. Beliau kemudian beristirahat hingga subuh.
  6. Melempar Jumrah dan Menyembelih Kurban: Setelah salat subuh di Muzdalifah, beliau berangkat ke Mina. Di Mina, beliau melempar Jumrah Aqabah dengan tujuh batu kerikil, sambil bertakbir setiap kali melempar. Kemudian beliau menyembelih hewan kurban, 63 ekor unta dengan tangannya sendiri, dan sisanya disembelih oleh Ali bin Abi Thalib.
  7. Thawaf Ifadhah: Setelah menyembelih kurban dan mencukur rambut, Rasulullah ﷺ melakukan thawaf ifadhah (thawaf ziarah) di Ka'bah dan salat zuhur di Mekkah.

Imam Ibnu Qayyim Al-Jawziyyah dalam Zaadul Ma'ad menjelaskan bahwa hadits ini adalah rujukan utama dalam memahami manasik haji. Beliau menekankan bahwa setiap langkah yang dilakukan Nabi ﷺ dalam haji ini adalah sunnah yang harus diikuti.

Story Telling

Kisah dalam hadits ini sangat kaya. Salah satu momen yang mengharukan adalah ketika Rasulullah ﷺ berkhutbah di Arafah. Beliau bersabda, "Wahai manusia, sesungguhnya darah kalian dan harta kalian adalah haram atas kalian, seperti haramnya hari kalian ini, di bulan kalian ini, di negeri kalian ini." Kemudian beliau bertanya, "Bukankah aku telah menyampaikan?" Para sahabat menjawab, "Ya." Beliau lalu mengangkat jari telunjuknya ke langit dan menunjuk ke arah manusia, seraya berkata, "Ya Allah, saksikanlah, ya Allah, saksikanlah," sebanyak tiga kali. (HR. Muslim).

Momen ini menunjukkan betapa besarnya perhatian Rasulullah ﷺ terhadap umatnya. Beliau meninggalkan pesan terakhir yang sangat penting: menjaga kehormatan sesama muslim, meninggalkan segala bentuk kezaliman, dan berpegang teguh pada Al-Qur'an. Ini adalah wasiat yang harus kita renungkan dan amalkan.

Kesimpulan Praktis

  1. Pelajari Tata Cara Haji: Hadits ini adalah panduan lengkap. Pelajarilah dengan saksama agar haji kita sesuai dengan sunnah Nabi ﷺ.
  2. Niat yang Benar: Ihram dimulai dengan niat. Niatkan haji semata-mata karena Allah.
  3. Ambil Keringanan: Jika tidak membawa hewan kurban, ambillah keringanan untuk melakukan haji tamattu'.
  4. Jaga Kehormatan: Dalam ibadah haji, jaga lisan, perbuatan, dan hati dari segala hal yang dapat merusak pahala haji.
  5. Teladani Akhlak Nabi: Perhatikan bagaimana Rasulullah ﷺ bersikap lembut, sabar, dan penuh kasih sayang kepada para sahabatnya. Teladanilah akhlak beliau dalam setiap aspek kehidupan.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.