Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ memberikan perhatian khusus dan usaha ibadah yang lebih besar pada sepuluh malam terakhir Ramadan dibandingkan malam-malam lainnya. Ini menjadi dalil kesunnahan menghidupkan malam-malam tersebut dengan ibadah, doa, dan i'tikaf, karena di dalamnya terdapat malam yang penuh keberkahan, yaitu Lailatul Qadar.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab al-I'tikaf, Bab "Mengusahakan (Ibadah) di Sepuluh Malam Terakhir Bulan Ramadan", dari jalur Aisyah radhiyallahu 'anha.
Teks hadits:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَجْتَهِدُ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مَا لَا يَجْتَهِدُ فِي غَيْرِهِ
Terjemahan: "Adalah Rasulullah ﷺ bersungguh-sungguh (beribadah) pada sepuluh malam terakhir (Ramadan) dengan kesungguhan yang tidak beliau lakukan pada waktu selainnya."
Dalil Al-Qur'an yang menjadi landasan keutamaan malam-malam ini, di antaranya firman Allah:
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ ﴿١﴾ وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ ﴿٢﴾ لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ ﴿٣﴾
(QS. Al-Qadr [97]: 1-3)
Terjemahan: "Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al-Qur'an) pada malam kemuliaan (Lailatul Qadar). Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan."
Juga firman Allah:
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ ۚ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ
(QS. Ad-Dukhan [44]: 3)
Terjemahan: "Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang penuh berkah. Sesungguhnya Kamilah yang memberi peringatan."
Penjelasan Rinci
Hadits ini menjelaskan sunnah Nabi ﷺ yang agung: beliau meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah pada sepuluh malam terakhir Ramadan. Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa makna "يَجْتَهِدُ" adalah beliau mencurahkan seluruh kemampuan dalam berbagai bentuk ibadah, seperti shalat malam, membaca Al-Qur'an, berdzikir, berdoa, dan i'tikaf. Beliau juga menyebutkan bahwa hadits ini menjadi dalil disunnahkannya i'tikaf pada sepuluh malam terakhir, karena i'tikaf adalah sarana mengumpulkan hati untuk beribadah kepada Allah.
Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari (ketika membahas hadits serupa dalam Shahih al-Bukhari) menyatakan bahwa hikmah pengkhususan sepuluh malam terakhir adalah karena di dalamnya terdapat Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan. Maka Nabi ﷺ menghidupkannya dengan ibadah agar mendapatkan keutamaannya. Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menambahkan bahwa para salaf sangat bersungguh-sungguh pada sepuluh malam terakhir, bahkan sebagian mereka mandi dan memakai wangi-wangian untuk menyambut malam-malam tersebut, sebagaimana disebutkan dari Aisyah radhiyallahu 'anha.
Adapun Lailatul Qadar, menurut penjelasan Ibnu Katsir dalam tafsirnya, malam itu adalah malam yang penuh keberkahan, di mana Al-Qur'an diturunkan dan para malaikat turun. Qatadah bin Di'amah as-Sadusi menyatakan bahwa amal saleh pada malam itu lebih baik dari amal seribu bulan. Mujahid bin Jabr juga menegaskan keutamaan malam tersebut.
Dalam hal penetapan malamnya, para ulama dari daftar yang disebutkan berbeda pendapat. Sebagian berpendapat Lailatul Qadar ada pada malam ke-27 (pendapat yang masyhur dari Ubay bin Ka'b, sebagaimana disebutkan dalam hadits), sebagian lagi berpendapat berpindah-pindah di antara malam-malam ganjil sepuluh terakhir. Imam asy-Syafi'i dan Imam Ahmad bin Hanbal, sebagaimana dinukil oleh Ibnu Hajar, cenderung pada malam-malam ganjil. Namun yang paling kuat menurut dalil adalah bahwa Lailatul Qadar terdapat pada sepuluh malam terakhir, dan lebih ditekankan pada malam-malam ganjil, serta sangat mungkin pada malam ke-27. Karena itu, para ulama menganjurkan menghidupkan seluruh sepuluh malam terakhir, tidak hanya satu malam tertentu, agar tidak kehilangan keutamaannya.
Ibn Taymiyyah dalam Majmu' al-Fatawa juga menegaskan bahwa Lailatul Qadar berpindah-pindah dan tidak tetap pada satu malam sepanjang tahun, sehingga seorang muslim hendaknya bersungguh-sungguh di seluruh sepuluh malam terakhir. Ibnul Qayyim al-Jawziyyah dalam Zaad al-Ma'ad menyebutkan bahwa Nabi ﷺ mengkhususkan sepuluh malam terakhir dengan i'tikaf dan memperbanyak ibadah, dan beliau tidak melakukan hal itu pada malam-malam lain di luar Ramadan.
Story Telling
Diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu 'anha, beliau berkata: "Apabila masuk sepuluh malam terakhir, Nabi ﷺ mengencangkan sarungnya (bersungguh-sungguh), menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya." (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Dalam riwayat lain, beliau juga bersabda: "Carilah Lailatul Qadar pada malam-malam ganjil dari sepuluh malam terakhir Ramadan." (HR. Al-Bukhari). Kisah ini menunjukkan betapa Nabi ﷺ tidak hanya beribadah sendiri, tetapi juga mengajak keluarganya untuk meraih keutamaan malam yang penuh berkah tersebut. Para salaf seperti Al-Hasan al-Bashri dan Sufyan ats-Tsauri juga dikenal sangat bersungguh-sungguh pada malam-malam ini, bahkan sebagian mereka mengkhususkan diri untuk beribadah dan menjauhi kesibukan dunia.
Kesimpulan Praktis
- Hidupkan sepuluh malam terakhir Ramadan dengan ibadah: shalat malam, membaca Al-Qur'an, berdzikir, berdoa, dan bersedekah.
- Lakukan i'tikaf jika mampu, karena itu sunnah Nabi ﷺ yang beliau tekankan pada sepuluh malam terakhir.
- Perbanyak doa, terutama doa yang diajarkan Nabi ﷺ: "Allahumma innaka 'afuwwun tuhibbul 'afwa fa'fu 'anni" (Ya Allah, Engkau Maha Pengampun, mencintai ampunan, maka ampunilah aku).
- Jangan hanya fokus pada satu malam tertentu, tetapi hidupkan seluruh malam ganjil sepuluh terakhir agar tidak kehilangan Lailatul Qadar.
- Ajak keluarga untuk bersama-sama beribadah, sebagaimana Nabi ﷺ membangunkan keluarganya.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.