Penjelasan Hadits Muslim No. 1170 tentang Keutamaan mencari Lailatul Qadr di akhir bulan Ramadan

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menunjukkan bahwa Rasulullah ﷺ mengajak para sahabat untuk memperhatikan tanda alam, yaitu bulan yang terbit dalam keadaan seperti sepotong piring (yakni bulan yang mulai menyusut setelah purnama). Ini menjadi isyarat waktu untuk mencari Lailatul Qadr, yang paling diharapkan terjadi pada sepuluh malam terakhir Ramadan, khususnya malam-malam ganjil. Para ulama menjelaskan bahwa Lailatul Qadr harus dicari dengan sungguh-sungguh, bukan hanya mengandalkan tanda, tetapi dengan ibadah, doa, dan qiyamul lail.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab Puasa, Bab Keutamaan Malam Lailatul Qadr dan Anjuran untuk Mencarinya. Perawi sahabatnya adalah Abu Hurairah رضي الله عنه.

Teks hadits lengkap dengan harakat:

وَحَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبَّادٍ، وَابْنُ أَبِي عُمَرَ، قَالاَ حَدَّثَنَا مَرْوَانُ، - وَهُوَ الْفَزَارِيُّ - عَنْ يَزِيدَ، - وَهُوَ ابْنُ كَيْسَانَ - عَنْ أَبِي حَازِمٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، - رضى الله عنه - قَالَ تَذَاكَرْنَا لَيْلَةَ الْقَدْرِ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ فَقَالَ " أَيُّكُمْ يَذْكُرُ حِينَ طَلَعَ الْقَمَرُ وَهُوَ مِثْلُ شِقِّ جَفْنَةٍ "

Terjemahan: "Kami membicarakan tentang Lailatul Qadr di hadapan Rasulullah ﷺ, dan beliau bersabda: 'Siapa di antara kalian yang ingat (malam) ketika bulan terbit dan itu seperti sepotong piring (di akhir bulan dalam keadaan menyusut).'"

Dalil Al-Qur'an yang sangat terkait:

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ ﴿١﴾ وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ ﴿٢﴾ لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ ﴿٣﴾ تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ ﴿٤﴾ سَلَامٌ هِيَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ الْفَجْرِ ﴿٥﴾

QS. Al-Qadr [97]: 1-5

Terjemahan ringkas: "Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al-Qur'an) pada malam kemuliaan (Lailatul Qadr). Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun para malaikat dan Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu penuh kesejahteraan sampai terbit fajar."

Hadits lain yang shahih dan relevan:

Dari Aisyah رضي الله عنها, Rasulullah ﷺ bersabda:

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

"Carilah Lailatul Qadr pada sepuluh malam terakhir dari Ramadan." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Kaitan dengan ulama: Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan cara mengenali waktu Lailatul Qadr melalui tanda-tanda alam, dan para ulama berbeda pendapat apakah Lailatul Qadr tetap ada setiap tahun atau telah diangkat. Pendapat yang kuat menurut jumhur ulama adalah tetap ada setiap tahun dan harus dicari pada sepuluh malam terakhir Ramadan.

Penjelasan Rinci

Hadits ini menceritakan bahwa para sahabat sedang berbincang-bincang tentang Lailatul Qadr di hadapan Nabi ﷺ. Lalu beliau bertanya: "Siapa di antara kalian yang ingat ketika bulan terbit dan itu seperti sepotong piring?" Ini adalah isyarat tentang fase bulan yang mulai menyusut setelah purnama, yaitu pada akhir bulan Ramadan. Bulan yang terbit dalam keadaan seperti sepotong piring menunjukkan malam-malam terakhir Ramadan, yang bertepatan dengan sepuluh malam terakhir.

Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa makna "seperti sepotong piring" (شِقِّ جَفْنَةٍ) adalah bulan yang sudah tidak penuh lagi, yaitu bulan yang mulai berkurang cahayanya. Ini menjadi tanda bahwa Lailatul Qadr lebih diharapkan terjadi pada malam-malam ganjil di sepuluh malam terakhir, ketika bulan sudah mulai menyusut.

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ mengajarkan kepada sahabat untuk memperhatikan tanda-tanda alam sebagai isyarat waktu ibadah, bukan sebagai satu-satunya patokan. Beliau juga menegaskan bahwa Lailatul Qadr harus dicari dengan ibadah yang sungguh-sungguh, bukan hanya menunggu tanda.

Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Lathaif al-Ma'arif menjelaskan bahwa para salaf sangat bersungguh-sungguh dalam mencari Lailatul Qadr. Mereka menghidupkan malam-malam sepuluh terakhir dengan shalat, doa, dan dzikir. Beliau menyebutkan bahwa Imam asy-Syafi'i dan Imam Ahmad bin Hanbal memiliki pendapat tentang malam yang paling diharapkan, namun semuanya sepakat bahwa Lailatul Qadr ada di sepuluh malam terakhir.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Taisir al-Karim ar-Rahman menjelaskan bahwa Lailatul Qadr adalah malam yang penuh berkah, di mana Al-Qur'an diturunkan dan para malaikat turun. Beliau menekankan bahwa malam ini harus diisi dengan ibadah, karena nilainya lebih baik dari seribu bulan.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ tidak menentukan secara pasti malam Lailatul Qadr, tetapi memberikan isyarat melalui tanda alam. Beliau juga menegaskan bahwa mencari Lailatul Qadr adalah sunnah yang sangat dianjurkan, dan tidak boleh seseorang mengklaim mengetahui secara pasti kapan Lailatul Qadr terjadi tanpa dalil yang jelas.

Perbedaan pendapat di antara ulama daftar: Sebagian ulama seperti Imam an-Nawawi dan Ibnu Hajar cenderung pada pendapat bahwa Lailatul Qadr berpindah-pindah di antara malam-malam sepuluh terakhir. Sedangkan Imam asy-Syafi'i dalam pendapat lamanya cenderung pada malam kedua puluh satu, dan Imam Ahmad bin Hanbal cenderung pada malam kedua puluh tujuh. Namun pendapat yang paling kuat menurut jumhur ulama adalah bahwa Lailatul Qadr harus dicari di semua malam ganjil sepuluh terakhir, tanpa memastikan satu malam tertentu.

Story Telling

Diceritakan bahwa Abu Hurairah رضي الله عنه, sahabat yang meriwayatkan hadits ini, adalah salah satu sahabat yang sangat tekun dalam beribadah dan mencari ilmu. Beliau pernah berkata bahwa ia membagi malamnya menjadi tiga bagian: sepertiga untuk tidur, sepertiga untuk shalat, dan sepertiga untuk mengingat Allah. Dalam mencari Lailatul Qadr, para sahabat seperti Abu Hurairah, Ibnu Umar, dan Aisyah رضي الله عنهم menghidupkan sepuluh malam terakhir Ramadan dengan ibadah yang sangat sungguh-sungguh.

Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyebutkan bahwa Imam asy-Syafi'i pernah berkata: "Aku lebih suka menghidupkan seluruh sepuluh malam terakhir Ramadan, karena tidak ada kepastian kapan Lailatul Qadr terjadi." Ini menunjukkan semangat para ulama salaf dalam mencari malam yang penuh berkah ini.

Kesimpulan Praktis

  1. Carilah Lailatul Qadr pada sepuluh malam terakhir Ramadan, terutama malam-malam ganjil (21, 23, 25, 27, 29).
  2. Perhatikan tanda-tanda alam sebagai isyarat, tetapi jangan bergantung padanya. Yang terpenting adalah menghidupkan malam dengan ibadah.
  3. Isi malam-malam tersebut dengan shalat malam (qiyamul lail), membaca Al-Qur'an, berdzikir, berdoa, dan bersedekah.
  4. Perbanyak doa yang diajarkan Nabi ﷺ, terutama doa: اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي ("Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan mencintai pemaafan, maka maafkanlah aku").
  5. Jangan mengklaim secara pasti kapan Lailatul Qadr terjadi, tetapi bersungguh-sungguhlah di semua malam sepuluh terakhir.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?