Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini memerintahkan kita untuk bersungguh-sungguh mencari Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir Ramadan. Lailatul Qadar adalah malam yang sangat mulia, lebih baik dari seribu bulan, dan waktunya paling diharapkan ada di malam-malam ganjil pada sepuluh terakhir. Karena itu, seorang Muslim dianjurkan menghidupkan malam-malam tersebut dengan shalat, doa, dan ibadah.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an:
QS. Al-Qadr [97]: 1-3
إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ ﴿١﴾ وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ ﴿٢﴾ لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ ﴿٣﴾
Terjemahan: "Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al-Qur'an) pada malam kemuliaan (Lailatul Qadar). Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan."
Hadits terkait:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab Puasa, dari Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu 'anha. Imam Muslim meriwayatkan melalui dua jalur lafaz: dari Ibn Numair dengan lafaz "التمسوا" (carilah) dan dari Waki' dengan lafaz "تحروا" (bersungguh-sungguhlah/usahakanlah). Keduanya memiliki makna yang saling menguatkan, yaitu perintah untuk mencari dengan penuh keseriusan.
Kaitan dengan ulama:
- Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan anjuran kuat (sunnah muakkadah) untuk menghidupkan sepuluh malam terakhir Ramadan.
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa perbedaan lafaz "التمسوا" dan "تحروا" menunjukkan penekanan agar mencari dengan sungguh-sungguh, bukan sekadar menunggu.
- Ibn Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menjelaskan hikmah disembunyikannya waktu Lailatul Qadar agar hamba bersungguh-sungguh beribadah sepanjang sepuluh malam terakhir.
Penjelasan Rinci
Makna hadits secara umum:
Rasulullah ﷺ memerintahkan umatnya untuk mencari Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir Ramadan. Kata "التمسوا" berasal dari "التماس" yang berarti mencari dengan penuh perhatian, sedangkan "تحروا" berasal dari "تحرّي" yang berarti bersungguh-sungguh dan memilih dengan cermat. Keduanya menunjukkan bahwa pencarian Lailatul Qadar bukanlah perkara ringan, melainkan membutuhkan keseriusan.
Pemahaman para ulama:
- Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menjadi dalil disunnahkannya i'tikaf dan menghidupkan malam-malam sepuluh terakhir Ramadan. Beliau menyebutkan bahwa para ulama sepakat tentang keutamaan menghidupkan malam-malam tersebut.
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa hikmah Lailatul Qadar tidak ditentukan secara pasti adalah agar umat Islam bersungguh-sungguh beribadah di seluruh sepuluh malam terakhir, bukan hanya satu malam saja. Beliau juga menjelaskan bahwa malam ganjil lebih diharapkan, namun tidak pasti.
- Ibn Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menjelaskan bahwa Lailatul Qadar adalah malam di mana dosa-dosa diampuni dan doa-doa dikabulkan. Beliau mengutip perkataan para salaf bahwa siapa yang menghidupkan sepuluh malam terakhir dengan iman dan ihtisab (mengharap pahala), maka akan diampuni dosa-dosanya.
- Ibn Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa Lailatul Qadar lebih baik dari seribu bulan, yaitu lebih baik dari ibadah selama 83 tahun lebih. Ini menunjukkan betapa besar keutamaan malam tersebut.
- Syeikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Taisir al-Karim ar-Rahman menjelaskan bahwa Lailatul Qadar adalah malam penetapan takdir tahunan, dan pada malam itu para malaikat turun dengan membawa segala urusan.
Perbedaan pendapat di antara ulama:
Para ulama berbeda pendapat tentang waktu pasti Lailatul Qadar. Sebagian berpendapat malam ke-27 (pendapat yang masyhur), sebagian berpendapat malam ke-21, ke-23, ke-25, ke-29, atau malam ganjil lainnya. Namun kesimpulan yang paling kuat menurut dalil adalah bahwa Lailatul Qadar berpindah-pindah dari tahun ke tahun di antara malam-malam ganjil sepuluh terakhir, sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Hajar dan an-Nawawi. Karena itu, cara terbaik adalah menghidupkan seluruh sepuluh malam terakhir.
Cara menghidupkan malam-malam tersebut:
- Shalat malam (tarawih, tahajud, witir)
- Membaca Al-Qur'an
- Berdoa, terutama doa yang diajarkan Nabi ﷺ: "اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي" (Ya Allah, Engkau Maha Pengampun, mencintai ampunan, maka ampunilah aku) — HR. Tirmidzi, hasan shahih
- I'tikaf di masjid
- Memperbanyak dzikir dan istighfar
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu 'anha bertanya kepada Rasulullah ﷺ: "Wahai Rasulullah, jika aku mengetahui malam Lailatul Qadar, apa yang harus aku ucapkan?" Rasulullah ﷺ menjawab: "Ucapkanlah: اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي" (Ya Allah, Engkau Maha Pengampun, mencintai ampunan, maka ampunilah aku). Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan beliau menyatakan hasan shahih.
Kisah ini menunjukkan bahwa Aisyah radhiyallahu 'anha sangat antusias mencari Lailatul Qadar, bahkan bertanya tentang doa khusus untuk malam tersebut. Ini menjadi teladan bagi kita untuk bersungguh-sungguh, bukan hanya beribadah secara umum, tetapi juga mempersiapkan doa terbaik.
Imam an-Nawawi menyebutkan bahwa para salaf, termasuk di antaranya Sufyan ats-Tsauri dan Abdullah bin al-Mubarak, sangat bersungguh-sungguh menghidupkan sepuluh malam terakhir Ramadan. Mereka mengurangi tidur, memperbanyak shalat, dan memperbanyak doa.
Kesimpulan Praktis
- Carilah Lailatul Qadar dengan sungguh-sungguh pada sepuluh malam terakhir Ramadan, terutama malam-malam ganjil (21, 23, 25, 27, 29).
- Hidupkan seluruh sepuluh malam terakhir dengan shalat malam, membaca Al-Qur'an, dzikir, dan doa, karena Lailatul Qadar bisa berpindah-pindah.
- Perbanyak doa yang diajarkan Nabi ﷺ: "اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي".
- Lakukan i'tikaf jika mampu, karena Nabi ﷺ biasa beri'tikaf pada sepuluh malam terakhir.
- Jangan hanya menunggu malam ganjil, tetapi isi semua malam dengan ibadah, karena bisa jadi Lailatul Qadar jatuh pada malam yang kita sangka biasa.
- Ikhlas dan ihtisab, yaitu beribadah dengan mengharap pahala Allah, bukan karena riya atau kebiasaan.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.