Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan bahwa Nabi ﷺ pernah diperlihatkan kapan tepatnya Lailatul Qadar, lalu beliau “dilupakan” tentang penentuan pastinya. Karena itu, beliau memerintahkan kita mencarinya di sepuluh malam terakhir Ramadhan, terutama pada malam-malam ganjil. Ini menunjukkan Lailatul Qadar itu benar adanya dan sangat dianjurkan untuk dicari dengan ibadah, bukan dengan ramalan atau kepastian tanggal.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab Puasa, no. 1166, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Redaksi yang masyhur:
«أُرِيتُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ ثُمَّ أَيْقَظَنِي بَعْضُ أَهْلِي فَنُسِّيتُهَا، فَالْتَمِسُوهَا فِي الْعَشْرِ الْغَوَابِرِ»
Terjemah ringkas: “Aku diperlihatkan Lailatul Qadar, lalu sebagian keluargaku membangunkanku sehingga aku dilupakan tentangnya. Maka carilah ia pada sepuluh malam terakhir.”
Dalil Al-Qur’an yang menjadi dasar keutamaan malam ini:
QS. Al-Qadr [97]: 1
إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ
Terjemah: “Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan.”
QS. Al-Qadr [97]: 3
لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ
Terjemah: “Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan.”
QS. Ad-Dukhan [44]: 3
إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُّبَارَكَةٍ ۚ إِنَّا كُنَّا مُنذِرِينَ
Terjemah: “Sesungguhnya Kami menurunkannya pada malam yang penuh berkah. Sungguh, Kamilah yang memberi peringatan.”
Kaitan dengan ulama: Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan Lailatul Qadar benar-benar ada dan dianjurkan mencarinya di sepuluh malam terakhir. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari juga menegaskan bahwa “dilupakan” di sini adalah hikmah agar umat bersungguh-sungguh beribadah sepanjang sepuluh malam terakhir, bukan hanya satu malam tertentu. Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Latha’if al-Ma’arif menyebutkan bahwa menyembunyikan waktu pastinya adalah rahmat, agar kaum muslimin menghidupkan seluruh malam-malam tersebut.
Penjelasan Rinci
Hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting:
Pertama, Lailatul Qadar adalah malam yang nyata dan pernah diperlihatkan kepada Nabi ﷺ. Ini menolak anggapan bahwa ia hanya simbolis. Al-Qur’an sendiri menegaskan kemuliaannya (QS. Al-Qadr [97]: 1–5).
Kedua, “dilupakan” bukan berarti Nabi ﷺ lalai dalam menyampaikan wahyu, karena beliau ma’shum dalam tabligh. Para ulama seperti Ibnu Hajar menjelaskan bahwa yang dilupakan adalah penentuan pastinya, bukan kewajiban mencarinya. Justru dengan dilupakan, umat Islam terdorong beribadah lebih giat di semua malam sepuluh terakhir.
Ketiga, perintah “carilah ia di sepuluh malam terakhir” menunjukkan waktu pencarian yang paling kuat. Imam an-Nawawi menyebutkan bahwa sepuluh malam terakhir Ramadhan adalah waktu i’tikaf dan qiyamul lail yang paling utama. Ibnu Rajab menambahkan bahwa malam-malam ganjil lebih diharapkan, berdasarkan hadits-hadits lain yang shahih, namun tidak ada kepastian mutlak pada satu malam saja.
Keempat, para ulama berbeda pendapat tentang apakah Lailatul Qadar berpindah-pindah setiap tahun atau tetap. Ibnu Taymiyyah dan Ibnul Qayyim menyebutkan bahwa pendapat yang lebih kuat adalah ia berpindah di antara malam-malam sepuluh terakhir, sehingga seorang muslim hendaknya bersungguh-sungguh di seluruh malam tersebut. Ini juga dikuatkan oleh hadits ini yang memerintahkan mencari, bukan menetapkan satu tanggal.
Kelima, hadits ini mengajarkan adab: Nabi ﷺ tidak marah kepada keluarga yang membangunkannya, tetapi menyampaikan konsekuensinya dengan lembut. Ini menunjukkan akhlak beliau yang penuh kasih dan tetap fokus pada tujuan ibadah.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa sebagian sahabat pernah bermimpi melihat Lailatul Qadar pada malam tertentu, lalu Nabi ﷺ bersabda bahwa mimpi-mimpi itu bertepatan pada tujuh malam terakhir, dan beliau menganjurkan mencari di malam ganjil (disebutkan dalam Shahih al-Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma). Hikmahnya: Allah menyembunyikan waktunya agar hamba-Nya tidak hanya beribadah satu malam, tetapi menghidupkan seluruh sepuluh malam terakhir dengan doa, tilawah, qiyam, dan sedekah. Imam an-Nawawi menyebutkan bahwa ini adalah bentuk latihan kesabaran dan keikhlasan.
Kesimpulan Praktis
- Carilah Lailatul Qadar di sepuluh malam terakhir Ramadhan, terutama malam-malam ganjil.
- Hidupkan malam-malam itu dengan shalat malam, tilawah Al-Qur’an, doa, dan istighfar.
- Perbanyak doa yang diajarkan Nabi ﷺ: “Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni” (HR. Tirmidzi, dinilai shahih oleh al-Albani).
- Jangan sibuk mencari kepastian tanggal; sibuklah beribadah.
- Beri’tikaf jika mampu, karena Nabi ﷺ biasa beri’tikaf pada sepuluh malam terakhir (HR. Bukhari dan Muslim).
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur’an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.