Penjelasan Hadits Muslim No. 1132 tentang Keutamaan puasa hari Asyura dan Ramadan

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menunjukkan keutamaan puasa hari Asyura (10 Muharram) dan puasa bulan Ramadan. Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma menyatakan bahwa beliau tidak mengetahui Nabi ﷺ mengkhususkan puasa pada suatu hari tertentu untuk mencari keutamaannya melebihi hari lain, kecuali hari Asyura, dan tidak pula mengkhususkan suatu bulan selain Ramadan. Ini menunjukkan kedua puasa ini memiliki keutamaan khusus yang tidak dimiliki hari atau bulan lain.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits utama — diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab Puasa, Bab Puasa Hari Asyura (no. 1132), dari sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma.

Ayat Al-Qur'an terkait keutamaan puasa dan Ramadan:

QS. Al-Baqarah [2]: 185

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ

Terjemahan: "Bulan Ramadan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang benar dan yang batil)."

Hadits pendukung — dari Abu Qatadah radhiyallahu 'anhu, Nabi ﷺ bersabda tentang puasa Asyura:

صِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ

Terjemahan: "Puasa hari Asyura, aku berharap kepada Allah agar menghapus dosa setahun yang lalu." (HR. Muslim dalam Shahih Muslim)

Kaitan ulama: Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan hadits ini sebagai dalil keutamaan puasa Asyura dan Ramadan. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari juga membahas keutamaan Asyura dan sejarah pensyariatannya. Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menjelaskan hikmah puasa Asyura dan kaitannya dengan peristiwa Nabi Musa 'alaihissalam.

Penjelasan Rinci

Makna hadits secara umum:

Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma ditanya tentang puasa Asyura, lalu beliau menjawab bahwa beliau tidak mengetahui Nabi ﷺ mengkhususkan puasa pada suatu hari tertentu untuk mencari keutamaannya di atas hari-hari lain, kecuali hari Asyura. Demikian pula tidak ada bulan yang dikhususkan puasa melebihi bulan lain kecuali Ramadan.

Perkataan Ibnu Abbas ini bukan berarti tidak ada puasa sunnah lain yang utama, seperti puasa Arafah, puasa Senin-Kamis, atau puasa Ayyamul Bidh. Akan tetapi, konteksnya adalah pengkhususan yang sangat ditekankan dan memiliki keutamaan khusus yang menonjol. Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa maksud Ibnu Abbas adalah penekanan pada keutamaan puasa Asyura dan Ramadan, bukan menafikan puasa sunnah lainnya.

Pemahaman para ulama:

  1. Imam an-Nawawi (wafat 676 H) dalam Syarh Shahih Muslim menyatakan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan puasa Asyura dan Ramadan secara khusus. Beliau juga menjelaskan bahwa puasa Asyura dapat menghapus dosa setahun yang lalu berdasarkan hadits Abu Qatadah.
  2. Ibnu Hajar al-Asqalani (wafat 852 H) dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa puasa Asyura disyariatkan sejak awal Islam, bahkan sebelum puasa Ramadan diwajibkan. Ketika Ramadan diwajibkan, puasa Asyura menjadi sunnah. Beliau juga menyebutkan bahwa Nabi ﷺ berpuasa Asyura dan memerintahkan para sahabat untuk berpuasa.
  3. Ibnu Rajab al-Hanbali (wafat 795 H) dalam Latha'if al-Ma'arif menjelaskan bahwa puasa Asyura memiliki keutamaan besar karena bertepatan dengan peristiwa penyelamatan Nabi Musa 'alaihissalam dan Bani Israil dari Fir'aun. Nabi ﷺ berpuasa sebagai bentuk syukur kepada Allah.
  4. Ibnu Qayyim al-Jawziyyah (wafat 751 H) dalam Zad al-Ma'ad menjelaskan tingkatan puasa Asyura: (a) puasa tanggal 10 saja, (b) puasa tanggal 9 dan 10, (c) puasa tanggal 9, 10, dan 11. Yang paling utama adalah puasa tanggal 9 dan 10, karena Nabi ﷺ berniat pada tahun berikutnya untuk berpuasa tanggal 9 juga untuk menyelisihi Ahli Kitab.

Perbedaan pendapat di antara ulama daftar:

Sebagian ulama berbeda pendapat tentang apakah puasa Asyura yang dimaksud adalah tanggal 10 Muharram saja atau termasuk tanggal 9. Namun kesimpulannya, berdasarkan hadits-hadits shahih, yang paling kuat adalah puasa tanggal 9 dan 10 Muharram, sebagaimana dijelaskan Ibnu Qayyim dan Ibnu Hajar.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa ketika Nabi ﷺ tiba di Madinah, beliau mendapati orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura. Beliau bertanya, "Hari apa ini?" Mereka menjawab, "Ini adalah hari yang baik, hari ketika Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuh mereka, maka Musa berpuasa pada hari itu." Nabi ﷺ bersabda, "Aku lebih berhak atas Musa daripada kalian." Maka Nabi ﷺ berpuasa dan memerintahkan para sahabat untuk berpuasa. (HR. Bukhari dan Muslim, dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma)

Dalam riwayat lain, Nabi ﷺ bersabda:

فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ

Terjemahan: "Jika tahun depan tiba, kita akan berpuasa pada hari kesembilan (juga)." (HR. Muslim)

Namun Nabi ﷺ wafat sebelum tahun berikutnya tiba. Ini menunjukkan anjuran untuk berpuasa tanggal 9 dan 10 Muharram.

Hikmah: Kisah ini mengajarkan kita untuk bersyukur atas nikmat Allah, mengenang perjuangan para nabi, dan menyelisihi Ahli Kitab dalam beribadah.

Kesimpulan Praktis

  1. Puasa Asyura (10 Muharram) adalah sunnah yang sangat dianjurkan dan dapat menghapus dosa setahun yang lalu.
  2. Disunnahkan berpuasa tanggal 9 dan 10 Muharram untuk menyelisihi Ahli Kitab, sebagaimana dijelaskan Ibnu Qayyim dan Ibnu Hajar.
  3. Puasa Ramadan adalah puasa yang paling utama dan wajib bagi setiap muslim yang mampu.
  4. Jangan mengkhususkan puasa pada hari tertentu tanpa dalil, karena pengkhususan ibadah hanya berdasarkan syariat.
  5. Ikuti pemahaman para ulama Ahlus Sunnah dalam memahami hadits dan mengamalkannya.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?