Penjelasan Hadits Muslim No. 1055 tentang Doa Nabi agar rezeki sekadar cukup kebutuhan hidup

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah doa Nabi ﷺ agar rezeki keluarganya hanya sebatas kebutuhan pokok (qut)—cukup untuk menegakkan hidup, bukan berlimpah harta. Ini mengajarkan kita tentang keutamaan qana'ah (merasa cukup) dan zuhud terhadap dunia. Bukan berarti miskin itu tujuan, tetapi hati tidak sibuk dan terikat oleh harta sehingga lalai dari Allah ﷻ.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Muslim:

Teks Arab hadits (sesuai yang Anda berikan, tanpa sanad lengkap untuk fokus pada matan):

> عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: "اللَّهُمَّ اجْعَلْ رِزْقَ آلِ مُحَمَّدٍ قُوتًا"

Makna: Dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Ya Allah, jadikanlah rezeki keluarga Muhammad cukup untuk memenuhi kebutuhan (hidup)." (HR. Muslim, no. 1055)

Ayat Al-Qur'an yang relevan:

Allah ﷻ berfirman:

> وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِّنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ ۚ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ

QS. Thaha [20]: 131 — "Dan janganlah engkau tujukan pandangan matamu kepada kenikmatan yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan di antara mereka (orang-orang kafir), yaitu bunga kehidupan dunia, agar Kami uji mereka dengannya. Dan karunia Tuhanmu lebih baik dan lebih kekal."

Penjelasan ulama: Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim menjelaskan bahwa ayat ini mengajarkan agar kita tidak silau dengan kemewahan dunia yang diberikan kepada orang-orang kafir, karena itu hanyalah ujian dan akan sirna. Yang kekal adalah karunia Allah di akhirat.

Penjelasan Rinci

1. Makna "Qut" (قُوت)

Kata qut dalam bahasa Arab berarti makanan pokok yang menjadi penopang hidup—sekadar mengenyangkan dan menjaga tubuh tetap berfungsi. Ini bukan berarti hidup dalam kekurangan yang menyiksa, tetapi hidup sederhana dan cukup, tidak berlebih-lebihan.

2. Mengapa Nabi ﷺ berdoa demikian?

Para ulama menjelaskan beberapa hikmah:

  • Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim (Juz 7, hlm. 132) mengatakan: "Doa ini menunjukkan keutamaan zuhud dan qana'ah. Nabi ﷺ memilih untuk keluarganya kecukupan yang sederhana, bukan kemewahan, agar mereka tidak disibukkan oleh urusan dunia dan lebih fokus beribadah."
  • Imam Ibn Rajab Al-Hanbali dalam Jami' Al-'Ulum wa Al-Hikam menjelaskan bahwa doa ini adalah bentuk pengajaran Nabi ﷺ kepada umatnya bahwa harta yang paling baik bukanlah yang paling banyak, tetapi yang paling mencukupi dan membuat hati tenang. Beliau menukil perkataan sebagian salaf: "Barangsiapa yang merasa cukup dengan qut (kebutuhan pokok), maka ia telah meraih kelezatan dunia dan akhirat."
  • Syaikh Muhammad bin Shalih Al-'Utsaimin dalam Syarah Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa doa ini bukan berarti Nabi ﷺ tidak mampu mendapatkan harta yang banyak—beliau adalah manusia paling mulia di sisi Allah—tetapi ini adalah pilihan kesederhanaan agar keluarganya tidak terfitnah oleh dunia.

3. Apakah ini berarti kita tidak boleh kaya?

Tidak. Yang perlu dipahami:

  • Kekayaan tidak tercela jika digunakan untuk ketaatan dan membantu sesama. Banyak sahabat yang kaya seperti Abu Bakar, Utsman bin Affan, dan Abdurrahman bin Auf—mereka kaya tetapi hatinya tidak terikat pada harta.
  • Yang tercela adalah cinta dunia yang berlebihan sehingga melalaikan ibadah dan hak-hak Allah.
  • Doa Nabi ﷺ ini adalah pilihan beliau untuk keluarganya, bukan larangan untuk menjadi kaya. Namun, ia mengandung pelajaran: hati yang tenang lebih berharga daripada harta yang melimpah.

4. Pelajaran tentang Qana'ah

Imam Ibn Qayyim Al-Jawziyyah dalam Madarij As-Salikin menjelaskan bahwa qana'ah adalah kekayaan hati—seseorang merasa cukup dengan apa yang Allah berikan, tidak gelisah dengan apa yang tidak dimiliki, dan tidak iri dengan pemberian orang lain. Ini adalah salah satu cabang keimanan yang paling tinggi.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Imam Sufyan Ats-Tsauri—salah seorang ulama besar dari kalangan tabi'in—pernah ditanya tentang makna kekayaan. Beliau menjawab: "Kekayaan itu bukanlah banyaknya harta, tetapi kekayaan hati. Barangsiapa yang hatinya merasa cukup dengan Allah, maka ia adalah orang yang paling kaya, meskipun ia tidak memiliki apa-apa."

Kemudian beliau membacakan firman Allah:

> وَلَوْ أَنَّهُمْ رَضُوا مَا آتَاهُمُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ سَيُؤْتِينَا اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَرَسُولُهُ إِنَّا إِلَى اللَّهِ رَاغِبُونَ

QS. At-Taubah [9]: 59 — "Dan sekiranya mereka ridha dengan apa yang diberikan Allah dan Rasul-Nya kepada mereka, dan berkata: 'Cukuplah Allah bagi kami, Allah akan memberikan kepada kami sebagian dari karunia-Nya dan demikian pula Rasul-Nya, sesungguhnya kami berharap kepada Allah.'"

Hikmah dari kisah ini: Ketenangan hati tidak diukur dari banyaknya harta, tetapi dari rasa ridha dan cukup terhadap apa yang Allah berikan.

Kesimpulan Praktis

  1. Berdoalah dengan doa ini untuk diri dan keluarga—memohon kecukupan yang berkah, bukan kemewahan yang melalaikan.
  2. Latihlah qana'ah—merasa cukup dengan apa yang Allah berikan, tidak gelisah dengan rezeki orang lain.
  3. Jadikan harta sebagai sarana ibadah, bukan tujuan hidup. Jika Allah memberi kelapangan, gunakan untuk kebaikan; jika Allah memberi kecukupan, syukuri dan jangan mengeluh.
  4. Jangan silau dengan kemewahan dunia yang dimiliki orang lain, karena itu bisa menjadi ujian bagi mereka.
  5. Pahami bahwa kesederhanaan Nabi ﷺ adalah pilihan, bukan keterpaksaan—dan itu adalah teladan terbaik bagi kita.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?