Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Muslim No. 1054 tentang Keberuntungan orang Islam yang merasa cukup dan puas

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah kabar gembira tentang tiga kunci kebahagiaan dan keberuntungan: (1) memeluk Islam dengan benar, (2) diberi kecukupan rezeki yang halal (tidak kekurangan dan tidak berlebihan), dan (3) hati yang merasa puas dan qana'ah terhadap apa yang Allah berikan. Orang yang memiliki ketiga hal ini telah meraih kemenangan yang hakiki, meskipun hartanya tidak melimpah. Hadits ini mengajarkan kita bahwa kebahagiaan sejati bukan terletak pada banyaknya harta, tetapi pada ketenangan hati dan rasa syukur.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Muslim:

Teks hadits yang Anda sampaikan adalah riwayat Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab Az-Zakat, Bab "Tentang Cukup dan Puas", no. 1054. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dan Imam Ahmad, dari sahabat Abdullah bin Amr bin Al-Ash radhiyallahu 'anhu.

Ayat Al-Qur'an yang Relevan:

Allah Ta'ala berfirman:

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ ۚ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

"Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu." (QS. Ath-Thalaq [65]: 3)

Kaitan dengan Ulama:

Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini mengandung keutamaan qana'ah (merasa cukup) dan dorongan untuk selalu bersyukur atas pemberian Allah. Beliau menukil bahwa makna "قَنَّعَهُ اللَّهُ" adalah Allah menjadikan hatinya merasa cukup dan puas dengan pemberian-Nya, sehingga ia tidak tamak kepada apa yang ada di tangan orang lain.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan hadits ini dengan sangat indah. Mari kita bedah satu per satu:

1. "قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ" (Sungguh beruntung orang yang memeluk Islam)

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan "beruntung" di sini adalah keberuntungan yang hakiki, yaitu selamat dari siksa Allah dan meraih pahala-Nya. Namun, perlu digarisbawahi bahwa Islam yang dimaksud bukan sekadar pengakuan lisan, tetapi Islam yang diikuti dengan amal saleh dan keikhlasan. Ini sebagaimana yang dipahami oleh para ulama salaf, di antaranya Al-Hasan Al-Bashri yang selalu menekankan bahwa iman itu bukan sekadar angan-angan, tetapi keyakinan yang tertanam di hati dan dibuktikan dengan amal.

2. "وَرُزِقَ كَفَافًا" (dan diberi rezeki yang cukup)

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa "kafaf" adalah rezeki yang cukup untuk memenuhi kebutuhan pokok hidup, tidak kurang sehingga menyusahkan, dan tidak berlebih sehingga melalaikan. Ini adalah pertengahan yang terpuji. Syaikh Al-Albani rahimahullah juga menekankan bahwa rezeki yang cukup adalah nikmat besar, karena banyak orang yang justru celaka karena hartanya yang melimpah namun tidak pandai mensyukurinya.

3. "وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ" (dan Allah menjadikannya merasa puas dengan apa yang diberikan)

Inilah inti dari qana'ah. Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam Jami' Al-'Ulum wal Hikam menjelaskan bahwa qana'ah adalah hati yang ridha dan tenang dengan pembagian Allah, tidak gelisah dengan apa yang tidak ia miliki, dan tidak iri dengan apa yang dimiliki orang lain. Qana'ah bukan berarti malas atau tidak berusaha, tetapi ia adalah ketenangan hati setelah berusaha, karena yakin bahwa rezeki telah diatur oleh Allah.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata bahwa kekayaan yang hakiki adalah kekayaan hati. Jika hati merasa cukup, maka seseorang akan merasa kaya meskipun hartanya sedikit. Sebaliknya, jika hati tidak pernah merasa cukup, maka ia akan selalu merasa miskin meskipun hartanya melimpah.

Perbedaan Pendapat Ulama:

Para ulama sepakat bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan qana'ah. Namun, ada perbedaan dalam memahami apakah qana'ah itu berarti tidak boleh berusaha mencari kekayaan. Pendapat yang benar dan dipilih oleh mayoritas ulama, termasuk Imam Ahmad bin Hanbal dan murid-muridnya, adalah bahwa qana'ah tidak menghalangi usaha dan bekerja. Yang dilarang adalah ketamakan dan ketidakpuasan hati. Bahkan, mencari rezeki yang halal untuk menafkahi keluarga adalah kewajiban. Qana'ah justru menjadi penyeimbang agar hati tidak diperbudak oleh harta.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa sahabat Abu Dzar Al-Ghifari radhiyallahu 'anhu pernah ditanya tentang kekayaan. Beliau berkata, "Kekayaan kami adalah di akhirat." Namun, beliau juga dikenal sebagai sahabat yang rajin bekerja dan tidak pernah meminta-minta. Ini menunjukkan bahwa para sahabat memahami keseimbangan antara berusaha dan qana'ah.

Ada juga kisah indah dari Imam Ahmad bin Hanbal. Beliau pernah diberi hadiah yang sangat besar oleh seorang penguasa, namun beliau menolaknya dengan halus. Ketika ditanya mengapa, beliau menjawab, "Aku khawatir hatiku akan terikat dengan pemberian manusia, sehingga aku lupa bahwa rezekiku datang dari Allah." Ini adalah contoh nyata dari qana'ah yang diajarkan oleh para ulama salaf.

Kesimpulan Praktis

Poin-poin yang bisa kita amalkan dari hadits ini:

  1. Perbaiki keislaman kita — bukan sekadar formalitas, tetapi dengan ilmu, amal, dan keikhlasan.
  2. Bersyukur atas rezeki yang ada — sekecil apa pun, karena itu adalah pilihan terbaik dari Allah untuk kita.
  3. Latih hati untuk qana'ah — dengan tidak iri pada nikmat orang lain, tidak tamak, dan tidak mengeluh atas kekurangan.
  4. Tetap berusaha dan bekerja — karena qana'ah bukan alasan untuk bermalas-malasan.
  5. Perbanyak doa — memohon kepada Allah agar diberikan hati yang qana'ah dan rezeki yang berkah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.