Penjelasan Hadits Muslim No. 1052 tentang Ketakutan terhadap fitnah harta dunia

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan bahwa yang paling dikhawatirkan Nabi ﷺ atas umatnya bukanlah kemiskinan, melainkan hiasan dunia (harta dan kemewahan) yang bisa melalaikan. Namun harta bukanlah keburukan; harta menjadi berkah jika diambil dengan cara yang benar dan digunakan dengan benar. Harta yang diambil tanpa hak hanya membuat pemiliknya semakin tidak pernah merasa cukup.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang relevan:

QS. Al-Kahfi [18]: 46

وَالْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِندَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلًا

"Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amal-amal yang kekal (pahala) lebih baik di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan."

QS. At-Takatsur [102]: 1-2

أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ ﴿١﴾ حَتَّىٰ زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ ﴿٢﴾

"Kamu telah dilalaikan oleh perbuatan bermegah-megahan, sampai kamu masuk ke dalam kubur."

Hadits terkait:

  • Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Sa'id Al-Khudri رضي الله عنه, dalam Shahih Muslim no. 1052, Kitab Zakat, Bab Ketakutan terhadap Apa yang Keluar dari Hiasan Dunia.
  • Jalur periwayatan: Yahya bin Yahya dan Qutaibah bin Sa'id, dari Al-Layts bin Sa'd (ulama dalam daftar), dari Sa'id bin Abu Sa'id Al-Maqburi, dari Iyyad bin Abdullah bin Sa'd, dari Abu Sa'id Al-Khudri.
  • Hadits senada juga terdapat dalam Shahih Bukhari dari Abu Sa'id Al-Khudri tentang kekhawatiran Nabi ﷺ terhadap hiasan dunia.

Penjelasan Rinci

Makna umum hadits:

Nabi ﷺ bersabda dengan sumpah: "Demi Allah, aku tidak takut kepada kalian tentang sesuatu pun selain apa yang Allah keluarkan untuk kalian dari hiasan dunia." Ini menunjukkan bahwa yang beliau khawatirkan bukanlah kematian, bukan pula permusuhan, melainkan fitnah harta dan kemewahan yang akan terbuka bagi umat Islam.

Penjelasan Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim: Hadits ini menunjukkan bahwa harta pada dasarnya adalah kebaikan (khair) jika diperoleh dan digunakan dengan benar. Yang menjadi masalah adalah cara memperolehnya dan cara membelanjakannya. Nabi ﷺ tidak mencela harta itu sendiri, tetapi mengingatkan bahaya kelalaian yang ditimbulkannya.

Penjelasan Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari: Sabda Nabi ﷺ "Sesungguhnya kebaikan tidak datang kecuali dengan kebaikan" adalah bantahan terhadap orang yang menyangka bahwa harta itu buruk secara zat. Harta adalah khair (kebaikan) jika diambil dengan hak dan disalurkan pada tempatnya. Adapun yang membawa keburukan adalah mengambil tanpa hak dan menggunakannya untuk kemaksiatan.

Perumpamaan hujan musim semi dan hewan:

Nabi ﷺ memberikan perumpamaan yang sangat indah:

  • Hujan musim semi (الربيع) menumbuhkan tanaman yang subur dan hijau.
  • Hewan yang makan berlebihan dari tanaman itu bisa mati karena kekenyangan (habath) atau hampir mati (yulimmu).
  • Kecuali hewan yang makan secukupnya (ākilatul khadhir): ia makan hingga kenyang, lalu menghadap matahari, berkemih, mengunyah kembali (memamah biak), lalu kembali makan. Hewan ini selamat karena makan dengan takaran yang tepat dan mencerna dengan baik.

Penjelasan Ibnul Qayyim dalam Ighatsatul Lahfan: Perumpamaan ini menggambarkan orang yang mengambil harta dengan hak — ia seperti hewan yang makan secukupnya, mencerna, dan memanfaatkannya. Sedangkan orang yang mengambil harta tanpa hak — ia seperti hewan yang makan berlebihan hingga mati, atau seperti orang yang makan tetapi tidak pernah kenyang.

Sabda terakhir: "Barangsiapa yang menerima harta dengan haknya, Allah memberkahi padanya; dan barangsiapa yang mengambil harta tanpa hak, maka perumpamaannya seperti orang yang makan dan tidak kenyang."

Penjelasan Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Taisir al-Karim ar-Rahman: Ini menunjukkan bahwa keberkahan harta terletak pada cara memperolehnya, bukan pada jumlahnya. Harta yang sedikit tetapi halal dan diberkahi lebih baik daripada harta yang banyak tetapi haram dan tidak berkah.

Perbedaan pendapat ulama:

Sebagian ulama memahami "kebaikan tidak datang kecuali dengan kebaikan" sebagai penegasan bahwa harta halal adalah kebaikan. Sebagian lain memahami bahwa kebaikan (iman dan amal saleh) tidak akan menghasilkan keburukan. Kedua makna saling melengkapi. Yang paling kuat menurut dalil adalah pendapat Imam an-Nawawi dan Ibnu Hajar: harta itu sendiri adalah khair, dan yang menjadikannya buruk adalah cara memperoleh dan menggunakannya.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Abu Sa'id Al-Khudri رضي الله عنه — sahabat yang meriwayatkan hadits ini — adalah salah satu sahabat yang zuhud terhadap dunia. Beliau pernah berkata: "Aku tidak menginginkan harta, kecuali apa yang cukup untuk makan dan menutup aurat."

Dalam sebuah riwayat, Umar bin Khattab رضي الله عنه pernah menangis ketika melihat Nabi ﷺ berbaring di atas tikar yang kasar hingga membekas di kulit beliau. Umar berkata: "Wahai Rasulullah, Kisra dan Kaisar hidup dalam kemewahan, sedangkan engkau..." Nabi ﷺ menjawab: "Apakah engkau tidak ridha bahwa mereka mendapatkan dunia dan kita mendapatkan akhirat?" (HR. Bukhari dan Muslim)

Hikmah: Nabi ﷺ tidak menolak dunia karena dunia itu buruk, tetapi beliau tidak menjadikan dunia sebagai tujuan. Beliau mengajarkan bahwa hati harus bersih dari cinta dunia, meskipun tangan bekerja untuk mencari rezeki.

Al-Hasan al-Bashri (ulama dalam daftar) pernah berkata: "Dunia ini adalah negeri yang akan pergi, bukan negeri yang kekal. Barangsiapa yang mengambilnya dengan hak, ia akan selamat; dan barangsiapa yang mengambilnya tanpa hak, ia akan binasa."

Kesimpulan Praktis

  1. Harta bukanlah keburukan — harta adalah kebaikan jika diperoleh dengan cara halal dan digunakan untuk ketaatan.
  2. Yang paling dikhawatirkan Nabi ﷺ adalah fitnah harta yang membuat seseorang lalai dari akhirat.
  3. Ambil harta dengan hak — melalui usaha halal, tanpa riba, tanpa menipu, tanpa mengambil hak orang lain.
  4. Gunakan harta dengan benar — untuk kebutuhan diri, keluarga, sedekah, dan kepentingan agama.
  5. Jangan berlebihan — seperti hewan yang makan secukupnya, ambil harta sesuai kebutuhan dan jangan tamak.
  6. Harta yang diambil tanpa hak tidak akan pernah memuaskan — seperti orang yang makan tetapi tidak kenyang.
  7. Bersyukurlah dengan yang sedikit tetapi berkah — karena keberkahan lebih berharga daripada banyaknya harta.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan ini tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Untuk si kecil di rumah

Buku cerita anak bergambar tentang bersyukur dan bahaya sombong.

Rp 15.000 Lihat isi buku

Buku cerita anak · PDF

Qorun yang Sombong

Mimi Ummu Umar, penulis dan ilustrator

Kisah Qorun, sepupu Nabi Musa, yang diberi harta melimpah tapi lupa bersyukur. Diceritakan dengan bahasa anak dan ilustrasi penuh warna.

  • 12 halaman bergambar
  • Usia 3–8 tahun
  • Dengan ayat QS. Al-Qasas
  • PDF, bisa dicetak

Hasil penjualan ikut menjaga Hadits.id tetap gratis untuk semua.

Bayar QRIS, semua bank dan e-wallet. Langsung unduh.

Qorun yang Sombong

Rp 15.000

Scan untuk membayar

Menyiapkan QRIS…
  1. Simpan QRIS
  2. Buka apps bank / e-wallet
  3. Bayar dari galeri

Setelah dibayar, bukunya langsung bisa diunduh di sini dan link-nya dikirim ke .

بَارَكَ اللَّهُ فِيكُمْ

Bukunya sudah jadi milik Anda

Link unduhan juga dikirim ke . Simpan emailnya, link bisa dibuka lagi kapan saja.

Unduh PDF Baca langsung di browser

Email ini sudah punya bukunya

Link unduhan kami kirim ulang ke . Cek juga folder Promosi atau Spam.

Gimana penjelasannya?