Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Muslim No. 105 tentang Larangan mengadu domba dan ancamannya tidak masuk surga

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah peringatan keras dari Nabi ﷺ tentang bahaya an-nammam (pengadu domba), yaitu orang yang menyampaikan perkataan orang lain dengan tujuan merusak hubungan dan menimbulkan permusuhan. Ini adalah dosa besar yang bisa menghalangi pelakunya masuk surga, sebagaimana disebutkan secara tegas dalam hadits shahih ini. Kita harus berhati-hati sekali, karena perbuatan ini sering dianggap remeh padahal sangat dibenci Allah dan Rasul-Nya.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Muslim:

Teks Arab hadits (sebagaimana yang Anda sertakan):

> وَحَدَّثَنِي شَيْبَانُ بْنُ فَرُّوخَ، وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ أَسْمَاءَ الضُّبَعِيُّ، قَالاَ حَدَّثَنَا مَهْدِيٌّ، - وَهُوَ ابْنُ مَيْمُونٍ - حَدَّثَنَا وَاصِلٌ الأَحْدَبُ، عَنْ أَبِي وَائِلٍ، عَنْ حُذَيْفَةَ، أَنَّهُ بَلَغَهُ أَنَّ رَجُلاً، يَنِمُّ الْحَدِيثَ فَقَالَ حُذَيْفَةُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يَقُولُ " لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ نَمَّامٌ " .

Makna Ringkas: Nabi ﷺ bersabda, "Tidak akan masuk surga seorang nammam (pengadu domba)."

Dalil Al-Qur'an yang Terkait:

Allah ﷻ berfirman dalam QS. Al-Qalam [68]: 10-13:

وَلَا تُطِعْ كُلَّ حَلَّافٍ مَّهِينٍ ۝ هَمَّازٍ مَّشَّاءٍ بِنَمِيمٍ ۝ مَّنَّاعٍ لِّلْخَيْرِ مُعْتَدٍ أَثِيمٍ

"Dan janganlah kamu patuhi setiap orang yang suka bersumpah dan hina, yang banyak mencela, yang kian ke mari menyebarkan fitnah (namimah), yang menghalangi kebaikan, melampaui batas, dan banyak berbuat dosa."

Kaitan dengan Ulama:

  • Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa yang dimaksud nammam adalah orang yang menyampaikan perkataan seseorang kepada orang lain dengan tujuan merusak hubungan. Ini adalah dosa besar dan termasuk kebinasaan.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari juga membahas larangan namimah dan menyebutkan bahwa ia termasuk dosa besar yang menghancurkan amal.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan bahwa an-nammam (النَّمَّامُ) adalah orang yang suka menyampaikan perkataan orang lain kepada pihak lain dengan tujuan mengadu domba dan merusak hubungan baik. Perbuatan ini disebut namimah (النَّمِيمَةُ).

Pandangan Ulama tentang Makna Hadits:

  1. Imam An-Nawawi (dalam Syarah Shahih Muslim, jilid 2, hlm. 200) menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan namimah adalah dosa besar. Beliau menukil ijma' (kesepakatan) ulama bahwa namimah termasuk dosa besar yang paling keji dan perusak hubungan sosial.
  2. Ibnu Hajar al-Asqalani (dalam Fathul Bari, jilid 10, hlm. 468) menjelaskan bahwa namimah lebih parah dari sekadar ghibah (menggunjing), karena namimah menyampaikan perkataan yang bisa memicu permusuhan, sedangkan ghibah hanya membicarakan keburukan orang di belakangnya.
  3. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin (dalam Syarah Riyadhush Shalihin) menjelaskan bahwa namimah termasuk perbuatan yang menghancurkan amal karena ia merusak ukhuwah Islamiyah. Beliau juga menegaskan bahwa orang yang suka namimah tidak akan masuk surga secara mutlak, artinya ia terancam tidak masuk surga kecuali jika bertaubat.
  4. Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di (dalam Bahjatu Qulubil Abrar) menjelaskan bahwa namimah adalah menyampaikan perkataan yang bisa menimbulkan kebencian dan perpecahan. Ini adalah perbuatan setan yang ingin memecah belah persatuan kaum muslimin.

Perbedaan Pendapat di Kalangan Ulama:

Tidak ada perbedaan pendapat di antara ulama bahwa namimah adalah dosa besar. Namun, ada perbedaan dalam memahami kalimat "لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ" (tidak akan masuk surga):

  • Mayoritas ulama (termasuk Imam An-Nawawi dan Ibnu Hajar) memahami bahwa ini adalah ancaman keras, dan maksudnya adalah tidak masuk surga pada awalnya, atau tidak masuk surga secara mutlak jika tidak bertaubat. Ini seperti hadits-hadits ancaman lainnya.
  • Sebagian ulama (seperti Ibnul Qayyim dalam Madarijus Salikin) menjelaskan bahwa ancaman ini menunjukkan besarnya dosa, namun tetap di bawah kekuasaan Allah. Jika Allah menghendaki, Dia bisa mengampuni, dan jika tidak, maka orang tersebut terancam masuk neraka terlebih dahulu.

Pendapat yang paling kuat adalah bahwa namimah adalah dosa besar yang bisa menghalangi masuk surga, dan pelakunya harus segera bertaubat dengan sungguh-sungguh.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Al-Hasan al-Bashri (seorang tabi'in yang terkenal zuhud dan ilmunya dalam) pernah berkata:

> "Barangsiapa yang menyampaikan perkataan seseorang kepada saudaranya dengan tujuan merusak hubungan, maka ia telah berbuat namimah. Dan barangsiapa yang mendengarkan namimah lalu mempercayainya, maka ia telah bersekutu dalam dosa."

Beliau juga pernah berkata:

> "Aku lebih suka duduk bersama setan daripada duduk bersama orang yang suka mengadu domba. Karena setan hanya membisikkan was-was, sedangkan pengadu domba menyampaikan perkataan yang memicu permusuhan."

Kisah ini menunjukkan betapa para salaf sangat membenci perbuatan namimah dan menjauhinya. Mereka memahami bahwa namimah adalah salah satu senjata setan yang paling ampuh untuk merusak persaudaraan kaum muslimin.

Kesimpulan Praktis

  1. Jauhi perbuatan namimah dalam segala bentuknya, baik menyampaikan perkataan orang lain dengan tujuan merusak hubungan, maupun menyebarkan berita yang bisa menimbulkan permusuhan.
  2. Jangan mendengarkan namimah, karena mendengarkannya pun termasuk dosa. Jika ada orang yang mengadu domba di hadapan kita, maka kita harus menegurnya dan tidak mempercayai ucapannya.
  3. Segera bertaubat jika pernah melakukannya, dengan menyesali perbuatan, berhenti, dan bertekad tidak mengulanginya. Jika memungkinkan, perbaiki hubungan yang telah rusak karenanya.
  4. Jaga lisan kita, karena lisan yang tidak dijaga bisa menjerumuskan kita ke dalam dosa besar yang menghancurkan amal.
  5. Perbanyak doa agar Allah menjaga lisan kita dari perkataan yang buruk.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.