Penjelasan Hadits Muslim No. 1047 tentang Dua keinginan manusia yang tak pernah tua

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengabarkan tentang tabiat dasar manusia yang tidak pernah berubah seiring bertambahnya usia, yaitu ketamakan terhadap harta dan keinginan untuk terus hidup selama-lamanya. Ini adalah peringatan agar kita tidak larut dalam sifat tersebut, karena keduanya bisa menjadi sumber kehancuran jika tidak dikendalikan dengan iman dan rasa cukup (qana'ah).

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Muslim:

Teks Arab hadits (sesuai yang Anda berikan):

وَحَدَّثَنِي يَحْيَى بْنُ يَحْيَى، وَسَعِيدُ بْنُ مَنْصُورٍ، وَقُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ، كُلُّهُمْ عَنْ أَبِي عَوَانَةَ، - قَالَ يَحْيَى أَخْبَرَنَا أَبُو عَوَانَةَ، - عَنْ قَتَادَةَ، عَنْ أَنَسٍ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ " يَهْرَمُ ابْنُ آدَمَ وَتَشِبُّ مِنْهُ اثْنَتَانِ الْحِرْصُ عَلَى الْمَالِ وَالْحِرْصُ عَلَى الْعُمُرِ " .

Terjemahan: Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Anak Adam menua, tetapi dua (keinginan) dalam dirinya tetap muda: keinginan untuk kekayaan dan keinginan untuk hidup."

Ayat Al-Qur'an yang relevan:

QS. Al-Humazah [104]: 1-3 (tentang bahaya cinta harta):

وَيْلٌ لِّكُلِّ هُمَزَةٍ لُّمَزَةٍ ۝ الَّذِي جَمَعَ مَالًا وَعَدَّدَهُ ۝ يَحْسَبُ أَنَّ مَالَهُ أَخْلَدَهُ

"Celakalah bagi setiap pengumpat dan pencela, yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya, dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya."

QS. At-Takatsur [102]: 1-2:

أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ ۝ حَتَّىٰ زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ

"Bermegah-megahan telah melalaikan kalian, sampai kalian masuk ke dalam kubur."

Kaitan dengan ulama dari daftar:

Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa makna hadits ini adalah manusia tidak pernah puas dengan harta dan tidak pernah puas dengan umur. Beliau menukil perkataan para ulama bahwa yang dimaksud "tetap muda" adalah kedua sifat ini tidak menua sebagaimana menua-nya badan manusia.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan hadits ini dengan beberapa poin penting:

1. Makna "menua" dan "tetap muda"

Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Al-Minhaj Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan "tetap muda" (تَشِبُّ) adalah kedua sifat ini tidak berkurang dan tidak melemah seiring bertambahnya usia manusia. Justru sebaliknya, semakin tua seseorang, semakin kuat keinginannya untuk mempertahankan harta dan semakin besar harapannya untuk panjang umur.

2. Fitrah manusia yang tidak pernah puas

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menjelaskan bahwa ketamakan terhadap harta dan umur adalah fitrah yang Allah ciptakan pada diri manusia. Namun syariat datang untuk mengarahkan fitrah ini. Cinta harta bisa menjadi baik jika digunakan untuk ketaatan dan membantu sesama. Cinta umur juga bisa menjadi baik jika digunakan untuk memperbanyak amal shalih.

3. Bahaya ketamakan

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitabnya menjelaskan bahwa ketamakan adalah akar dari banyak dosa. Orang yang tamak terhadap harta akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya. Orang yang terlalu cinta umur akan lalai dari persiapan menghadapi kematian.

4. Solusi dari sifat ini

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di rahimahullah menjelaskan bahwa obat dari penyakit ini adalah:

  • Meyakini bahwa rezeki sudah diatur oleh Allah
  • Memperbanyak mengingat kematian
  • Mengisi umur dengan amal shalih sebelum datangnya ajal
  • Berlatih qana'ah (merasa cukup dengan apa yang Allah berikan)

5. Perbedaan antara tamak dan semangat

Perlu dibedakan antara tamak (الْحِرْص) yang tercela dengan semangat (النَّشَاط) yang terpuji. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa semangat dalam kebaikan adalah terpuji, tetapi ketamakan terhadap dunia adalah tercela. Sebagaimana sabda Nabi ﷺ dalam hadits lain: "Jika anak Adam memiliki satu lembah emas, ia ingin memiliki lembah kedua."

Story Telling

Diriwayatkan bahwa ketika ajal menjemput Qarun—orang yang sangat kaya di zaman Nabi Musa—ia berkata: "Sesungguhnya aku diberi harta ini karena ilmu yang ada padaku." (QS. Al-Qashash [28]: 78). Ia mengira hartanya akan membuatnya abadi. Namun Allah membenamkannya beserta hartanya ke dalam bumi.

Sahabat yang mulia, Abdurrahman bin 'Auf radhiyallahu 'anhu, adalah salah satu sahabat terkaya. Namun ketika ditawari harta oleh Rasulullah ﷺ, ia justru meminta agar ditunjukkan jalan ke pasar untuk berdagang. Beliau menggunakan hartanya untuk berinfak di jalan Allah, bahkan pernah menyedekahkan setengah hartanya yang mencapai 4.000 dirham. Ini menunjukkan bahwa harta tidak selalu buruk, yang buruk adalah ketamakan yang melalaikan dari Allah.

Kesimpulan Praktis

  1. Sadari fitrah ini — Ketamakan terhadap harta dan umur adalah tabiat manusia, jangan sampai kita larut di dalamnya.
  2. Kendalikan dengan iman — Jadikan cinta harta sebagai sarana untuk beribadah dan bersedekah, bukan tujuan hidup.
  3. Manfaatkan umur — Perbanyak amal shalih sebelum ajal tiba, karena umur tidak bisa diperpanjang dengan keinginan.
  4. Latih qana'ah — Belajar merasa cukup dengan rezeki yang Allah berikan, karena kekayaan sejati adalah kekayaan hati.
  5. Perbanyak mengingat kematian — Ini akan mematahkan ketamakan dan menghidupkan kesiapan diri.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?