Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengingatkan kita bahwa tabiat manusia, termasuk yang sudah lanjut usia, cenderung sangat mencintai umur panjang dan harta benda. Cinta ini bisa menjadi ujian jika tidak dikendalikan dengan iman dan kesadaran akan akhirat. Seorang muslim hendaknya menggunakan cinta kepada kehidupan dan harta untuk bekal taat, bukan untuk tamak dan lalai dari kewajiban.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Az-Zakat, Bab Karahiyat al-Hirs 'ala ad-Dunya, no. 1046, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.
Teks Arab Hadits (dengan harakat lengkap):
حَدَّثَنَا زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ، حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ، عَنْ أَبِي الزِّنَادِ، عَنِ الأَعْرَجِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، يَبْلُغُ بِهِ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ: " قَلْبُ الشَّيْخِ شَابٌّ عَلَى حُبِّ اثْنَتَيْنِ: حُبِّ الْعَيْشِ وَالْمَالِ ".
Terjemahan: "Hati orang tua itu tetap muda (bersemangat) dalam mencintai dua hal: cinta kepada kehidupan (panjang umur) dan cinta kepada harta."
Kaitan dengan Ulama:
Imam an-Nawawi rahimahullah dalam Syarh Shahih Muslim (7/120) menjelaskan makna hadits ini. Beliau berkata, "Maknanya, hati orang yang sudah tua itu tetap muda dan bersemangat dalam cintanya kepada dunia, yaitu cinta kepada umur panjang dan harta. Ini adalah pemberitaan tentang tabiat manusia yang sudah tua, bahwa mereka sangat tamak terhadap dunia. Ini bukanlah celaan terhadap usia tua itu sendiri, tetapi celaan terhadap sifat tamak yang melekat padanya."
Penjelasan Rinci
Hadits ini adalah kabar dari Nabi ﷺ tentang realitas tabiat manusia, terutama ketika usia telah lanjut. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah dalam Syarh Riyadh ash-Shalihin menjelaskan bahwa yang dimaksud "hati orang tua tetap muda" adalah semangat dan keinginannya terhadap dunia tidak berkurang, bahkan terkadang bertambah.
Mengapa orang tua sangat cinta pada kehidupan (umur panjang)?
Karena semakin dekat seseorang dengan kematian, semakin besar rasa cintanya untuk terus hidup. Ini adalah ujian. Seorang mukmin yang benar akan menggunakan sisa usianya untuk memperbanyak amal shalih dan taubat, bukan untuk mengejar kenikmatan dunia yang fana.
Mengapa orang tua sangat cinta pada harta?
Karena harta sering dijadikan jaminan untuk mempertahankan kehidupan dan mengatasi kelemahan fisik di masa tua. Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di rahimahullah dalam Bahjah Qulub al-Abrar menekankan bahwa cinta harta yang berlebihan akan melahirkan sifat kikir, tamak, dan lalai dari hak Allah serta hak sesama.
Pandangan Ulama:
- Imam Ibn Rajab al-Hanbali rahimahullah dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menjelaskan bahwa hadits ini mengingatkan bahaya cinta dunia yang berlebihan. Beliau mengutip perkataan Al-Hasan al-Bashri rahimahullah, "Tidaklah seorang hamba menjadi tua dalam Islam, lalu ia memperbaiki amalnya, melainkan itu adalah kebaikan baginya. Namun, yang tercela adalah jika ia tetap tamak dan lalai."
- Syaikhul Islam Ibn Taimiyyah rahimahullah dalam Majmu' al-Fatawa menegaskan bahwa cinta kepada umur panjang dan harta bukanlah dosa selama digunakan untuk ketaatan. Namun, jika cinta itu melampaui batas hingga melalaikan shalat, zakat, dan kewajiban lainnya, maka itulah yang tercela.
Jadi, inti hadits ini adalah peringatan agar kita tidak tertipu oleh usia tua yang seharusnya membuat kita lebih dekat kepada Allah, bukan malah semakin tamak kepada dunia.
Story Telling
Diriwayatkan dari Sufyan bin 'Uyainah rahimahullah (salah satu perawi hadits ini), beliau pernah ditanya tentang seseorang yang sudah tua tetapi masih sangat sibuk mengumpulkan harta. Maka Sufyan bin 'Uyainah berkata, "Orang itu lupa bahwa kematian sudah di depan matanya. Seharusnya ia sibuk mempersiapkan bekal untuk perjalanan panjang menuju akhirat."
Kisah ini mengajarkan kita bahwa seorang mukmin yang bijak adalah yang menjadikan cintanya kepada kehidupan dan harta sebagai sarana untuk beribadah, bukan sebagai tujuan hidup. Semakin tua, seharusnya semakin semangat untuk bertaubat dan beramal shalih.
Kesimpulan Praktis
- Sadari tabiat diri: Cinta umur panjang dan harta adalah tabiat manusia, termasuk orang tua. Jangan biarkan hal ini menguasai hati hingga melalaikan akhirat.
- Kendalikan dengan iman: Gunakan cinta kepada kehidupan untuk memperbanyak ibadah dan taubat. Gunakan cinta kepada harta untuk bersedekah dan menunaikan hak Allah.
- Jangan tamak: Tamak terhadap dunia adalah akar keburukan. Sebaliknya, jadilah hamba yang qana'ah (menerima) dan dermawan.
- Perbanyak doa: Mohonlah kepada Allah agar diberikan hati yang selalu rindu kepada akhirat dan tidak terpedaya oleh dunia.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.