Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah peringatan keras dari Nabi ﷺ tentang bahaya meminta-minta kepada manusia tanpa kebutuhan yang mendesak. Rasulullah ﷺ mengabarkan bahwa seseorang yang terus-menerus meminta-minta akan dihukum oleh Allah dengan keadaan di akhirat nanti, yaitu wajahnya tidak memiliki daging, sebagai bentuk kehinaan dan balasan atas perbuatannya yang tidak menjaga kehormatan diri. Ini bukan berarti semua orang yang meminta akan seperti itu, tetapi bagi mereka yang meminta tanpa hajat yang dibenarkan syariat.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Muslim:
Teks Arab hadits (dengan harakat lengkap):
وَحَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الْأَعْلَى بْنُ عَبْدِ الْأَعْلَى، عَنْ مَعْمَرٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُسْلِمٍ، أَخِي الزُّهْرِيِّ، عَنْ حَمْزَةَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، عَنْ أَبِيهِ، أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ: "لَا تَزَالُ الْمَسْأَلَةُ بِأَحَدِكُمْ حَتَّى يَلْقَى اللَّهَ وَلَيْسَ فِي وَجْهِهِ مُزْعَةُ لَحْمٍ"
Makna hadits: "Tidak akan berhenti seseorang meminta-minta kepada orang lain hingga ia menemui Allah (di hari kiamat) dan tidak ada daging di wajahnya."
Ayat Al-Qur'an yang relevan:
QS. Al-Baqarah [2]: 273
لِلْفُقَرَاءِ الَّذِينَ أُحْصِرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ لَا يَسْتَطِيعُونَ ضَرْبًا فِي الْأَرْضِ يَحْسَبُهُمُ الْجَاهِلُ أَغْنِيَاءَ مِنَ التَّعَفُّفِ تَعْرِفُهُمْ بِسِيمَاهُمْ لَا يَسْأَلُونَ النَّاسَ إِلْحَافًا
"Berinfaklah kepada orang-orang fakir yang terikat (berjuang) di jalan Allah; mereka tidak dapat berusaha di bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka adalah orang-orang kaya karena mereka menjaga diri dari meminta-minta. Kamu mengenal mereka dari ciri-cirinya, mereka tidak meminta kepada orang lain secara mendesak."
Ayat ini menunjukkan pujian Allah terhadap orang-orang yang menjaga diri dari meminta-minta, dan celaan terhadap sikap meminta secara mendesak (ilḥāf).
Hadits lain yang relevan:
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
"مَنْ سَأَلَ النَّاسَ أَمْوَالَهُمْ تَكَثُّرًا فَإِنَّمَا يَسْأَلُ جَمْرًا فَلْيَسْتَقِلَّ أَوْ لِيَسْتَكْثِرْ"
"Barangsiapa meminta-minta harta kepada manusia dengan tujuan memperbanyak (harta), maka sesungguhnya ia meminta bara api; maka silakan ia sedikitkan atau perbanyak." (HR. Muslim no. 1041)
Penjelasan ulama:
Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan kerasnya larangan meminta-minta tanpa kebutuhan. Beliau menukil ijma' ulama bahwa meminta-minta itu hukumnya haram jika tidak ada kebutuhan, dan mubah (boleh) jika dalam keadaan darurat.
Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa "tidak ada daging di wajahnya" adalah bentuk balasan yang setimpal, karena orang yang meminta-minta telah menghilangkan kehormatan dan "daging" wajahnya (rasa malu) di dunia, maka Allah menghilangkan daging wajahnya di akhirat sebagai balasan.
Penjelasan Rinci
Hadits ini adalah salah satu dalil terkuat tentang tercelanya sikap meminta-minta kepada manusia. Mari kita pahami beberapa poin penting:
Pertama: Makna "al-mas'alah" (المسألة)
Yang dimaksud di sini adalah meminta-minta harta kepada manusia. Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa yang tercela adalah meminta tanpa kebutuhan yang mendesak. Adapun jika seseorang dalam keadaan darurat (seperti kelaparan yang mengancam nyawa), maka meminta itu diperbolehkan bahkan terkadang wajib untuk menyelamatkan dirinya.
Kedua: Makna "hingga ia menemui Allah dan tidak ada daging di wajahnya"
Ini adalah bentuk ancaman yang sangat keras. Para ulama menjelaskan bahwa ini adalah balasan yang setimpal (muqabalah bil jins), karena orang yang meminta-minta telah "menjual" kehormatan dan rasa malunya di dunia. Wajah adalah simbol kehormatan seseorang. Ketika ia meminta-minta, ia telah menghilangkan "daging" kehormatan wajahnya di dunia, maka Allah akan menghilangkan daging wajahnya di akhirat sebagai balasan.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan betapa besarnya dosa meminta-minta tanpa hajat, karena balasannya disebutkan secara gamblang di akhirat. Ini berbeda dengan dosa-dosa lain yang balasannya disebut secara umum.
Ketiga: Pengecualian yang dibolehkan
Para ulama dari kalangan sahabat dan tabi'in telah menjelaskan bahwa meminta-minta itu dibolehkan dalam beberapa keadaan:
- Orang yang tertimpa musibah yang menghabiskan hartanya, sehingga ia boleh meminta sampai ia mendapatkan kecukupan.
- Orang yang terlilit utang yang tidak mampu membayarnya.
- Orang yang sangat miskin sehingga tiga orang yang adil menyaksikan bahwa ia benar-benar membutuhkan.
Ini berdasarkan hadits Qabishah bin Mukhariq yang diriwayatkan Muslim, bahwa Nabi ﷺ membolehkan meminta bagi tiga golongan tersebut.
Keempat: Sikap salaf terhadap meminta-minta
Al-Hasan al-Bashri berkata: "Sungguh seseorang yang meminta-minta kepada manusia telah menghinakan dirinya sendiri, dan sungguh Allah membenci orang yang menghinakan dirinya."
Imam Ahmad bin Hanbal pernah ditanya tentang seseorang yang meminta-minta padahal ia memiliki makanan untuk hari itu, maka beliau menjawab: "Ia tidak boleh meminta, karena meminta itu hanya untuk orang yang tidak memiliki apa-apa."
Sufyan ats-Tsauri berkata: "Jagalah wajahmu dari meminta-minta, karena sesungguhnya wajah itu memiliki hak atas pemiliknya."
Story Telling
Dahulu, ada seorang sahabat yang bernama Tsa'labah bin Hatib radhiyallahu 'anhu. Suatu hari ia berkata kepada Rasulullah ﷺ: "Wahai Rasulullah, doakanlah aku agar Allah memberiku harta." Maka Rasulullah ﷺ bersabda: "Celaka engkau wahai Tsa'labah! Sedikit harta yang engkau syukuri lebih baik daripada banyak harta yang tidak mampu engkau syukuri." Namun Tsa'labah terus meminta, hingga Rasulullah ﷺ mendoakannya. Maka Allah memberinya harta yang banyak, hingga kambing-kambingnya memenuhi lembah Madinah. Namun kemudian ia mulai meninggalkan shalat Jum'at, lalu meninggalkan shalat berjamaah, hingga akhirnya ia tidak mau membayar zakat. Maka turunlah firman Allah dalam QS. At-Taubah [9]: 75-76 yang mengabarkan tentang orang-orang yang ingkar janji setelah Allah memberi mereka karunia. (HR. At-Tirmidzi, dan kisah ini disebutkan oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya)
Kisah ini mengajarkan kita bahwa kekayaan bukanlah segalanya. Yang terpenting adalah keistiqamahan dalam ketaatan dan rasa cukup dengan apa yang Allah berikan. Meminta-minta kepada manusia adalah pintu menuju kehinaan, sedangkan merasa cukup dengan pemberian Allah adalah pintu menuju kemuliaan.
Kesimpulan Praktis
- Jauhi meminta-minta kepada manusia selama masih ada jalan halal untuk mendapatkan penghasilan, sekecil apa pun itu.
- Jika dalam keadaan darurat, meminta itu dibolehkan, tetapi tetap dengan adab: tidak mendesak, tidak memaksa, dan hanya sebatas kebutuhan.
- Jaga kehormatan diri dengan merasa cukup (qana'ah) atas apa yang Allah berikan. Rasulullah ﷺ bersabda: "Beruntunglah orang yang diberi petunjuk kepada Islam, dan memiliki kecukupan hidup, dan merasa puas dengan apa yang Allah berikan." (HR. Muslim)
- Perbanyak doa meminta kepada Allah, karena meminta kepada Allah adalah ibadah, sedangkan meminta kepada manusia (tanpa hajat) adalah kehinaan.
- Jika ada orang yang meminta kepada kita, berilah dengan ikhlas dan jangan menghinanya, karena bisa jadi ia benar-benar membutuhkan.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.