Penjelasan Hadits Muslim No. 1037 tentang Larangan meminta-minta dan keberkahan pemberian

Penjelasan Hadits Shahih Muslim No. 1037

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini memuat dua pesan agung dari Rasulullah ﷺ: (1) siapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, Allah berikan pemahaman agama yang benar; dan (2) harta yang diberikan karena ketamakan dan meminta-minta tidak akan membawa keberkahan, seperti orang makan yang tidak pernah kenyang. Hadits ini juga memuat nasihat Mu'awiyah radhiyallahu 'anhu agar berhati-hati dalam meriwayatkan hadits, dan meneladani ketegasan Umar bin al-Khaththab dalam menasihati manusia agar takut kepada Allah.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an terkait:

QS. Al-Baqarah [2]: 261

وَمَثَلُ الَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَالَهُمُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ وَتَثْبِيتًا مِّنْ أَنفُسِهِمْ كَمَثَلِ جَنَّةٍ بِرَبْوَةٍ أَصَابَهَا وَابِلٌ فَآتَتْ أُكُلَهَا ضِعْفَيْنِ فَإِن لَّمْ يُصِبْهَا وَابِلٌ فَطَلٌّ ۗ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

Terjemahan: "Dan perumpamaan orang-orang yang menafkahkan hartanya karena mencari keridhaan Allah dan untuk meneguhkan (iman) dalam diri mereka, seperti sebuah kebun di tempat yang tinggi yang disiram oleh hujan lebat, lalu kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis (pun memadai). Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan."

QS. Al-Baqarah [2]: 273 (berkaitan dengan larangan meminta-minta):

لِلْفُقَرَاءِ الَّذِينَ أُحْصِرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ لَا يَسْتَطِيعُونَ ضَرْبًا فِي الْأَرْضِ يَحْسَبُهُمُ الْجَاهِلُ أَغْنِيَاءَ مِنَ التَّعَفُّفِ تَعْرِفُهُم بِسِيمَاهُمْ لَا يَسْأَلُونَ النَّاسَ إِلْحَافًا ۗ وَمَا تُنفِقُوا مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ

Terjemahan: "(Berinfaklah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah; mereka tidak dapat (berusaha) di bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena memelihara diri dari meminta-minta. Kamu kenal mereka dengan ciri-cirinya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui."

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Mu'awiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu 'anhu, dan dicatat oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Zakat, Bab Larangan Meminta-minta. Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini mengandung dua faedah besar: keutamaan ilmu agama dan adab dalam menerima pemberian.

Hadits lain yang semakna, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

"Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, Allah berikan pemahaman agama kepadanya." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Penjelasan Rinci

Pertama: Nasihat Mu'awiyah tentang kehati-hatian dalam hadits

Mu'awiyah radhiyallahu 'anhu berkata: "Hati-hatilah kalian dari hadits-hadits, kecuali hadits yang ada pada masa Umar." Imam an-Nawawi menjelaskan dalam Syarah Shahih Muslim bahwa maksud ucapan ini adalah peringatan agar tidak mudah menyebarkan hadits tanpa memastikan kebenarannya, dan hendaknya meneladani ketegasan Umar bin al-Khaththab radhiyallahu 'anhu yang sangat ketat dalam menerima riwayat dan menasihati manusia agar bertakwa kepada Allah. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari juga menyebutkan bahwa Umar dikenal sangat berhati-hati dalam menerima riwayat, dan hal ini bukan berarti menolak hadits, tetapi menekankan pentingnya verifikasi.

Kedua: Keutamaan ilmu agama

Sabda Nabi ﷺ: "Barangsiapa yang dikehendaki Allah untuk mendapatkan kebaikan, Dia akan memberinya pemahaman dalam agama." Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan bahwa "fiqh fid din" (pemahaman agama) mencakup ilmu tentang halal-haram, hukum-hukum, dan hikmah syariat, bukan sekadar hafalan. Imam an-Nawawi menambahkan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan ilmu dan ulama, serta bahwa pemahaman agama adalah tanda kebaikan yang Allah kehendaki bagi hamba-Nya. Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam tafsirnya menegaskan bahwa ilmu yang bermanfaat adalah yang membuahkan amal dan ketakwaan.

Ketiga: Adab dalam menerima pemberian

Sabda Nabi ﷺ: "Sesungguhnya aku adalah seorang bendahara (penjaga harta). Barangsiapa yang aku berikan dengan kerelaan hatiku, maka dia akan diberkahi; dan barangsiapa yang aku berikan karena permintaan dan ketamakannya, maka dia seperti orang yang makan tetapi tidak kenyang."

Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan bahwa Nabi ﷺ adalah penjaga harta Allah, dan beliau membagikan sesuai perintah Allah. Orang yang menerima dengan hati yang baik dan tidak tamak akan mendapat keberkahan. Adapun yang meminta dengan ketamakan (syaraḥ), maka pemberian itu tidak membawa keberkahan, seperti orang yang makan banyak tetapi tidak kenyang. Imam an-Nawawi menyebutkan bahwa ini adalah peringatan keras terhadap sifat tamak dan meminta-minta tanpa kebutuhan.

Imam Ahmad bin Hanbal dan Imam asy-Syafi'i dalam kitab-kitab mereka menegaskan bahwa meminta-minta tanpa darurat adalah perbuatan yang tercela, dan lebih baik bekerja serta menjaga kehormatan diri. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam syarahnya menjelaskan bahwa hadits ini mengajarkan agar seseorang tidak meminta kecuali dalam keadaan darurat, dan hendaknya menerima pemberian dengan hati yang lapang.

Perbedaan pendapat di antara ulama daftar:

Sebagian ulama seperti Imam an-Nawawi dan Ibnu Hajar menekankan bahwa larangan meminta-minta bersifat umum, kecuali dalam keadaan darurat. Sedangkan sebagian ulama seperti Ibn Taymiyyah dan Ibn Qayyim al-Jawziyyah menegaskan bahwa meminta-minta boleh jika benar-benar membutuhkan, namun tetap dengan adab dan tidak berlebihan. Yang paling kuat adalah pendapat yang menggabungkan keduanya: meminta-minta dilarang kecuali dalam keadaan darurat, dan hendaknya seseorang berusaha menjaga kehormatan diri serta bertawakal kepada Allah.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Umar bin al-Khaththab radhiyallahu 'anhu suatu ketika melihat seorang pemuda yang selalu meminta-minta di pasar. Umar bertanya: "Mengapa engkau meminta-minta?" Pemuda itu menjawab: "Aku tidak memiliki pekerjaan." Umar lalu memberinya seekor kuda dan berkata: "Pergilah bekerja, dan jangan meminta-minta." Kisah ini menunjukkan ketegasan Umar dalam mendidik umat agar mandiri dan tidak bergantung pada pemberian orang lain. (Disebutkan secara makna dalam kitab-kitab sejarah dan dinukil oleh Ibn Rajab al-Hanbali dalam kitabnya tentang keutamaan bekerja.)

Rasulullah ﷺ juga pernah bersabda kepada Hakim bin Hizam radhiyallahu 'anhu:

الْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى

"Tangan yang di atas (memberi) lebih baik daripada tangan yang di bawah (menerima)." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Kesimpulan Praktis

  1. Utamakan ilmu agama — Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan, Allah berikan pemahaman agama. Maka tuntutlah ilmu dengan niat ikhlas dan amalkan.
  2. Jauhi meminta-minta tanpa kebutuhan — Meminta-minta dengan ketamakan tidak membawa keberkahan, seperti makan yang tidak pernah kenyang.
  3. Jaga kehormatan diri — Bekerjalah dan bertawakallah kepada Allah; lebih baik memberi daripada menerima.
  4. Terimalah pemberian dengan hati lapang — Jika diberi tanpa meminta, terimalah dengan syukur dan doakan pemberi.
  5. Teladani ketegasan Umar dalam kebenaran — Berhati-hatilah dalam menyebarkan berita dan hadits, pastikan kebenarannya.
  6. Hindari sifat tamak — Sifat tamak adalah penyakit hati yang menghalangi keberkahan.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan ini tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Untuk si kecil di rumah

Buku cerita anak bergambar tentang bersyukur dan bahaya sombong.

Rp 15.000 Lihat isi buku

Buku cerita anak · PDF

Qorun yang Sombong

Mimi Ummu Umar, penulis dan ilustrator

Kisah Qorun, sepupu Nabi Musa, yang diberi harta melimpah tapi lupa bersyukur. Diceritakan dengan bahasa anak dan ilustrasi penuh warna.

  • 12 halaman bergambar
  • Usia 3–8 tahun
  • Dengan ayat QS. Al-Qasas
  • PDF, bisa dicetak

Hasil penjualan ikut menjaga Hadits.id tetap gratis untuk semua.

Bayar QRIS, semua bank dan e-wallet. Langsung unduh.

Qorun yang Sombong

Rp 15.000

Scan untuk membayar

Menyiapkan QRIS…
  1. Simpan QRIS
  2. Buka apps bank / e-wallet
  3. Bayar dari galeri

Setelah dibayar, bukunya langsung bisa diunduh di sini dan link-nya dikirim ke .

بَارَكَ اللَّهُ فِيكُمْ

Bukunya sudah jadi milik Anda

Link unduhan juga dikirim ke . Simpan emailnya, link bisa dibuka lagi kapan saja.

Unduh PDF Baca langsung di browser

Email ini sudah punya bukunya

Link unduhan kami kirim ulang ke . Cek juga folder Promosi atau Spam.

Gimana penjelasannya?