Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan agar kita rajin berinfak (sedekah) tanpa menghitung-hitung atau merasa pelit, karena sikap menghitung-hitung bisa membuat Allah juga "menghitung" dan mengurangi keberkahan pemberian-Nya kepada kita. Islam menganjurkan kita memberi dengan lapang dada dan penuh keyakinan bahwa Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik. Jadi intinya: berinfaklah dengan ikhlas dan jangan pelit, niscaya Allah akan melimpahkan rezeki dan pahala-Nya.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab Zakat, Bab Anjuran untuk Berinfak dan Kebencian terhadap Penghitungan, dari Asma' binti Abu Bakr radhiyallahu 'anha.
Teks hadits:
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «أَنْفِقِي – أَوِ انْضَحِي أَوِ انْفَحِي – وَلَا تُحْصِي فَيُحْصِيَ اللَّهُ عَلَيْكِ»
Terjemah: Rasulullah ﷺ bersabda: "Berinfaklah – atau taburkanlah, atau berilah – dan jangan engkau menghitung-hitung, karena Allah akan menghitung-hitung (pula) terhadapmu."
Dalil Al-Qur'an yang mendukung:
QS. Al-Baqarah [2]: 261
مَثَلُ الَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَن يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
Terjemah: "Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Luas lagi Maha Mengetahui."
Kaitan dengan ulama: Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini mengandung anjuran untuk berinfak dan larangan menghitung-hitung sedekah, karena hal itu menunjukkan kekikiran dan kurang tawakal. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari juga menegaskan makna serupa. Ibn Katsir dalam tafsirnya menjelaskan ayat di atas sebagai dorongan untuk berinfak dengan ikhlas tanpa rasa takut kehabisan rezeki.
Penjelasan Rinci
Hadits ini memiliki makna yang sangat dalam tentang adab berinfak. Rasulullah ﷺ menggunakan beberapa kata: "anfiqī" (berinfaklah), "anḍaḥī" (taburkanlah), atau "anfaḥī" (berilah) – semuanya menunjukkan perintah untuk memberi dengan ringan dan tanpa beban. Lalu beliau melarang "lā tuḥṣī" yaitu jangan menghitung-hitung apa yang telah engkau berikan, jangan merasa "sudah banyak" atau "nanti habis". Jika seseorang menghitung-hitung sedekahnya, maka Allah juga akan menghitung-hitung nikmat-Nya dan mengurangi keberkahan untuknya.
Imam an-Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa makna "fa yuḥṣiya Allāhu 'alaiki" adalah: jika engkau menghitung-hitung pemberianmu dan merasa pelit, maka Allah akan menghitung-hitung pemberian-Nya kepadamu dan menahan keberkahan. Ini bukan berarti Allah pelit – Maha Suci Allah dari itu – tetapi balasan yang setimpal dengan perbuatan hamba. Ibnu Hajar menambahkan bahwa hadits ini juga mencakup larangan menghitung-hitung dalam rangka pamer atau merasa lebih tinggi.
Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam kitabnya menjelaskan bahwa sedekah yang dikeluarkan dengan hati lapang akan mendatangkan keberkahan dan menjadi sebab datangnya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Sebaliknya, sifat kikir dan menghitung-hitung adalah penyakit hati yang menghalangi turunnya rahmat.
Para ulama sepakat bahwa hadits ini bukan larangan mencatat keuangan secara umum, tetapi larangan sikap batin yang pelit dan merasa berat ketika berinfak. Jadi boleh saja seseorang mencatat pengeluarannya untuk perencanaan, asalkan hatinya tetap lapang dan tidak merasa "rugi" ketika bersedekah.
Story Telling
Dikisahkan bahwa Asma' binti Abu Bakr radhiyallahu 'anha adalah seorang wanita yang sangat dermawan. Suatu ketika Rasulullah ﷺ memberinya nasihat ini secara langsung, karena beliau tahu Asma' memiliki sifat pemurah. Dalam riwayat lain, Asma' pernah berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Berinfaklah dan janganlah engkau menyimpan harta dalam wadah yang tertutup rapat, karena Allah akan menahan rezeki darimu." (HR. Bukhari-Muslim). Asma' pun menjadi teladan dalam kedermawanan, bahkan ia membagi-bagikan hartanya hingga habis untuk orang-orang yang membutuhkan. Hikmahnya: orang yang lapang dalam berinfak akan dilapangkan rezekinya oleh Allah, dan sikap pelit justru mendatangkan kesempitan.
Kesimpulan Praktis
- Biasakan berinfak sesuai kemampuan, sekecil apa pun, tanpa merasa berat.
- Jangan menghitung-hitung sedekah yang telah dikeluarkan, apalagi mengungkit-ungkitnya.
- Yakinlah bahwa Allah akan mengganti dengan yang lebih baik dan melipatgandakan pahala.
- Hindari sifat kikir dan merasa "nanti habis" – itu adalah bisikan setan.
- Jika ingin mencatat keuangan, boleh, tetapi jaga hati agar tetap lapang dan ikhlas.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.