Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menunjukkan keutamaan yang sangat besar bagi orang yang shalat di barisan (shaf) pertama. Allah Ta'ala dan para malaikat-Nya bershalawat (mendoakan dan memuji) kepada mereka yang mengisi shaf pertama. Ini adalah dorongan agar kita bersemangat untuk datang lebih awal ke masjid dan mengisi shaf terdepan, karena di sanalah terdapat keutamaan yang agung.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Ibnu Majah:
Teks Arab hadits (sesuai riwayat):
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُصَفَّى الْحِمْصِيُّ، حَدَّثَنَا أَنَسُ بْنُ عِيَاضٍ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَمْرِو بْنِ عَلْقَمَةَ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ـ ﷺ ـ " إِنَّ اللَّهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى الصَّفِّ الأَوَّلِ "
Makna: Dari Ibrahim bin ‘Abdur-Rahman bin ‘Awf, dari ayahnya (yaitu ‘Abdur-Rahman bin ‘Awf radhiyallahu ‘anhu), ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada barisan (shaf) pertama."
Hadits semakna dari riwayat lain:
Dalam Shahih Muslim, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:
لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِي النِّدَاءِ وَالصَّفِّ الْأَوَّلِ ثُمَّ لَمْ يَجِدُوا إِلَّا أَنْ يَسْتَهِمُوا عَلَيْهِ لَاسْتَهَمُوا
"Seandainya manusia mengetahui apa yang ada pada panggilan shalat (azan) dan shaf pertama, kemudian mereka tidak mendapatkannya kecuali dengan mengundi, niscaya mereka akan mengundi." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Kaitan dengan Ulama:
- Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan shaf pertama dan dorongan kuat untuk meraihnya. Beliau menyebutkan bahwa para ulama sepakat (ijma') tentang keutamaan shaf pertama bagi laki-laki.
- Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari ketika menjelaskan hadits Abu Hurairah di atas, menyebutkan bahwa keutamaan shaf pertama mencakup keutamaan tempat dan keutamaan orang yang mengisinya. Beliau juga menukil perkataan ulama bahwa shaf pertama lebih utama karena dekat dengan imam dan lebih fokus dalam shalat.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan bahwa makna "Allah bershalawat" kepada hamba-Nya adalah pujian Allah kepada hamba tersebut di hadapan para malaikat, serta rahmat dan keberkahan yang dicurahkan. Adapun shalawat para malaikat adalah doa dan permohonan ampunan.
Beberapa poin penting dari hadits ini:
- Keutamaan shaf pertama bersifat umum — Hadits ini tidak membedakan antara laki-laki dan perempuan dalam keutamaan shaf pertama. Namun, perlu dipahami bahwa dalam tuntunan syariat, shaf terbaik bagi laki-laki adalah yang terdepan, sedangkan bagi perempuan adalah yang paling belakang (jika mereka shalat di masjid). Ini sebagaimana hadits Abu Hurairah: "Sebaik-baik shaf laki-laki adalah yang terdepan, dan seburuk-buruknya adalah yang terakhir. Sebaik-baik shaf perempuan adalah yang terakhir, dan seburuk-buruknya adalah yang terdepan." (HR. Muslim)
- Keutamaan ini mencakup seluruh barisan pertama — Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhus Shalihin menjelaskan bahwa keutamaan shaf pertama tidak hanya untuk satu orang, tetapi untuk seluruh jamaah yang mengisi shaf tersebut. Karena itu, hendaknya seseorang bersemangat mengisi shaf pertama dari sisi kanan, karena ada keutamaan tambahan bagi siapa yang berada di sisi kanan imam.
- Bukan berarti shaf kedua tidak mulia — Keutamaan shaf pertama tidak menafikan keutamaan shaf-shaf setelahnya. Namun, derajatnya semakin berkurang sesuai jauhnya dari imam. Ini sebagaimana disebutkan dalam hadits: "Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada shaf-shaf yang pertama." Dan dalam riwayat lain: "Dan shaf kedua juga demikian."
- Hikmah keutamaan shaf pertama — Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Bahjatul Qulubil Abrar menyebutkan bahwa hikmahnya adalah karena orang yang berada di shaf pertama lebih awal hadir ke masjid, lebih dekat kepada imam, lebih fokus dalam shalat, dan lebih sempurna dalam mengikuti gerakan imam.
- Peringatan bagi yang meremehkan shaf pertama — Para ulama menegaskan bahwa keutamaan ini adalah rahmat dari Allah, dan seseorang hendaknya tidak meremehkannya. Imam Ahmad bin Hanbal dalam Al-Musnad meriwayatkan bahwa para sahabat sangat bersemangat mengisi shaf pertama, bahkan mereka saling mendahului untuk mendapatkannya.
Story Telling
Dahulu, para sahabat radhiyallahu 'anhum sangat bersemangat dalam mengisi shaf pertama. Diriwayatkan bahwa 'Abdurrahman bin 'Awf radhiyallahu 'anhu — yang merupakan ayah dari perawi hadits ini — adalah salah seorang sahabat yang sangat menjaga shaf pertama. Beliau termasuk orang-orang yang pertama kali masuk Islam dan termasuk dalam kabar gembira masuk surga.
Para ulama menyebutkan bahwa dahulu ketika shalat berjamaah akan ditegakkan, para sahabat berebut untuk mengisi shaf pertama dengan cara yang penuh adab. Mereka tidak saling mendorong atau menyakiti, tetapi mereka bersegera hadir lebih awal ke masjid. Bahkan disebutkan bahwa di antara mereka ada yang datang ke masjid sejak sebelum adzan dikumandangkan hanya untuk mendapatkan shaf pertama.
Imam Al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya bahwa para sahabat apabila datang ke masjid, mereka mengisi shaf pertama terlebih dahulu, kemudian shaf kedua, dan seterusnya. Jika shaf pertama telah penuh, barulah mereka mengisi shaf berikutnya. Ini menunjukkan pemahaman mereka yang mendalam tentang keutamaan shaf pertama.
Kesimpulan Praktis
- Bersemangatlah hadir lebih awal ke masjid agar bisa mengisi shaf pertama, karena Allah dan malaikat-Nya bershalawat kepada penghuni shaf tersebut.
- Jika shaf pertama telah penuh, jangan memaksakan diri masuk ke dalamnya dengan menyakiti orang lain. Cukup isi shaf berikutnya dengan ikhlas, karena keutamaan tetap ada pada setiap shaf sesuai urutannya.
- Isi celah-celah yang kosong dalam shaf agar shaf menjadi rapat dan sempurna, karena syaitan masuk melalui celah-celah shaf yang renggang.
- Bagi perempuan, keutamaannya adalah pada shaf paling belakang, sebagaimana tuntunan syariat, karena lebih menutup aurat dan lebih jauh dari fitnah.
- Jangan lupa niatkan karena Allah dalam setiap amalan, termasuk dalam bersegera mengisi shaf pertama, agar tidak terjatuh pada riya' atau pamer.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.