Penjelasan Hadits Ibnu Majah No. 911 tentang Isyarat jari telunjuk saat tasyahud

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menerangkan bahwa ketika duduk dalam shalat (terutama saat tasyahud), Nabi ﷺ meletakkan tangan kanan beliau di atas paha kanan, lalu memberi isyarat dengan jari (yakni jari telunjuk). Isyarat ini merupakan bagian dari sunnah shalat yang diajarkan langsung oleh Nabi ﷺ dan dipraktikkan para sahabat serta salaf. Para ulama menjelaskan bahwa isyarat telunjuk dilakukan sejak awal tasyahud hingga salam, sebagai tanda tauhid dan keikhlasan kepada Allah.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam Sunan-nya, Kitab ash-Shalah, Bab Isyarat dalam Tasyahud, dari jalur Malik bin Numair Al-Khuza'i dari ayahnya. Sanadnya juga disebutkan oleh sebagian ulama sebagai hasan/maqbul dalam konteks syawahid (penguat), dan maknanya didukung banyak riwayat lain, seperti hadits Abdullah bin az-Zubair dan Abdullah bin Umar tentang isyarat telunjuk dalam tasyahud.

Dalil Al-Qur'an yang menjadi landasan tauhid dan keikhlasan dalam beribadah:

QS. Al-Bayyinah [98]: 5

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

Terjemahan: "Dan mereka tidak diperintahkan kecuali agar menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan agar mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus."

Ayat ini menunjukkan bahwa shalat harus dijalankan dengan ikhlas dan mengikuti tuntunan, termasuk dalam hal-hal detail seperti isyarat jari saat tasyahud.

Hadits pendukung yang masyhur tentang isyarat telunjuk:

Dari Abdullah bin az-Zubair radhiyallahu 'anhuma, ia menyebutkan bahwa Nabi ﷺ ketika duduk tasyahud meletakkan tangan kanan di paha kanan, tangan kiri di paha kiri, lalu menunjuk dengan telunjuk dan meletakkan jempol di atas jari tengah, serta mengarahkan pandangan ke telunjuk tersebut. (Diriwayatkan Muslim bin al-Hajjaj dalam Shahih Muslim, dan disebutkan pula oleh Abu Dawud as-Sijistani).

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari dan Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa isyarat telunjuk ini disunnahkan dan dilakukan saat berdoa dalam tasyahud, sebagai simbol keesaan Allah.

Penjelasan Rinci

Hadits Malik bin Numair Al-Khuza'i ini secara ringkas menggambarkan posisi tangan Nabi ﷺ saat shalat: tangan kanan diletakkan di atas paha kanan, dan beliau memberi isyarat dengan jari. Dalam riwayat-riwayat lain, jari yang dimaksud adalah jari telunjuk tangan kanan.

Imam an-Nawawi dalam Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa disunnahkan bagi orang yang shalat untuk menggenggam jari-jari tangan kanan (selain telunjuk), lalu mengangkat telunjuk ketika berdoa dalam tasyahud, dan tidak menggerak-gerakkannya terus-menerus. Pendapat ini beliau sandarkan pada hadits Ibnu az-Zubair dan Ibnu Umar.

Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Zad al-Ma'ad menyebutkan bahwa Nabi ﷺ mengangkat telunjuknya dan menggerakkannya ketika berdoa, dan beliau mengarahkan pandangan ke arah telunjuk tersebut. Ibnu Qayyim menegaskan bahwa isyarat ini mengandung makna tauhid: "Allah itu satu", dan dilakukan sepanjang tasyahud.

Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Fathul Bari (syarah hadits, bukan Fathul Bari-nya Ibnu Hajar) menyebutkan bahwa isyarat telunjuk adalah bentuk pengagungan dan penghadapan hati kepada Allah saat berdoa.

Ibnu Taymiyyah dalam Majmu' al-Fatawa menegaskan bahwa mengangkat telunjuk saat tasyahud adalah sunnah yang tetap, dan tidak ada dalil yang melarangnya. Beliau juga menjelaskan bahwa isyarat ini bukan sekadar gerakan fisik, tetapi mengandung makna tauhid dan ikhlas.

Perbedaan pendapat di kalangan ulama daftar:

  • Sebagian ulama (seperti Imam an-Nawawi dan Ibnu Hajar) berpendapat telunjuk diangkat saat menyebut nama Allah dalam tasyahud, dan tidak digerakkan terus-menerus.
  • Sebagian lain (seperti Ibnu Qayyim dan sebagian riwayat dari Imam Ahmad bin Hanbal) membolehkan menggerakkan telunjuk saat berdoa, berdasarkan hadits yang menyebut "menggerakkannya".
  • Imam asy-Syafi'i dalam Al-Umm menyebutkan bahwa isyarat telunjuk dilakukan saat tasyahud, dan beliau memilih tidak menggerakkannya terus-menerus.

Yang paling kuat menurut dalil adalah: telunjuk diangkat sejak awal tasyahud hingga salam, diarahkan ke kiblat, dan digerakkan saat berdoa (sesuai hadits Ibnu Umar dan Ibnu az-Zubair), sebagaimana dikuatkan oleh Ibnu Qayyim dan Ibnu Taymiyyah.

Story Telling

Diceritakan oleh Abdullah bin az-Zubair radhiyallahu 'anhuma — sebagaimana diriwayatkan Muslim bin al-Hajjaj dalam Shahih Muslim — bahwa ketika Nabi ﷺ duduk tasyahud, beliau meletakkan tangan kanan di paha kanan, tangan kiri di paha kiri, lalu menunjuk dengan telunjuk, meletakkan jempol di atas jari tengah, dan mengarahkan pandangan ke telunjuk tersebut. Beliau bersabda: "Demikianlah isyarat tauhid."

Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma juga meriwayatkan bahwa beliau melihat Nabi ﷺ mengangkat telunjuknya dan menggerakkannya saat berdoa dalam tasyahud. Para sahabat pun mempraktikkan hal ini, dan generasi salaf seperti Al-Hasan al-Bashri, Sa'id bin al-Musayyib, dan Muhammad bin Sirin mengajarkannya kepada murid-murid mereka.

Hikmahnya: isyarat telunjuk bukan sekadar gerakan, tetapi pengingat bahwa dalam shalat, hati dan jari kita menunjuk kepada satu Tuhan — Allah ﷻ.

Kesimpulan Praktis

  1. Saat duduk tasyahud, letakkan tangan kanan di paha kanan, tangan kiri di paha kiri.
  2. Genggam jari-jari tangan kanan, lalu angkat telunjuk sebagai isyarat tauhid.
  3. Arahkan pandangan ke telunjuk, dan gerakkan saat berdoa (sesuai riwayat Ibnu Umar).
  4. Lakukan sejak awal tasyahud hingga salam, dengan hati yang khusyuk dan ikhlas.
  5. Jangan berlebihan atau menggerakkan terus-menerus tanpa kebutuhan; ikuti sunnah dengan tenang.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?