Penjelasan Hadits Ibnu Majah No. 9 tentang Kelompok yang menang tetap teguh hingga kiamat

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan bahwa hingga hari Kiamat akan selalu ada sekelompok dari umat Nabi ﷺ yang teguh di atas kebenaran, menang dan tidak terpengaruh oleh orang yang merendahkan atau membela mereka. Mu'awiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu 'anhu menyampaikan hadits ini dalam khutbahnya untuk mengingatkan pentingnya berpegang pada sunnah dan keberadaan ulama. Hadits ini menjadi dasar keyakinan Ahlus Sunnah bahwa kebenaran akan selalu ada dan dijaga Allah hingga akhir zaman.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang relevan:

QS. Al-Mu'minun [23]: 71

وَلَوِ اتَّبَعَ الْحَقُّ أَهْوَاءَهُمْ لَفَسَدَتِ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ وَمَنْ فِيهِنَّ ۚ بَلْ أَتَيْنَاهُم بِذِكْرِهِمْ فَهُمْ عَن ذِكْرِهِم مُّعْرِضُونَ

Terjemahan: "Dan seandainya kebenaran itu menuruti keinginan mereka, pasti binasalah langit dan bumi serta semua yang ada di dalamnya. Sebenarnya Kami telah memberi mereka peringatan (Al-Qur'an), tetapi mereka berpaling dari peringatan itu."

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam Sunan-nya, Kitab Pendahuluan, Bab Mengikuti Sunnah Rasulullah ﷺ, no. 9. Sanadnya melalui 'Amr bin Syu'aib dari ayahnya (Syu'aib bin Muhammad) dari kakeknya (Abdullah bin 'Amr bin al-'Ash radhiyallahu 'anhu).

Hadits ini juga memiliki syawahid (penguat) yang sangat kuat, di antaranya:

Dari Mu'awiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu 'anhu, Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan:

لَا يَزَالُ مِنْ أُمَّتِي أُمَّةٌ قَائِمَةٌ بِأَمْرِ اللَّهِ، لَا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ وَلَا مَنْ خَالَفَهُمْ، حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللَّهِ وَهُمْ عَلَى ذَلِكَ

Terjemahan: "Akan senantiasa ada sekelompok dari umatku yang tegak menegakkan perintah Allah; tidak akan membahayakan mereka orang yang merendahkan mereka dan tidak pula orang yang menyelisihi mereka, hingga datang keputusan Allah (Kiamat) sedangkan mereka tetap dalam keadaan demikian." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Kaitan dengan ulama:

  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa yang dimaksud "thaifah" (kelompok) adalah ahlul hadits dan ahlul ilmu yang menegakkan sunnah, sebagaimana disebutkan dalam banyak riwayat.
  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyatakan bahwa kelompok ini tidak harus berada di satu tempat, tetapi tersebar di berbagai negeri, dan mereka adalah orang-orang yang berpegang teguh pada sunnah serta ilmu.
  • Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan bahwa makna "zhahirun" (menang) adalah menang dengan hujjah (dalil) dan ilmu, bukan selalu dengan kekuatan fisik.

Penjelasan Rinci

Makna umum hadits:

Hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting:

  1. Keberadaan kelompok yang teguh di atas kebenaran — Nabi ﷺ mengabarkan bahwa hingga Kiamat akan selalu ada sekelompok umat Islam yang teguh di atas agama Allah. Mereka tidak terpengaruh oleh orang yang meninggalkan atau memusuhi mereka.
  2. "Zhahirun 'alan-nas" (menang atas manusia) — Para ulama berbeda pendapat dalam memaknai "menang" di sini:
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa kemenangan ini bisa berupa kemenangan hujjah (dalil) — yaitu mereka unggul dalam ilmu dan argumen.
  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Muslim menjelaskan bahwa mereka menang dengan kekuatan dan hujjah secara bersamaan, tergantung kondisi.
  • Ibnu Taymiyyah dalam Majmu' al-Fatawa menegaskan bahwa kelompok ini adalah ahlul ilmu dan ahlus sunnah yang senantiasa ada di setiap zaman.
  1. "La yubalun" (tidak peduli) — Mereka tidak menghiraukan orang yang merendahkan atau membela mereka, karena tujuan mereka adalah ridha Allah, bukan pujian manusia.

Pemahaman ulama daftar:

  • Al-Hasan al-Bashri (Tabi'in) menyatakan bahwa kelompok ini adalah ahlus sunnah wal jama'ah yang berpegang pada sunnah Nabi ﷺ dan menjauhi bid'ah.
  • Sufyan ats-Tsauri berkata: "Jika engkau melihat seseorang berpegang pada sunnah, maka ketahuilah ia adalah orang yang benar, karena sunnah adalah kebenaran yang nyata."
  • Abdullah bin al-Mubarak menegaskan bahwa kelompok yang dimaksud adalah ahlul hadits — orang-orang yang mempelajari, mengamalkan, dan menyebarkan hadits Nabi ﷺ.
  • Imam Ahmad bin Hanbal ketika ditanya tentang kelompok ini, beliau menjawab: "Jika mereka bukan ahlul hadits, maka aku tidak tahu siapa mereka."
  • Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Ighatsatul Lahfan menjelaskan bahwa kelompok ini adalah ahlul ilmu dan iman yang senantiasa ada hingga Kiamat, meskipun jumlahnya sedikit.
  • Syeikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam tafsirnya menyebutkan bahwa kelompok ini adalah orang-orang yang menegakkan tauhid dan sunnah, dan mereka akan selalu ada hingga hari Kiamat.

Perbedaan pendapat:

Sebagian ulama memahami "thaifah" sebagai kelompok fisik (seperti pasukan yang berjihad), sebagian memahami sebagai kelompok ilmu (ulama dan penuntut ilmu). Namun, jumhur ulama (mayoritas) dari daftar yang disebutkan — seperti Ibnu Hajar, an-Nawawi, Ibnu Taymiyyah, dan Ibnu Qayyim — menguatkan bahwa yang dimaksud adalah ahlul ilmu dan sunnah, karena merekalah yang menegakkan hujjah dan menjaga agama.

Yang paling kuat menurut dalil adalah pendapat yang menggabungkan keduanya: mereka adalah ahlul ilmu yang menegakkan sunnah, dan terkadang Allah memberikan kemenangan fisik kepada mereka sesuai kehendak-Nya.

Story Telling

Kisah Mu'awiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu 'anhu:

Mu'awiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu 'anhu adalah salah satu sahabat Nabi ﷺ yang mulia, penulis wahyu, dan khalifah kaum muslimin. Beliau dikenal sebagai pemimpin yang cerdas, penyantun, dan sangat memperhatikan ilmu.

Suatu ketika, beliau berdiri di mimbar untuk berkhutbah di hadapan manusia. Beliau bertanya dengan suara lantang: "Ayna 'ulama'ukum? Ayna 'ulama'ukum?" (Di mana para ulama kalian? Di mana para ulama kalian?)

Pertanyaan ini bukan sekadar retoris, tetapi untuk mengingatkan bahwa keberadaan ulama adalah penjaga agama. Beliau lalu menyampaikan hadits yang beliau dengar langsung dari Rasulullah ﷺ tentang kelompok yang selalu menang hingga Kiamat.

Hikmah dari kisah ini:

  • Mu'awiyah radhiyallahu 'anhu menunjukkan kepeduliannya terhadap ulama dan pentingnya keberadaan mereka.
  • Beliau menyampaikan hadits ini untuk menguatkan umat agar tidak putus asa ketika menghadapi ujian.
  • Ini menunjukkan bahwa menyampaikan ilmu di mimbar adalah sunnah para sahabat.

Kisah Imam Ahmad bin Hanbal:

Ketika Imam Ahmad bin Hanbal ditanya tentang kelompok yang disebutkan dalam hadits ini, beliau menjawab dengan tegas: "Jika mereka bukan ahlul hadits, maka aku tidak tahu siapa mereka." (Disebutkan oleh Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Syarh Hadits Ma Syadda Allahu 'ala Ahlil Bid'ah).

Ini menunjukkan bahwa ahlul hadits — orang-orang yang mempelajari, mengamalkan, dan menyebarkan sunnah Nabi ﷺ — adalah penjaga agama yang dijanjikan kemenangan oleh Allah.

Kesimpulan Praktis

  1. Yakinlah bahwa kebenaran akan selalu ada — Hingga Kiamat, akan selalu ada kelompok yang teguh di atas sunnah Nabi ﷺ, meskipun jumlahnya sedikit atau dianggap lemah oleh manusia.
  2. Berpeganglah pada ilmu dan sunnah — Jadilah bagian dari kelompok yang disebutkan dalam hadits ini dengan cara mempelajari Al-Qur'an, hadits, dan pemahaman salafus shalih.
  3. Jangan terpengaruh pujian atau celaan manusia — Fokuslah pada ridha Allah, bukan pada pengakuan manusia.
  4. Hormati dan dukunglah ulama — Sebagaimana Mu'awiyah radhiyallahu 'anhu mengingatkan pentingnya keberadaan ulama, kita pun harus mencintai, menghormati, dan mendukung ulama Ahlus Sunnah.
  5. Jangan putus asa — Meskipun ujian dan fitnah datang silih berganti, janji Allah dalam hadits ini adalah kabar gembira bahwa kebenaran akan selalu ada.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan ini tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?