Penjelasan Hadits Ibnu Majah No. 834 tentang Bacaan Nabi saat shalat Isya

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ pernah membaca surah At-Tin (وَالتِّينِ وَالزَّيْتُونِ) dalam shalat Isya, dan sahabat Al-Bara' bin 'Azib mendengarnya langsung. Ini menjadi dalil bahwa bacaan dalam shalat Isya tidak harus panjang, dan boleh membaca surah pendek seperti At-Tin. Hadits ini juga menunjukkan sunnahnya membaca dengan suara jelas (jahr) pada shalat Isya.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits utama (Sunan Ibnu Majah no. 834, Kitab ash-Shalah, Bab al-Qira'ah fi al-'Isya'):

Dari Al-Bara' bin 'Azib رضي الله عنه bahwa ia shalat Isya bersama Nabi ﷺ, lalu ia berkata: "Aku mendengar beliau membaca wat-tīni waz-zaitūn."

Hadits ini juga diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim dalam kitab Shahih keduanya (dari jalur yang sama, Al-Bara' bin 'Azib), sehingga derajatnya shahih dan disepakati.

Ayat yang dibaca Nabi ﷺ — QS. At-Tin [95]: 1

وَالتِّينِ وَالزَّيْتُونِ

Terjemahan: "Demi buah tin dan buah zaitun."

Kaitan ulama:

  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menjadi dalil bolehnya membaca surah pendek dalam shalat Isya, dan bahwa bacaan Nabi ﷺ dalam shalat jahr (Isya, Maghrib, Subuh, Jumat) didengar langsung oleh makmum.
  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyebutkan bahwa para ulama sepakat shalat Isya termasuk shalat jahr (bacaan dikeraskan), dan hadits Al-Bara' ini salah satu dalilnya.
  • Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Zadul Ma'ad menegaskan bahwa bacaan Nabi ﷺ dalam shalat Isya bervariasi: kadang panjang seperti surah Al-A'la dan Ath-Thariq, kadang pendek seperti At-Tin, sesuai keadaan dan maslahat jamaah.

Penjelasan Rinci

1. Shalat Isya adalah shalat jahr.

Para ulama dari daftar — seperti Imam asy-Syafi'i, Imam Ahmad, dan Imam Malik — sepakat bahwa shalat Isya dibaca dengan suara keras pada dua rakaat pertama. Dalilnya antara lain hadits Al-Bara' bin 'Azib ini, di mana ia mendengar langsung bacaan Nabi ﷺ. Ibnu Hajar menegaskan bahwa mendengar bacaan beliau menunjukkan bacaan itu dikeraskan, bukan sirr (dilirihkan).

2. Bacaan Nabi ﷺ dalam shalat Isya bervariasi.

  • Kadang beliau membaca surah panjang, sebagaimana hadits Jabir bin Samurah (riwayat Muslim): Nabi ﷺ membaca was-syamsi wa dhuhāhā dan surah-surah sejenisnya.
  • Kadang beliau membaca surah pendek, sebagaimana hadits Al-Bara' ini (At-Tin).

Ibn Qayyim menyimpulkan bahwa variasi ini menunjukkan keluasan (sunnah taysir) dan menyesuaikan keadaan makmum. Ini juga menjadi bantahan terhadap sikap memberatkan diri atau memaksa bacaan panjang setiap waktu.

3. Hikmah membaca surah pendek dalam Isya.

Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa shalat Isya dilakukan di waktu malam ketika orang sudah lelah setelah aktivitas siang. Karena itu, syariat memberi kelonggaran untuk membaca surah pendek, agar jamaah tidak berat dan tetap khusyuk. Ini selaras dengan hadits Nabi ﷺ: "Jika salah seorang dari kalian mengimami manusia, hendaklah ia meringkas, karena di antara mereka ada yang lemah, sakit, dan memiliki keperluan." (HR. Al-Bukhari & Muslim, dari Abu Hurairah).

4. Surah At-Tin dan maknanya.

Surah At-Tin berisi sumpah Allah dengan buah tin, zaitun, dan negeri yang aman (Makkah), lalu menegaskan kesempurnaan penciptaan manusia, dan bahwa manusia bisa jatuh serendah-rendahnya kecuali orang beriman dan beramal saleh. Ibn Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa surah ini menegaskan kemuliaan manusia yang diciptakan dalam bentuk terbaik, dan peringatan agar tidak terjatuh ke derajat terendah karena meninggalkan iman dan amal saleh. Membaca surah ini dalam shalat mengingatkan makmum pada tujuan hidup.

5. Perbedaan pendapat ulama daftar.

  • Imam asy-Syafi'i dan Imam Ahmad: bacaan dalam Isya boleh panjang atau pendek, tidak ada batas minimal surah tertentu; yang penting sah dan sesuai sunnah.
  • Imam Abu Hanifah: menetapkan ukuran tertentu (misalnya pada dua rakaat pertama sekitar 20 ayat), namun tidak melarang membaca surah pendek.
  • Imam Malik: menganjurkan bacaan pertengahan (tidak terlalu panjang, tidak terlalu pendek), namun tidak mengingkari bacaan pendek.

Yang paling kuat menurut dalil adalah pendapat yang membolehkan variasi, karena Nabi ﷺ sendiri mempraktikkan keduanya, dan syariat memudahkan.

Story Telling

Al-Bara' bin 'Azib رضي الله عنه adalah sahabat yang banyak meriwayatkan hadits dan dikenal sebagai ahli qira'ah. Suatu malam, ia shalat Isya di belakang Nabi ﷺ. Dalam kegelapan malam, ia mendengar suara lembut namun jelas dari lisan Nabi ﷺ membaca:

وَالتِّينِ وَالزَّيْتُونِ

Ia pun menghafal dan meriwayatkan bacaan itu kepada umat setelahnya. Dari kisah ini, para ulama seperti Ibnu Hajar dan an-Nawawi mengambil pelajaran bahwa sahabat sangat memperhatikan gerak-gerik Nabi ﷺ dalam ibadah, lalu menyampaikannya dengan amanah. Inilah salah satu sebab sunnah terjaga hingga kini — karena kecintaan dan ketelitian para sahabat dalam meneladani Nabi ﷺ.

Kesimpulan Praktis

  1. Shalat Isya adalah shalat jahr — bacaan dikeraskan pada dua rakaat pertama.
  2. Boleh membaca surah pendek seperti At-Tin dalam shalat Isya; tidak harus panjang.
  3. Variasi bacaan Nabi ﷺ menunjukkan kelonggaran dan kasih sayang kepada makmum.
  4. Imam hendaknya memperhatikan keadaan jamaah, tidak memberatkan.
  5. Makmum hendaknya mendengarkan bacaan imam dengan khusyuk dan tenang.
  6. Surah At-Tin mengandung pelajaran tentang kemuliaan manusia dan pentingnya iman serta amal saleh.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?