Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menunjukkan bahwa sunnah Nabi ﷺ dalam shalat Dhuhur adalah memperpanjang bacaan pada dua rakaat pertama dan meringankan pada dua rakaat terakhir, serta meringankan bacaan pada shalat Ashar. Ini adalah petunjuk praktis agar kita tidak menyamakan semua rakaat dalam hal panjang bacaan, melainkan mengikuti tuntunan beliau ﷺ.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah dalam Sunan-nya, Kitab Pelaksanaan Shalat dan Sunnahnya, Bab Bacaan dalam Shalat Dhuhur dan Ashar, nomor 827. Berikut teks haditsnya:
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ، حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ الْحَنَفِيُّ، حَدَّثَنَا الضَّحَّاكُ بْنُ عُثْمَانَ، حَدَّثَنِي بُكَيْرُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الأَشَجِّ، عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ يَسَارٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ مَا رَأَيْتُ أَحَدًا أَشْبَهَ صَلاَةً بِرَسُولِ اللَّهِ ـ ﷺ ـ مِنْ فُلاَنٍ . قَالَ وَكَانَ يُطِيلُ الأُولَيَيْنِ مِنَ الظُّهْرِ وَيُخَفِّفُ الأُخْرَيَيْنِ وَيُخَفِّفُ الْعَصْرَ .
Artinya: "Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: 'Aku tidak pernah melihat seseorang yang shalatnya lebih mirip dengan shalat Rasulullah ﷺ daripada si Fulan. Dia biasa memperpanjang dua rakaat pertama dari Dhuhur dan memperpendek dua rakaat terakhir, serta memperpendek Ashar.'"
Hadits ini juga memiliki penguat (syawahid) dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim dari riwayat Abu Qatadah radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi ﷺ membaca surat al-Fatihah dan satu surat pada dua rakaat pertama shalat Dhuhur, dan membaca al-Fatihah saja pada dua rakaat terakhir. Ini menunjukkan kesesuaian makna dengan hadits di atas.
Penjelasan Rinci
Para ulama dari kalangan Ahlus Sunnah menjelaskan bahwa hadits ini mengandung bimbingan Nabi ﷺ dalam mengatur bacaan shalat sesuai dengan waktunya. Berikut penjelasan beberapa ulama dari daftar rujukan:
1. Imam asy-Syafi'i dalam al-Umm menjelaskan bahwa sunnah shalat Dhuhur adalah memanjangkan bacaan pada dua rakaat pertama, dan meringankan pada dua rakaat terakhir. Beliau berdalil dengan hadits Abu Qatadah yang diriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim. Ini menunjukkan bahwa bacaan surat setelah al-Fatihah hanya dilakukan pada dua rakaat pertama, sedangkan dua rakaat terakhir cukup dengan al-Fatihah saja.
2. Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa para ulama sepakat (ijma') tentang disunnahkannya memperpanjang bacaan pada rakaat pertama dan kedua dibandingkan rakaat ketiga dan keempat dalam shalat Dhuhur dan Ashar. Beliau menukil kesepakatan ini dari para ulama madzhab.
3. Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari menjelaskan bahwa hikmah memperpanjang dua rakaat pertama adalah karena pada awal shalat, hati dan konsentrasi seseorang masih kuat dan segar. Adapun pada rakaat terakhir, biasanya sudah mulai lelah, sehingga diringankan agar tidak memberatkan.
4. Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam penjelasannya tentang fiqih shalat menegaskan bahwa mengikuti sunnah dalam hal ini adalah lebih utama daripada menyamakan semua rakaat. Karena Nabi ﷺ sendiri membedakan antara rakaat awal dan akhir.
5. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh al-Mumti' menjelaskan bahwa ukuran perpanjangan bacaan pada dua rakaat pertama Dhuhur adalah sekitar bacaan surat as-Sajdah atau yang semisal, sebagaimana disebutkan dalam hadits-hadits shahih. Adapun Ashar, bacaannya lebih pendek dari Dhuhur.
Adapun tentang ungkapan Abu Hurairah "daripada si Fulan" — para ulama berbeda pendapat tentang siapa orang yang dimaksud. Sebagian mengatakan ia adalah Utsman bin Affan, dan sebagian lain mengatakan ia adalah sahabat lain. Namun yang penting adalah pujian Abu Hurairah terhadap orang tersebut karena keteladanannya yang baik dalam mengikuti shalat Nabi ﷺ.
Story Telling
Diriwayatkan dari Abu Qatadah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: "Nabi ﷺ biasa membaca pada kami dalam shalat Dhuhur pada dua rakaat pertama, dan beliau memperpanjang bacaan pada rakaat pertama." (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat lain, Abu Qatadah menceritakan bahwa beliau ﷺ membaca al-Fatihah dan satu surat pada dua rakaat pertama, dan membaca al-Fatihah saja pada dua rakaat terakhir. Beliau juga memperdengarkan ayat-ayat tertentu kepada para makmum, dan memperpanjang berdirinya pada rakaat pertama.
Kisah ini menunjukkan perhatian besar Nabi ﷺ terhadap kualitas shalat, bukan sekadar kuantitas. Beliau mengatur bacaan sedemikian rupa agar shalat tidak terasa berat, namun tetap khusyuk dan sempurna. Ini adalah pelajaran bagi kita agar tidak berlebihan dalam beribadah hingga memberatkan diri, namun juga tidak meremehkan hingga kehilangan kekhusyukan.
Kesimpulan Praktis
- Perhatikan perbedaan rakaat — Dalam shalat Dhuhur, sunnahnya memperpanjang bacaan pada dua rakaat pertama dan meringankan pada dua rakaat terakhir.
- Ashar lebih ringan dari Dhuhur — Bacaan pada shalat Ashar lebih pendek dibandingkan Dhuhur, sebagaimana disebutkan dalam hadits-hadits shahih.
- Jangan memberatkan diri — Islam mengajarkan keseimbangan. Ibadah yang dilakukan secara konsisten meski ringan lebih dicintai Allah daripada yang berat namun tidak istiqamah.
- Teladani Nabi ﷺ dalam semua detail shalat — Bukan hanya rukun dan syaratnya, tetapi juga cara, kadar, dan adabnya.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.